Begitu turun dari bus di terminal Kediri, langkah Difa disambut oleh sang Kakak yang bertengger di atas sepeda motor. Wajah lelaki itu kuyu, kusam, berdebu, dan sungguh tak sedap dipandang. Jika Eka disandingkan dengan Deva Mahendra, tingkat kemiripannya ... nol persen. "Uluh, Mas kesayangan. Kusem amat." Diledek begitu, Eka diam saja. Biasanya ia akan membalas cibiran adiknya yang memang usil. "Apaan sih. Buruan naik!" Difa pun menurut meski tampangnya tak terima. Ia mengendus sesuatu yang nestapa. Begitu naik motor, Eka segera melajukan motornya ke kedai es cokelatnya. Bukan iba karena Difa harus istirahat setelah perjalanan dari Surabaya, hanya saja ia tak tega meninggalkan Difa sendirian di rumah milik Ryan. Andai saja itu rumah miliknya sendiri. Eka saja masih numpang. Segelas es

