Sebungkus nasi yang tengah mengepul di hadapan Novi, ia hiraukan. Napasnya masih naik turun untuk diredakan. Setelah insiden yang mencengangkan barusan, Novi akhirnya bisa diredakan. Meski harus mengorbankan luka cakaran di pipi Eka, dan putusnya kancing baju Ryan.
"Awas aja kalau dia berani dateng lagi." Novi masih saja meracau. Marah-marah sambil memandangi pintu rumah yang terbuka. Memastikan bahwa orang yang ia benci sudah pergi.
"Nggak dia, nggak ibunya. Sama-sama pelakor. Sekali pelakor, tetep aja pelakor."
Eka masih tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Pikirannya mengkhawatirkan Mita, yang dijambak, didorong, bahkan hampir dicakar oleh Novi. Gadis yang sudah menjadi teman dekatnya itu tak menangis dan melawan sama sekali. Ia langsung pulang begitu Eka memintanya, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Ryan mendekat kemudian menepuk pundak adiknya. Begitu ia tahu ternyata adiknya sudah pulang dulu tanpa menunggu jemputannya, ia terpana luar biasa. Adiknya mengamuk. Eka kuwalahan. Beruntung Ryan segera bergabung melerai adiknya yang berlagak pemain semek don. "Kon lapo'o seh, Nov. Kerah karo arek wedok. Ngunu iku ora tahu Mas warahi. Dadi arek mbok seng apik."
Novi menoleh. "Arek koyok ngunu ra pantes diapiki, Mas. Sakjane umbaren ae aku kerah maeng."
"Wes, saiki maem disek."
Ryan merasa ia harus meninggalkan adiknya sendirian dulu agar tenang. Juga agar istirahat setelah perjalanan dari Surabaya. Melirik pada Eka, laki-laki berpipi bekas cakaran itu pun mengangguk paham. Keduanya pun keluar dari rumah, dan sama-sama berjalan ke tempat ibu-ibu yang tengah memasak. Dapur sebagai tempat produksi olahan mangga, tidak menjadi satu dengan rumah Ryan. Ia memanfaatkan bekas gudang kayu yang direnovasi sebagai tempat produksi. Letaknya di dekat rumah Ryan, tidak menempel pada rumah.
***
Mita tak menangis sama sekali saat Novi menumpahkan emosinya dengan makian dan jambakan. Ia akan menerimanya saja, sama seperti ia menerima semua perlakuan buruk dari teman masa sekolahnya dulu. Juga dari ibunya sendiri.
Itu hanya masa lalu, namun bekasnya masih saja terasa hingga sekarang. Rasa sakitnya sudah kebas. Sudah terlalu sering. Seperti itulah luka, begitu seringnya hingga tak lagi terasa perih. Masa SMA yang harusnya penuh tawa seperti kisah Milea, tak ia rasakan. Boro-boro merangkai romansa dan dibaperin Dilan, laki-laki yang mendekatinya tak lebih sekadar teman belaka. Teman-teman Mita masa SMA memang kebanyakan lelaki, karena semua perempuan menjauhinya. Entah karena apa. Yang jelas bukan karena Mita panuan.
Mandi, kemudian tidur adalah pilihan terbaik saat ini. Nanti petang barulah ia mencari makan. Ia pun segera melaksanakan niatannya. Diletakkan tas, mencepol rambutnya ke atas, dan menarik perkakas mandi yang diletakkan di rak depan kamar. Langkahnya perlahan turun ke kamar mandi yang berada di lantai bawah. Melihat ada yang kosong, ia segera masuk.
***
"Ada apaan sih, sama adek lo, Yan?"
Ryan mengangkat bahu. Sejak kedatangan adiknya, kemudian insiden pertengkaran dan berakhir Novi makan nasi bungkus yang ia beli, sang adik belum juga menampakkan batang lehernya.
"Ra ngerti. Adikku ra tau koyok ngunu iku loh. Opo'o yo. Opo Novi kenal karo Mita? Kon takok'o Mita jal?" saran Ryan.
"Mana gue berani. Dia paling lagi nangis jejeritan habis dijambakin adek lo. Masih mode bobok anyep kali tu anak. Gue tanya besok aja kali ya?"
"Terserah."
"Tapi gue kok khawatir ya, Yan. Apa gue samperin aja dia. Takut dia depresi, terus mogok kentut. Kan bahaya juga."
"Wong edan! Ra mbeneh blas mesti kon iku. Paranono nang kos e kunu, aku tak ngancani Novi. Menowo butuh opo-opo ngko."
Eka setuju. Tangannya segera meraih kunci motor yang tergeletak di meja dekatnya duduk. Begitu keluar ke teras, langit terlihat sudah mulai gelap. Sebentar lagi magrib. Tak masalah jika ia ke kos Mita, yang tak sampai lima belas menit sampai.
Begitu tiba di di depan kos Mita, azan magrib berkumandang. Eka hendak mengetuk menghubungi Mita, namun segera ia urungkan. Lebih baik mencari masjid lebih dulu. Suara motornya yang tengah memutar balik, menjadi sorotan seseorang.
"Mas yang temennya Mita, kan?"
Eka segera mematikan mesin, begitu seorang perempuan mendekat ke arahnya. Eka mengangguk. Samar ia mengingat wajah gadis berbaju merah darah itu adalah yang dulu ia tanyai soal keberadaan Mita.
"Iya."
"Udahan ketemu Mita?"
Eka menggeleng.
"Loh, emang dia nggak ada? Aku panggilin, Mas."
Eka hendak mencegah, namun si Embak berpostur tinggi itu segera melesat masuk ke kos. Eka mendongakkan kepala, berharap Mita sudi menerima kedatangannya.
Doa anak soleh kesayangan Mama Emil pun terkabul. Mita yang tengah menguap berada di atas sana. "Mit, baru bangun lo?"
Dengan malas Mita mengangguk.
"Ngapain?"
"Jadi imam lo. Mau nggak?"
Bukannya dibalas, Mita malah langsung menghilangkan diri. Eka sampai garuk-garuk hidung karena bingung, ke mana hilangnya si comel calon masa depannya. Tak lama, suara langkah kaki terdengar. Mita menghampiri. "Magrib, Ka. Kamu nggak solat?"
"Sama lo, mau?"
Mita memutar bibirnya kesal. "Di masjid sana. Aku mau bareng temen aku nih."
"Habis magrib, jalan yuk!"
"Ke mana?"
"Masa depan. Awh! Kok ditarik sih rambut gue, Beb."
"Beb ... beb. Kamu kira aku bebek?"
"Mau ya?"
Mita pun pasrah kalau Eka sudah merengek. Tak enak juga ia pada bapak kos jika menerima tamu laki-laki terlalu lama di depan gerbang seperti ini. Lebih baik ia sanggupi saja ajakan Eka.
"Hem. Sana, magriban dulu." Eka tertawa lebar karena senang. Lekas ia menyalakan mesin motor lagi dan melaju.
***
"Kamu ngajak aku ketemu gini pasti ada modusnya kan?"
"Modus apaan?"
"Siapa tahu kamu kepo bin penasaran kenapa Novi sampek marah sama aku tadi."
"Emang gue boleh nanya kek gitu? Tapi, mending nggak udah bahas itu dulu. Bahas masa depan kita aja gimana?"
Lagi, Mita menarik rambut Eka hingga laki-laki itu meringis. "Mesti gitu deh. Bosen aku," Mita kembali menyendok pentol bakso di mangkuknya, "kalau kamu mau tanya soal tadi, aku juga lagi nggak mau bahas, Ka."
Eka paham. Mungkin Mita butuh waktu. Sama seperti Novi di rumah yang masih berdiam diri. "Nggak apa-apa sih. Biar lo mau jadi Jedun yang rebut Papa Hamis, sampek dibilang Novi kek gitu ... gue tetep percaya sama lo. Kan lo masa depan gue, nggak penting juga masa lalu. Buang aja masa lalu lo."
Mita hendak mengamuk lagi, namun begitu Eka mengangkat gelas es jeruk ke depan mukanya ... keningnya mengerut. "Mimik esnya dulu, Beb. Biar adem. Lo nggak haus apa dari tadi ngamuk terus." Meski bingung, Mita menerima gelas dan meminum es melalui sedotan warna merah. Terasa segar memang.
"Uluh ... kita cipokan nggak langsung ini. Bekas bibir gue ketimpa bibir lo," kekeh Eka girang bak mendapat segerobak bidadari.
* Kamu kenapa sih, Nov? Bertengkar kok sama perempuan. Seperti itu tidak pernah kakak ajarin. Jadi orang itu yang baik.
*Anak seperti itu nggak pantes dibaiki, Kak. Harusnya tadi kamu biarkan saja aku bertengkar.
*Tidak tahu. Adikku tidak pernah seperti itu loh. Kenapa ya? Apa Novi kenal sama Mita? Coba kamu tanya sama Mita sana.
*Orang gila! Nggak pernah beres pasti kamu tu. Samperin ke kosnya sana. Aku mau temani Novi, siapa tahu butuh sesuatu.