Ketika bel pulang berbunyi, aku segera bangkit dari tempat duduk untuk menghampiri Keenan yang masih di kursinya. “Keenan, ikut gue sama lain yuk?” “Mau ke mana?” tanyanya tanpa menoleh karena tengah sibuk memasukan barang-barang ke dalam ransel. “Udah, pokoknya ikut aja.” timpal Adit yang kini berdiri di sampingku. Seusai menyelesaikan berkemas, Keenan menengadahkan kepalanya untuk menatap kami satu persatu. “Kalian nungguin gue?” Kami mengangguk dengan serempak, “Ya lo pikir dari tadi kita di sini tuh ngapain?” ujarku kemudian. Keenan mulai menatap kami dengan tatapan herannya, “Emangnya mau ada apaan sih?” “Ah bawel, kebanyakan tanya.” Aku menarik tangan Keenan untuk segera bangkit dari tempat duduknya lalu mengikuti kami. Tak lama kemudian, langkahku terhenti. Adit,

