"Kenapa sih? Bete banget kayaknya." Pras heran dengan mimik wajah Mita yang sendu, kesal, dan tanpa gairah. Kalau saja ia tadi bawa pasak bumi, mungkin beda cerita. "Hem. Nggak papa." Perempuan, kalau bilang nggak apa-apa, pasti ada apa-apanya. Sudah rumus paten di dunia kewanitaan. "Habis ini ke mana? Nonton udah. Makan juga dah habis juga nih." Mita mengaduk minumannya yang menyisakan buih jus mangga tanpa minat. "Terserah deh." Sungguh Mita tak ingin apa-apa. Tak enak hati pada antusias dan niat Pras yang sudah jauh-jauh dari Jogja, gadis itu pasrah saja. Meski Pras tampak bersenang-senang, nyatanya tidak bagi Mita. Mahasiswi tingkat tiga itu masih saja kepikiran pesan dari Difa yang mengabarkan bahwa sang Kakak rupanya masih berada di Surabaya. Tak menjelaskan untuk apa, jika R

