Area simpang lima Gumul di hari minggu, terlihat ramai pengunjung. Banyak pasangan muda, keluarga hingga rombongan wisata datang untuk menikmati bangunan yang mirip dengan Arc de Triomphe yang berada di Paris, Perancis.
Eka, Ryan dan Mita sudah siap dengan perlengkapan yang mereka bawa dari rumah. Berbekal sepeda motor Ryan, tas besar di sisi kiri dan kanan mampu menampung barang bawaan. Kue bolu mangga mini, kemasan kotak persegi, hingga bahan baku mangga untuk membuat Manggo Thai pun siap sedia. Berhubung tak mudah mendapat asupan listrik, akhirnya Eka dan Mita membuat cup dengan tutup manual. Yang penting isinya, bukan kemasannya.
"Mit, lo dandan cantik gitu harusnya. Pakai rok tutu, nari di depan stan kita. Yakin banyak yang dateng deh."
Mita mendelik. "Rok tutu? Kamu kira aku anak balita mau ikut balet? Kamu aja sendiri sana cari pembeli. Katanya punya pesona mematikan. Apaan? Muka pas-pasan aja bangga."
Merasa tak terima, Eka segera menyisir asal rambutnya dengan jemari. Meniupkan bau mulut ke telapak tangan, kemudian memoles sisi kanan dan kiri belahan rambut sebagai sentuhan akhir. Modal nawaitu, Eka melangkah maju. Modal mulut gula, Eka mulai merayu pengunjung. Beberapa pasangan tampak tertarik untuk mendekat. Disusul kumpulan ciwi-ciwi emesh yang lebih dulu mengajak Eka ber-selfie sebelum membeli.
"Mbak, bolu mangganya bikin sendiri?" Seorang perempuan mendekat dan bertanya pada Mita.
"Iya, Mbak. Ini stok dari kebun sendiri. Dibuat juga di dapur sendiri, bukan numpang ke tetangga."
Gadis bernama Nia itu pun tertawa renyah dengan jawaban Mita. "Es nya dua, bolu yang besar satu ya."
Mita cekatan membungkus bolu. Ditoelnya Ryan agar segera membuatkan minuman yang dipesan pasangan kekasih. Yang kemudian mengenalkan diri dengan nama Nia dan Damar.
"Mbak dan Mas ini pasangan ya?" Malu-malu Nia mengangguk.
"Ini, Mbak. Terima kasih kunjungannya. Semoga langgeng juga ya, Mbak." Setelah menerima uang kembalian, Nia dan Damar segera melanjutkan perjalanannya.
***
"Hasilnya lumayan nih. Tiap minggu kita ke sini aja kalau begitu," saran Ryan begitu selesai menghitung uang yang didapat.
"Boleh sih. Gue setuju aja. Lo gimana, Mit?" Mita yang tengah mengunyah sempol goreng hanya mengangguk.
"Ya udah, deal brati. Kita pulang sekarang aja. Adikku mau dateng katanya." Ryan segera memberesi peralatan bersama Eka. Sementara Mita, masih asyik dengan sempolnya.
Melihat hal itu, Eka mendekat dan merampas sempol setengah gigitan dari tangan Mita. "Kalau gue ikut gigit, brati kita ciuman nggak langsung nih. Kok sweet banget gitu ya kesannya."
Mita nyengir. "Apaan juga kamu dateng-dateng ngrampas dan bahas ciumam segala. Emang kamu doyan bekas gigitanku kayak gitu?"
"Doyan aja sih. Lo nggak ada keturunan rabies kan?"
Mita menggeleng. Enak saja dia dituduh terjangkit penyakit anjing gila tersebut.
"Oh, aman berarti." Eka hendak menggigit bekas Mita, namun Ryan segera menarik kerah kausnya.
"Bantuin! Cangkemmu kok mbadog ae. Cepetan! Novi silak ngamuk gak tak papak neng pertelon."
***
Novi sudah mengabari Ryan jika ia pulang. Biasanya adik Ryan itu akan naik bus dari Surabaya-Kediri. Turun di pertigaan dekat terminal. Karena malas oper/berganti bus arah Tulungagung untuk sampai di rumah.
"Aku jemput Novi dulu," pamit Ryan pada Eka dan Mita yang tengah bercengkerama di teras rumah. Melepas penat setengah hari berjualan.
"Menurut lo, gue cakep nggak sih?"
Mita menganga. Memang ada ya, laki-laki bertanya hal narsis seperti Eka ini. "Biasa aja."
Wajah Eka muram. "Biasa aja ya. Pantesan gue kok nggak dapet pacar terus. Wajah gue standar. Menurut lo, gue harus perawatan kayak maskeran, mandi uap, olahraga, sama angkatin komedo pakek telor gitu nggak sih?"
Mita sampai melebarkan matanya. Mengurut d**a karena menahan sabar. "Kamu frustrasi banget sih, nggak punya cewek aja. Nggak punya cewek juga nggak bakal sekarat. Cakep itu relatif, Ka. Nggak cukup modal cakep doang biar kamu disukai. Yang penting bisa bikin nyaman aja sih. Sopan, nggak jelalatan."
"Oh, kalau gue ... bikin lo nyaman nggak?"
"Nyaman sih. Sejauh ini, tahu deh kalau sewaktu-waktu kamu—"
"Mas Eka!"
Suara perempuan menghentikan obrolan Eka dan Mita. Begitu menoleh, wajah dua insan berbeda ekspresi. Eka tersenyum riang hendak berdiri menyambut Novi, sementara Mita ... gadis itu ketakutan. Wajahnya menunduk seketika. Resahnya diluapkan dengan menggigiti kuku jari tangan.
"Eh, udah dateng lo, Nov."
"Mas Eka ngapain sama pelakor kayak dia?" Sambil menunjuk ke arah Mita yang menunduk dalam.
*Mulutmu kok makan terus. Novi nanti marah tidak kujemput di pertigaan.
___________