Terik Jakarta tak menyurutkan tekad Eka yang tengah menjemur baju. Mumpung terik, dan ia berharap hari ini juga baju-baju yang akan dibawanya kembali ke Kediri bisa kering. Maklum, anak-anak Mama Emil ini sudah bisa mandiri. Apa-apa harus dikerjakan sendiri.
"Mas, nitip punyaku juga dong!" Itu suara Difa. Adik Eka yang dulu bak gentong, sudah mulai kehilangan lemak. Meski tak memanjang ke atas lagi, setidaknya tidak begitu bantet. Diet yang dilakukannya lumayan berhasil. Sayang, lemak di pipinya masih bandel beranjak pergi. Tak mengapa, toh Teman Tapi Ngangengin-nya juga suka sekali mencubiti gemas saat mereka bertemu.
"Apaan lo? Enak banget! Jemur sendiri."
Difa jelas kesal. Padahal ia hanya titip menjemur sehelai kaus berwarna putih dengan tulisan besar RINDUNYA DAFIN. Sengaja kaus itu ia cuci sendirian, takut kelunturan jika digabung dengan cucian kemarin.
"Kaus satu doang, Mas. Jemurin sekalian dong. Aku buru-buru nih. Dafin udah nunggu di depan."
Eka mencibir, "Pacaran aja lo, Dek. Tahu gue yang LDR-an. Tapi nggak nyiksa gue juga. Mana pakek pamer segala."
Difa terkekeh. Ia sedang libur semester, wajar jika temu kangen dengan sang TTN. Meski tak tahu mereka pantasnya jadi teman atau kekasih. Karena tak ada mukadimah sebagai bentuk keduanya menjalin kasih. Hanya berjalan seiring waktu saja.
"Makanya, cari istri, Mas. Udah nggak pantes cari pacar lagi. Biar nggak ngenes amat. Udah, aku berangkat dulu. Mau kangen-kangenan sama tiang bendera kesayangan!"
Kalau sudah begini, Eka bisa apa. Dilemparnya lagi celana kolor yang hendak ia jemur ke dalam timba. Nasib dilangkahi adik sendiri. Dia yang lahir duluan, kenapa adiknya yang dapat pasangan duluan juga. Eh tapi, kenapa Eka mendadak ingat Mita ya. Gadis itu kenapa tak peka dan membuka hati untuknya sih. Kan, usaha Eka dari yang main kode, sampai kerja nyata sudah ia lakukan. Kenapa belum berhasil juga. Ah, lebih baik ia menghubungi Mita saja setelah menyelesaikan jemuran, yang menyisakan celana kolor warna kuning bergambar pisang, kaus singlet warna putih dan pengaman segitiga warna cokelat.
***
Belasan panggilan tak terjawab dari Eka, membuat Mita mengernyit. Segitu tak dengarnyakah ia akan getaran ponsel yang sengaja dipasang dalam mode tersebut? Pikirannya mungkin sedang tak di tempat. Beberapa jam setelah kedatangan Novi yang menyerbu tiba-tiba, seolah ia masih merasakan debar ketakutan dan kecemasan. Ia memang terdengar melawan, sesungguhnya ada rasa cemas yang menyerang. Berbagai spekulasi membuat bergidik ngeri. Bagaimana jika Novi membalas pukulan telaknya?
"Mbak, es."
Suara pembeli membuyarkan lamunan Mita. Gadis yang menguncir rambutnya dengan tali warna biru itu bergegas melayani seorang remaja SMA.
Belum selesai meracik es coklat untuk pelanggan anak SMA, Mita dikejutkan dengan sapaan suara wanita. Tak pernah ia lupa pemilik suara tersebut, meski lara menggerogoti setiap waktu. "Awakmu bakul ngenean to tibake."
Mita mencoba fokus pada racikan es yang tinggal dituang ke dalam cup, dan mengabaikan pertanyaan bernada meremehkan tersebut. Selesai dengan pesanan, ia mengangsurkan sebungkus es. Tak lupa senyuman mengakhiri proses jual beli.
"Njenengan nopo, Buk?"(Anda beli apa, Bu?)
Rasa profesional coba ia tonjolkan. Mita berpikir positif, meski ia tak hamil juga. Bahwa wanita berambut separuh hitam dan separuh pirang buatan itu hendak membeli es. Bukan membeli gerobak milik Eka.
"Woh, tenan bakne. Kowe saiki bakul ngenekan to. Ra sekolah ye? Wes ra kuat bayar po piye. Bondone pakmu ae loh sepiro, gaya kuliah barang. Salahmu dewe, tak kon rabi karo Koderi ae ra gelem. Urepmu ra bakal koyok ngene." (Wah, benar ternyata. Kamu sekarang jual beginian. Nggak sekolah? Sudah tak mampu bayar ya. Harta bapakmu saja cuma seberapa, kok gaya mau kuliah. Salahmu sendiri, dulu tak suruh nikah dengan Koderi saja tak mau. Pasti hidupmu tidak akan seperti ini.)
Mita masih menahan amarah. Ia masih bisa bersifat sopan pada wanita yang dulu melahirkannya. Meski tak merawat dengan baik. Entah, masih pantas atau tidak ia sebut dengan panggilan paling bermakna tersebut. Ia sangsi akan sebutan mulia tersebut.
"Njenengan tumbas es rasa nopo, Buk?" Tak gentar. Mita mencoba menawarkan dagangannya. (Anda mau beli es rasa apa, Bu?)
"We ki ditakoki opo, jawabe opo. Bocah ra jangkep pancen. Ra duyan aku lek es gaweanmu. Wes, karepmu kunu bakul opo. Muleh aku." (Kamu ini ditanya apa, jawabnya apa. Memang anak nggak waras kamu itu. Nggak mau aku es buatanmu. Sudah, terserah mau jual apa. Aku pulang.)
Sepeninggal wanita itu, Mita terduduk lemas. Dadanya sesak. Ucapan apa pun yang keluar dari wanita itu, kini tak lagi semenyakitkan dulu. Kala sang Ayah masih bersamanya. Ia sudah kenyang dengan ucapan dan segala tingkah wanita tersebut. Pun dengan julukan yang Mita sandang karena tingkah polah wanita yang kini tengah bahagia di rumah suami barunya. Suami yang direbut dari teman arisan sendiri.
***
Kedatangan Eka tiba-tiba di sampingnya, jelas membuat Mita terkejut.
"Duh, Mbak Raisa kaget amat ada Mas CEO di mari. Syok banget gitu wajah lo, Mit!" Cengengesan, ciri khas Eka di tempang dan kondisi apa pun.
"Kok, udah balik. Bilangnya masih besok kamu datangnya?"
Jawaban Eka saat keduanya bertukar kabar tadi pagi memang seperti itu. Nyatanya, Eka malah sudah duduk di sampingnya.
"Kangen sama lo. Makanya gue buru-buru balik. Lo, kangen gue nggak nih." Iya.
"Enggak. Ngapain juga."
Eka mencebikkan bibir. Meski rasa rindunya tak berbalas, setidaknya ia senang bisa bertemu sang kekasih, kalau diterima. Ia memang ingin memberikan kejutan pada Mita, penasaran dengan reaksi apa yang ia terima. Rupanya biasa saja. Padahal Eka sudah berangan Mita akan mundur terkejut sampai jatuh terjerembap. Atau mimisan juga, karena menatap wajah rupawan Eka yang makin berkilau.
"Nggak asyik banget sih lo." Mita mengulas senyum. Ditepuknya pundak Eka. Seolah memintanya sabar.
"Lah, mintanya gimana? Nggak kangen masa aku bilang kangen. Paling kamu kangennya sama gerobak es. Tenang, udah aku jagain. Kan, aku rajin kasih laporan juga ke kamu."
"Iya. Gue tahu. Sekarang, lo pulang aja. Biar gue yang jaga."
Mita menggeleng. "Nggak. Aku temenin kamu aja. Lagian kamu juga baru dateng, mending kamu yang pulang istirahat.”
"Uluh ... perhatian anget sih, Beb. Jadi makin cinta kan kalo gini gue tu sama lo. Makin berpotensi buat gue gandeng ke pelaminan aja."
Mita tak berhenti tertawa dengan kelakar Eka. Hari-harinya sempat dirundung duka karena kedatangan masa lalu. Namun, begitu Eka datang ... seolah rasa sesak itu menguap.
"Apaan sih!"
"Eh, gue ada oleh-oleh buat lo. Mau dibuka sekarang apa ntar?"
Mita terlihat antusias. Sudah berapa lama juga ia mendapat oleh-oleh dari seseorang. Terakhir ia mendapat oleh-oleh adalah saat ayahnya masih sehat dan sering ke luar kota.
"Sekarang boleh deh. Kamu bawa apa?"
"Bener mau diterima sekarang? Buka jaket lo dulu dong."
Mita melotot kaget. "Ih, apaan sih pakek buka jaket segala."
"Jaket doang, Mit. Lo mikirnya jauh banget gue suruh buka kacamata kuda."
Eka terkekeh. Dicoleknya hidung Mita karena gemas. Tak mau kalah, Mita pun menepuk paha Eka. Keduanya malah asyik bercanda. Saling melempar cibiran gemas, diiringi gelak tawa.
"Tak kiro we ra doyan wong lanang. Tibake yo podo ae to, Nduk. Ngunu ae ngelokne aku gatel. Raimu ra iso ngapusi. Kowe ki podo karo aku." (Aku kira kamu tidak suka laki-laki. Ternyata sama saja. Gitu kok mengolokku ganjen. Wahahmu tidak bisa bohong. Kamu itu sama kayak aku.)
Seketika candaan Eka dan Mita terhenti. Eka sontak berdiri. Seulas senyum ia lempar ke arah wanita berambut setengah pirang. "Maaf, Bu. Tidak seharusnya Ibu menghakimi. "
__________