CEO - 8

1128 Kata
"Kenapa milihnya mangga? Kamu ada kesan khusus gitu?" Pertanyaan Mita di sela kunyahan nasi goreng mawut. Eka meneguk es tehnya lebih dulu. Mengunyah sisa nasi yang tertinggal sebelum menelannya semua. "Nggak tahu juga sih. Tapi kata Nyokap, waktu hamil gue emang ngidam soal mangga gitu." Mita mengangguk-anggukkan kepala. Memilih bahan utama dalam bisnis, memang penting. Karena akan menentukan bagaimana bahan tersebut bersaing. Apalagi dunia kuliner, yang saingannya sekelas artis ibukota. "Kirain emang kamu suka sama buah itu." "Gue suka semua buah. Terutama buah bye-bye." Mita mengerutkan kening. Sepanjang sejarah hidupnya yang sudah bergulat di dunia yang penuh duka dan lara ini, belum pernah berkenalan dengan jenis buah yang Eka sebutkan. "Buah apaan tuh? Emang ada ya buah bye-bye?" Eka mengangkat tangan di depan d**a. "Lo kalau bilang bye-bye tangannya sambil begini nggak?" Eka melambaikan tangan kanan. Mita yang memperhatikan hanya mengangguk. "Trus?" "Kan sambil bilang 'd**a' gitu. Nah ... gue suka buah yang barusan itu." "Buah d**a?" simpul Mita dengan polos. Eka mengangguk. "Ho'oh. Lo punya kan? Perlu gue bantu cek nggak?" Begitu tangan Eka mulai bergerak ke arahnya, Mita lantas sadar dengan yang dimaksud oleh laki-laki kurang sajen tapi kelebihan micin di dekatnya. Langsung saja tangan Mita memukul kencang lebih dulu. "Kok dipukul?" ringis Eka. "Nggak sopan!" *** Eka mengikuti saran Mita. Ia mengemukakan pendapatnya pada Ryan. Setelah merasa bagus; dengan memprediksikan bahan, tenaga kerja, alat-alat produksi, dan biaya, keduanya pun menyampaikan pada warga binaan. Ide tersebut disambut luar biasa. Mita pun datang langsung untuk membantu. "Ka, aku pasang di blog. Sama aku coba masukkin grup jual beli Nganjuk-Kediri. Soal kurir, ada tetangga yang bisa kita rekrut ntar. Gimana?" Eka mengacungkan jempol. Edisi perdana, hanya beberapa kotak kue bolu mangga yang dibuat. Tentunya setelah Mita dan ibu-ibu lain menakar komposisi yang pas. Berapa takaran mangga yang sesuai. Tidak terlalu lembek, atau malah bantet. Ryan sibuk promosi. Berbekal grup milik Samsul, Mita, dan beberapa teman SMA-nya. Berjualan kekinian memang nggak butuh banyak tenaga. Buat apa kuota dijual bebas di pinggir jalan, kalau nggak buat meraup untung? Selesai dengan lima kotak kue bolu, Mita membawanya ke meja teras rumah Ryan. Mengambil gambar dengan kamera, dalam beberapa sudut. Eka yang melihat p****t Mita bergoyang kanan ke kiri, langsung berlari menghampiri. "Lo ngapain sih?" Melirik sejenak, Eka pun baru tahu kalau Mita tengah konsentrasi mengambil gambar. Saat Eka melihat tadi, hanya bagian p****t yang terlihat. Karena Mita membelakangi kue. "Ambil gambar. Nanti aku promoin di grup-grup. Besok, aku bawa ke kampus deh. Siapa tahu temenku ada yang minat. Tapi dalam kemasan yang lebih kecil aja. Biasa ... kantong anak kuliah. Apalagi di kota kecil seperti ini." "Oh. Kirain lagi zumba. Soalnya dari sono, p****t lo gerak-gerak aja." Mita menendang kaki Eka kesal. Bisa-bisanya setiap obrolan tak pernah beres. Selesai mengambil gambar, Mita menarik tangan Eka kembali ke dapur. Potongan kue bolu yang kurang sedap dipandang mata hati, mata batin, sampai mata kaki tersaji di atas etalase. Mita mengambil sepotong kecil, kemudian menyuapi Eka. "Enak nggak?" Eka masih mengunyah. Belum sempat menjawab, Mita sudah menjejali lagi potongan kue. "Em ... enak kok. Ada rasa mangganya." Ya kali ... kue mangga masa rasa keju? Mita tersenyum senang. Kue buatannya bersama ibu-ibu lain berhasil. Hasil gagal yang dicoba saat ini, hanya karena gosong bagian bawah. Selebihnya sempurna bin lazies kalau kata Benu Bulo. "Brati kuenya berhasil," girang Mita. Eka mengambil potongan lagi. Entah kurang puas, lapar, atau memang doyan. "Hem." Keduanya saling menyuapi sambil melempar remahan yang gosong. Tertawa-tawa sampai suara Ryan menginterupsi. "Kalian kalau pacaran bisa di luar aja nggak?" Mita dan Eka menoleh dengan mulut penuh. "Hehehe. Ganggu aja lo. Ada apa?" Ryan berdecih. Kemudian menyodorkan catatan ke arah Eka. Laki-laki itu mengamati tulisan ceker goreng dibalur tepung milik Ryan. Ada beberapa nama serta alamat. "Ini apaan?" "Pesenan kue hari ini, sama buat besok karena sekalian buka PO juga tadi." Terlalu senang, kedua insan itu pun saling menyatukan telapak tangan kemudian melompat girang. Berakhir dengan saling memeluk tanpa sadar. Kalau bukan pukulan dari Ryan, mungkin keduanya akan tetap menempel seperti lem UHU ketemu kain flanel. "Duh, empuk juga ya dapet pelukan," lirih Eka yang kemudian diinjak kakinya oleh Mita. *** Mita membawa sekotak kue bolu mangga sebagai uji coba ke teman-teman sekelasnya. Hasilnya? Banyak yang tertarik. Namun, dalam edisi lebih mini. Di kantin kampusnya pun, Mita menitipkan kue mangga Ena-Ena. Alhasil, minggu pertama kue bolu mangga pun mendapat sambutan meriah. Rasanya yang manis, asam dan segar rupanya menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi jika dalam bentuk kecil. Harga murah pula. Sepulang dari kampus, Mita segera menghubungi Eka perihal pesanan kue yang meningkat. Belum sampai ke rumah laki-laki aneh itu, yang dimaksud malah sudah bertengger di dekat pintu gerbang kampus. Sambil melambai-lambai pada beberapa gadis yang lewat di depannya. Kikikan geli menyambut aksi 'gila' Eka dari kumpulan cewek-cewek yang mendapat kedipannya. Melihat itu, Mita hanya menghela napas dan mengelus d**a. "Punya partner bisnis kok gitu amat orangnya." "Uh ... ciwi-ciwi." Mita mendekati Eka. Menepuk pundaknya hingga menoleh. "Eh, lo. Udah mau pulang?" Mita mengangguk. "Ayo, gue anter. Tapi ikut bentar." Nah, ujung-ujungnya juga pasti ada maunya. "Kok tahu aku mau pulang?" Mita meraih helm yang disodorkan padanya. "Gue ke kos lo tadi, trus nanya. Ada cewek yang tinggi banget tu bilang kalau lo bentar lagi pulang. Ya udah, gue samperin ke sini." Setelah naik ke jok motor, Eka menoleh ke belakang. "Eh, bentar. Gue kan nggak tahu jalan ke Gumul. Itu simpangnya ada lima, gue bingung. Lo aja ya yang nyetir. Gue duduk di belakang." Mita menganga. Demi apa ia harus membonceng orang yang menawari tumpangan padanya? "Ka, lo kok ngeselin sih!" Eka terkekeh. Pelan-pelan keluar dari motor. Meninggalkan Mita yang masih duduk di jok belakang. Meski menggerutu, Mita pun menggeser pantatnya maju. Jadilah Eka kini yang duduk di belakang. Gadis yang mengambil jurusan Komunikasi dan masih duduk di semester enam itu pun mulai melajukan motornya. Eka bermaksud akan berjualan di area Simpang Lima Gumul (SLG) saat hari minggu nanti. Selain membawa produk kue dan keripik, Thai Mangggo akan menjadi menu baru yang ia dan Ryan kenalkan. Mumpung produk tersebut sedang naik daun. Jadi hari ini akan survei lokasi dulu. Tangan Eka melingkar di pinggang ramping Mita. Tak ayal membuat gadis itu menggeliat geli. "Ka, kamu pegangan paha aja deh. Nggak jatuh juga, aku jago naik motor." Eka tak peduli. Malah semakin ia eratkan. Lama-lama Mita kesal juga. Ia berhenti di pinggir jalan. Menoleh pada Eka yang meringis. "Ka, kalau tangan kamu tetep di pinggangku ... tak doain manuk empritmu nggak guna!" Tanpa menunggu sedetik, Eka buru-buru melepas tangannya. "Ralat, Mit. Bukan manuk emprit yang kecil piyik loh punyaku. Panggil aja dia ... Trojan." Tak tanggung-tanggung, Mita segera mengegas motornya kencang hingga tubuh Eka nyaris terjengkang jatuh. Mita yang kesal, semakin mempercepat laju motornya. Demi apa hidupnya harus bertemu dengan laki-laki model ini? __________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN