CEO - 6

860 Kata
"Sadis amat sih lo?" Eka mengusap pipinya yang bercap lima jari. "Kamu juga nggak sopan gitu. Punya mulut disekolahin dulu, biar ngomongnya bener." Mita merasa tak terima disalahkan. "Emangnya gue ada ngomong nggak sopan? Cuma mau ngajak ena-ena, apa salahnya?" Mita melotot. "Nah, itu. Itu yang barusan kamu bilang. Emang aku cewek apaan diajakin ena-ena sama kamu!" Eka mulai paham. Kemudian ia terbahak. Mita sampai keheranan dibuatnya. Apa tamparan Mita sampai merontokkan kewarasan Eka? "Lo ngira gue mau ngajak ena-ena yang itu?" Mita mengernyit dengan kata 'itu' barusan. "Hem. Tampang kamu meyakinkan banget soalnya." Eka berdecap kesal. "Dobel sadis ini. Lo kira gue macam bad boy yang semena-mena menggauli cewek? Belum sah, Mbak. Ntar gue dikutuk gimana?" "Lah trus ngapain ngajak ena-ena tadi?" "Oh iya. Maksudnya gue mau interviu konsumen yang beli keripik Ena-Ena. Lo kan kebetulan lagi makan. Jadi gue mau nanya-nanya dikit pendapat lo gitu." Mita melirik bungkus keripik di tangannya. "Oh, soal keripik ini. Kirain ena-ena apaan." "Pikiran lo tu tuh yang dah ngeres duluan. Tampang anak solikh begini kok dikira ngajak main dalam selimut. Gue milih-milih juga lah. Yang tampang manis-manis manja, nggak yang judes begini." Mita melotot tak terima. Mau membalas omelan, tangannya sudah ditarik oleh Eka menuju kursi semen dekat dari tempat mereka berdiri. "Duduk dulu sini. Panas juga berdiri di situ," keluh Eka. Tangannya mengipasi peluh. "Lo ada waktu kapan buat gue wawancara?" Mita tampak berpikir. Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya. "Agak sorean. Aku mau masuk kelas nih. Ntar aku hubungin." Eka mengangguk. "Mana nomor lo." **** Mita memperhatikan ibu-ibu yang tengah sibuk dengan keripik mangga. Sepulang dari kampus dan mengajar les privat di dekat tempat kosnya, Mita mengiakan kedatangannya ke rumah produksi milik Eka. Sambil menunggu Eka yang masih mandi, Mita berkeliling sambil mengambil foto para pekerja. "Udah dateng lo?" Mita menoleh. Ditutupnya lensa kamera. "Hem." "Duduk." Mita duduk di kursi teras. "Jadi, gimana pendapat lo sama keripik gue?" Eka hendak menyebut ena-ena, tapi segera ia ralat. Takut malah menjadi masalah lagi. Misal, rambut kuda itu mengamuk di rumah produksinya. "Enak kok. Soal harga, terjangkau buat kantong mahasiswa kayak aku. Ehm, kamu kenapa butuh pendapatku? Emang usaha ini ini baru ya?" Mita jadi kepo. Melihat tempat produksi yang terlihat masih 'bersih'. Eka mengingat obrolannya dengan ibu penjaga kantin kampus. "Kata Bu kantin, lo salah satu pemasok jajanan di sana. Makanya gue mau nanya-nanya sama lo. Kan lo udah pengalaman dulu dibanding gue." Mita manggut-manggut. "Ehm gitu. Apa yang bisa aku bantu nih?" "Eh, ada tamu." Baik Mita maupun Eka menoleh. Ada Ryan yang datang dengan sepeda motornya. "Hai," sapa Ryan sambil menjabat tangan Raisa KW. "Yang jualan foto kan?" Mita mengangguk. "fotoku yang cakep itu masih disimpan?" Mita mengulas senyum dan mengangguk. "Kalian kok bisa akrab? Padahal nggak ada hujan angin loh." Eka mendengkus dengan hidung dikembang kempiskan. "Lo nggak usah cari perkara lagi, Yan. Gue baru damai sama dia." Ryan terkekeh. Ia pamit masuk untuk mandi dulu. "Jadi, kapan kita bisa mulai ena-enanya?" Mita menimpuk kepala Eka dengan tas ranselnya hingga meringis. "Apaan lagi sih? Gue lo siksa terus. Salah gue apa lagi?" keluh Eka merasa sedang terzalimi. "Kalau pakek bahasa yang bener dong ah. Jadi ambigu soalnya." Eka mengangguk. Duh, salah ucap lagi deh. **** Mita memberikan tips yang lumayan menarik untuk Eka. Kenali pasar dengan melihat secara langsung. Apa yang sedang hits, bahan apa yang dirasa mudah didapat, apa yang membuat produk kita berbeda, dan siapa saja sasaran konsumen. Mita misalnya. Ia mendulang untung dari mengenali pasar dan kebutuhan. Ia akan menjadi seorang jasa foto, saat acara wisuda berlangsung. Memanfaatkan momen yang tidak selalu dialami berulang kali oleh seseorang. Menawarkan jasa les privat. Musim ujian masih tiga bulan lagi, tapi sudah banyak anak-anak yang mencari tempat les. Meminimalisir jam malam, kurang paham karena dijelaskan secara sepintas, sehingga membuat Mita menawarkan diri sebagai tutor les privat. Jajanan di kantin. Mita melihat-lihat dulu camilan apa yang belum ada. Melihat teman-temannya suka dengan coklat, ia berinisiatif membuat camilan coklat yang dipadukan dengan kacang tanah, kacang mete, atau corn. Eka mendengarkan penjelasan secara saksama. Bertanya ini itu, saling berbagi pengalaman, menjadi kegiatan sore hingga malam itu. Pertemuan mereka yang tak diselipi umpatan atau panggilan tak wajar. "Harusnya aku yang berguru sama kamu. Udah sukses bikin produksi rumahan segala di Surabaya, malah minta ajarin aku. Ini namanya ngeledek tahu nggak?" Mita merasa tak ada apa-apanya dengan jatuh bangunnya Eka membangun usahanya bersama Ryan. Mita tak perlu modal besar, sehingga kerugiannya tak akan sebanyak yang Eka alami. "Nggak lah. Lo malah bisa menekuni banyak bidang. Cari celah dan kesempatan. Gue cuma usaha kek gini aja dah berat banget cobaannya." Mita menimpali, "Emang cobaan hidup ada yang mudah? Kamu kayak cewek aja suka ngeluh." Eka menoleh. "Masa lo nggak bisa lihat jakun gue nongol di sini?" tunjuk Eka pada lehernya. "Sekate-kate lo nuduh gue kayak cewek. Namanya ngeluh juga manusiawi lah. Emang lo nggak pernah ngeluh?" Mita terkekeh dengan tanggapan Eka. Emosi, tapi terlihat lucu di mata Mita. "Eggak tuh. Aku nggak ada ngeluh. Jadi, kebukti dong siapa yang cewek di sini?" "Perlu dikeluarin kuda trojan gue di dalam sempak nggak sih, biar lo percaya gue jantan?" Mita lantas menimpuk kepala Eka lagi. "Edan!" __________________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN