CEO - 7

885 Kata
"Jadi, ini apaan? Lo minta gue beliin camilan di sini?" Eka menggaruk alis kanannya. Mita yang berdiri di samping hanya berdecap sambil menggelengkan kepala. "Aku kasih contoh buat kamu bisa kembangin usaha Ena-Ena." "Maksudnya?" bingung Eka. "Makanya, masuk dulu. Udah nggak tahan nih mejeng doang di parkiran. Panas!" Eka melirik tukang foto di sampingnya. "Gue kira lo udah nggak tahan mau dimasukkin, awh!" "Wong edan!" "Elah ... gue salah apaan lagi? Becanda doang, kali. Lo serius amat." Mita tak menggubris laki-laki mulut sampah yang meringis di belakangnya. Ia lantas berjalan masuk ke sebuah toko oleh-oleh khas Kediri. Bermacam jajanan tertata rapi di dalam etalase dan rak. Stik tahu, getuk pisang, tahu kuning dan berbagai olahan tahu seperti keripik tahu dan kerupuk tahu. "Kamu bukan asli orang sini kan? Jadi, cobain nih." Mita mengambil potongan getuk pisang yang memang disajikan sebagai tes rasa para pengunjung. Menyuapinya ke mulut Eka. "Asem." Mita terkikik geli. "Iya. Ini dari pisang. Selain dibuat keripik dan sale, masyarakat sini memanfaatkan pisang untuk bahan getuk. Kan biasanya getuk pakai singkong tuh." Eka mengangguk-angguk. Ia memang sudah biasa tinggal di Kediri bersama Ryan. Tapi tidak pernah sampai menyambangi toko oleh-oleh. Pernah dengar soal oleh-oleh khas kota tahu tersebut, tapi tidak pernah merasakannya. Mita kemudian mengambil satu bungkus stik tahu dan satu buah getuk pisang. Membayar di kasir, dan kembali menghampiri Eka yang memperhatikan aneka macam camilan. "Udah? Pulang yuk!" Eka menurut. Begitu sampai di parkiran, Mita mengajak Eka duduk di teras toko yang dibuat lebih tinggi dibanding aspal jalan raya. "Gini. Di Kediri kan, kalau mau cari oleh-oleh pasti datengnya ke toko-toko ini. Dan yang dijual udah pasti segala olahan tahu. Sama ini," tunjuk Mita seraya mengeluarkan getuk, "getuk pisang." "Trus?" "Padahal di kota ini kan banyak pasokan mangga yang bisa dimanfaatin. Kalau tahu aja bisa dibuat puding, burger sama stik ... kenapa mangga ngga bisa?" "Ah, iya juga ya." "Selain keripik, gimana kalau kamu nyoba bikin varian bolu mangga. Ntar bisa minta resep bolu ibu-ibu binaanmu. Tinggal takaran mangga yang pas porsinya. Ntar aku bantuin deh. Aku bisa kok bikin-bikin kue." Ya ampun ... Eka terperangah dengan ide super bikin takjub. "Lo kok cerdas sih? Boleh cipok dikit nggak?" Belum sampai bibir Eka maju, sudah dicubit duluan oleh Mita. "Wong edan, Ka!" *** Mita merebahkan diri di lantai kamar kos. Kasur lipatnya masih tertumpuk rapi. Teman sekamarnya belum pulang. Kamar di kos Mita memang tidak menggunakan dipan. Kasur yang dipakai adalah kasur lipat yang ditata rapi kembali jika bangun tidur. Karena inilah kos yang menurut Mita lebih ramah di kantongnya. Sejak dua tahun lalu, ia harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri. Bermodal laptop dan kamera peninggalan almarhum ayahnya, ia mengais rezeki. Begitu merasa lelah dengan proposal yang ia kerjakan, Mita segera mematikan laptop. Sudah pukul delapan malam, dan teman sekamarnya belum juga datang. Perut Mita merasa lapar. Tidak enak kalau keluar cari lauk sendirian malam-malam. Di kos, ada salah seorang yang berbaik hati membawa magic com untuk memasak nasi rame-rame. Cukup iuran beras dan jadwal masak saja, stok makanan pokok akan siap. Ponsel Mita bergetar. Rupanya dari Eka. Melihat isi pesannya, Mita langsung berdiri kemudian berjalan ke teras kamar paling ujung. Teras yang bisa melihat langsung luar rumah. Letak kamar Mita berada di lantai dua. Dari atas, Mita bisa melihat Eka sedang mengupil di depan spion motornya. "Woy, ngapain?" teriak Mita dari atas. Eka mencari sumber suara. Kepalanya mendongak dan memamerkan gigi ke arah Mita di atas. "Turun. Gue pegel kalo ngobrol sambil lihat atas gini." Mita berlari menuruni tangga. Tak lupa mengikat rambutnya yang berantakan lebih dulu. "Ngapain malem-malem ke sini? Dimarahin ibu kost loh, cowok dateng malem-malem." Eka sudah turun dari motor dan menempel di gerbang kos. "Mamam yuk! Gue laper," ajak Eka malu-malu sembari menelusuri tembok dengan jari telunjuknya. "Kok laper malah dateng ke sini?" "Mau ngajak lo makan. Yuk, keburu malem ntar." Mita pura-pura berpikir dan mengulur waktu. Aslinya ia girang tak kira-kira. Perut keroncongan, ada yang ngajakin makan. Pas kan? Mita pun mengangguk. Eka segera melajukan motor bersama Mita yang duduk di belakangnya. "Pegangan boleh kok. Nggak nolak gue." Mita malah memukul pundak Eka. "Maunya. Nggak usah modus deh." Eka hanya terkekeh kemudian. Motor Eka berhenti di depan toko bangunan yang sudah tutup. Di situ terdapat warung nasi goreng bongkar pasang. Eka pernah diajak Ryan mampir ke sana. Cara masaknya menggunakan tungku arang, membuat rasa nasi goreng lebih sedap. "Lo mau makan apa?" tanya Eka yang sudah lebih dulu mencarikan tempat duduk untuk Mita. "Nasi mawut aja. Sama es teh." Eka segera melesat ke depan untuk memesan dua porsi nasi mawut dan es teh. Kemudian ia kembali lagi ke mejanya. "Tumben kamu baik?" serbu Mita. Ia tak mengira mulut sowak ini tiba-tiba datang ke kosannya saat Mita kelaparan. Dan menawarkan makan malam. Jangan sampai laki-laki yang suka sekali mengelu-elukan manuk empritnya yang tersembunyi itu, tiba-tiba baik karena ada maunya saja. Kalau dalam istilah itu seperti ada udang di balik gunung, eh batu. "Gue orang baik kale ... lo yang suudzon aja." "Kamu nggak lagi nyogok aku kan, habis beliin nasi goreng ini?" selidik Mita waspada. Eka terkekeh. "Gue sukanya nyodok, Mbak. Nggak nyogok. Tapi yang halalan toyyiban." Mita memutar bola mata jengah. "Hadeeeh, wong e—" "E ... jian ngguanteng tenan to?" sahut Eka yang terbahak tak kira-kira. Memamerkan giginya yang dijadikan tempat sembunyi cabai seuprit. __________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN