CEO - 13

1021 Kata
"Bener kan, aku bilang. Cowokmu ada main sama Mita." Novi tak percaya begitu saja dengan ucapan Rusna. Teman satu leteng itu bisa saja berbohong. Tapi, melihat Pras tertawa berdua dengan Mita, seolah menertawakan hal paling lucu. Hatinya mau tak mau mulai tersulut. "Masa sih mereka ada main?" Rusna menyeringai. "Lihat aja sendiri. Cowokku juga gitu kemarin sama Mita. Malah aku mergokin sendiri, mereka ngumpul di rumah Gery. Pas aku dateng, Pras malah sok akrab sama Mita. Pras sama genknya, ngumpul. Dan Mita satu-satunya cewek di sana. Kamu pikir aja mereka ngapain." Novi menggeleng. Ia ingin menyangkal. "Tapi, kenapa Mita? Dia lebih cantik dari aku. Khayal banget Pras berpaling ke Mita." "Alah ... kamu masa nggak tahu sih, Nov. Ibunya Mita kan juga gitu kerjaannya. Godain cowok orang. Wedokan gatel yo ngunu kuwi. Embok karo anak podo ae." Novi tampak berpikir. Gosip soal ibu Mita memang sudah menyebar luas. Hasutan Rusna pun menambah bara di dadanya semakin berkobar. "Pasti Mita yang godain Pras. Dia juga godain cowokmu. Dasar ya, anak itu. Nggak cantik aja belagu. Pakek pelet apa dia sih!" Iblis dalam hati Rusna bersorak. "Nggak cuma cowok kita. Rudi, Imron, Irfan, pokoknya semua genk Pras semua digodain Mita. Kita kasih tahu sama cewek-cewek mereka. Biar pada tahu kelakuan cowok mereka yang dipelet Mita." Novi pun setuju. Ia dan Rusna lantas memberitahu pacar-pacar genk Pras, yang dilihat Rusna juga dekat dengan Mita. Dengan aba-aba, Novi mengajak para korban—yang cowoknya digoda Mita—menemui gadis itu di kelasnya. Tepat saat Mita hendak keluar kelas menuju kantin, ia dihadang gerombolan iblis yang bersembunyi dalam jiwa anak-anak SMA labil. "Punya pelet apa sih kamu? Berani amat godian cowokku." "Cari gembel yang sama. Jangan mimpi jadi Cinderella." "Pantes kamu nempelin cowok orang. Emakmu juga gitu. Tukang rebut laki orang juga." "Cewek nggak bener!" "Tukang rebut!" "Jambak dia!" "Enggak. Aku ... akh! "Hajar aja!" *** Jarum panjang menunjukkan angka sebelas. Sementara jarum pendek di angka tiga. Napas Mita memburu, bahkan keringatnya bercucuran. Sambil menyeka kasar, ia memandangi teman sekamar yang tidur di sampingnya. Mimpi itu lagi. Mita sudah jarang memimpikan masa lalunya. Pertemuan dengan Pras seminggu yang lalu, rupanya masih membekas. Ingatannya melayang pada luka batin juga fisik yang ia alami. Bagaimana ia dijambak, ditendang, baju ditarik, hingga kata ampun yang ia ucapkan pun tak dianggap sama sekali. Tak ada yang membela, karena semua temannya lebih percaya pada ucapan geng Novi. Dengan pintu kelas tertutup, teman sekelas dipaksa keluar, ia dihakimi tanpa bisa membela. Sungguh ironis, nasibnya kala itu. Kepopuleran rupanya menentukan kadar kepercayaan. Semua mulut dibungkam oleh geng Novi, dengan tak melaporkan kejadian yang ia alami. Sementara Mita, memilih kabur ke toilet hingga jam pulang datang. Menangis dalam diam, hanya itu yang bisa ia lakukan. Kadang ia ingin menyalahkan ibunya. Haruskan kesalahan ibunya, berimbas pada dirinya. Semua orang memukul rata perbuatan satu keluarga. Siapa yang berbuat, siapa pula yang ikut menderita. Tanpa peduli kebenarannya. Apa ibunya yang berbuat nista, ia juga demikian? Kenapa publik hanya memandang satu sudut saja? Setelah reda, Mita berdiri. Ia turun ke kamar mandi sekadar membasuh wajahnya. Begitu selesai, ia memilih duduk di teras depan kamar. Karena berada di lantai atas, otomatis angin berembus lebih kencang menerpa wajah. Rasa dingin menyergap. Diembusnya napas berkali-kali. Menatap gemintang, pikirannya mengelana. Kemudian teringat sesuatu. Ia mengambil ponsel di kamar. Membawanya memadu malam yang mulai beranjak pulang. Suara kokok ayam terdengar. Pun dengan suara panggilan yang tiba-tiba menghampiri ponselnya. Eka calling... "Hem?" "Kok udah bangun, Beb. Tahu aja gue mau telpon." "Udah bangun dari tadi." "Awh, kita samaan banget. Jangan-jangan kita emang jodoh ya, Beb." "Ngarang ah. Aku tadi mimpi jelek, terus kebangun." "Bukan mimpiin gue kan? Kalau gue yang di mimpi lo, udah pasti bahagia." "Apaan sih. Gaje banget. Mimpiin kamu malah bakal lebih suram." "Lo belum nyoba sih. Kalau udah mimpiin gue, emang bisa ngelawan. Lo kalau mimpi buruk ya, Mit. Bener sih nggak bisa ngelawan. Lo harus nerima dijajah dalam mimpi buruk lo. Tapi lo bisa cepet-cepet lupain pas bangun. Sementara pas di dunia nyata dan ketemu hal buruk yang nikam lo, gue harap lo bisa ngelawan. Jangan takut, Beb. Melawan keburukan nggak bikin lo sembelit kok." Meski ia selalu mual dengan kenarsisan Eka, tapi Mita selalu suka cara laki-laki itu menghiburnya. Buktinya, ia sudah lupa dengan mimpi buruk yang ia alami. Berganti dengan obrolan kurang faedah, tapi amat menenangkan hati Mita yang terkoyak beberapa menit lalu. Obrolan yang mengundang tawa Mita, perihal Eka yang ngotot bercerita tentang usaha esnya yang semakin banyak pelanggan, mimpi punggungnya dijilat sapi tetangga Ryan, para pekerja yang menanyakan kabar Mita, beraknya yang bau karena habis makan bothok lamtoro , hingga ajakan makan Bisquwat di stan es coklat Eka. *** Eka pulang ke Jakarta, jadilah ia meminta bantuan Mita menjaga stan es cokelat. Ryan tidak bisa menggantikan, karena ia mengurusi pesanan kue bolu yang semakin banyak orderan. Kebanyakan pesanan acara; arisan, nikahan, pengajian, dan ulang tahun. Setelah diajari Eka beberapa menit saja, Mita sudah mahir meracik. Tiga hari tanpa Eka dan dilepas berjualan begitu saja, tak membuat Mita kebingungan. Ia menikmati kesibukan barunya. Pulang kuliah, ia langsung membuka stand. Pukul sepuluh pagi ia buka, hingga menjelang magrib. "Begini cara kamu deketin Mas Eka? Boleh juga sih. Sampek Mas Ryan juga percaya. Kayaknya dia mempan sama kepolosanmu. Kalau dia tahu gimana tingkahmu di belakangnya, yakin ... masih dikasih kepercayaan jagain bisnisnya? Dulu rebut cowok orang, siapa tahu sekarang rebut bisnis orang juga.” Suara itu mengusik Mita. Tanpa menoleh, ia sudah tahu siapa yang berbicara. "Aku nggak pernah rebut apa pun dari kamu. Sudah cukup tuduhanmu." Mita mulai mengangkat kepalanya. Menoleh sekilas, matanya bersibobrok dengan netra penuh amarah. "Oh ya, Pras kemarin nemuin aku. Dia ngajak aku kumpul. Kamu sendiri, diajak nggak? Eh, apa malah dah dilupain. Sama aku aja dia inget, kok sama kamu enggak?" Mita harus bisa melawan. Ia tak ingin terpuruk seperti dalam mimpinya, yang diam menerima tikaman kilas kelam masa lalu. Ini dunia nyata, waktu juga sudah bergerak maju. Saatnya ia berani bergerak juga. Setidaknya, ia mulai selangkah lebih depan memberi pukulan telak pada gadis yang mengepal tangannya erat. *leteng = genk atau temen deket *Perempuan gatal ya begitu. Ibu sama anaknya sama aja. _______________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN