Wajah Bi Ima tampak terkejut. “Innalillahi wainnailahirojiun. Pak Danu meninggal?” Bi Ima ini sedikit banyak tau tentang Pak Danu dari cerita Nadia. “Kamu harus sabar, Nadia, dan menerima semua ini sebagai cobaan. Sudah! Kamu jangan terlalu bersedih seperti ini kasihan nanti Nafa jika melihat kamu seperti ini. Kita sekarang hanya bisa mendoakan Pak Danu saja.” Nadia menarik dirinya dan melihat pada Bi Ima. “Aku benar-benar tidak menyangka, kenapa orang sebaik Pak Danu harus pergi secepat itu?” “Kembali lagi pada takdir seseorang Nadia.” “Ibu! Ibu sudah pulang?” suara Nafa terdengar senang melihat sosok wanita yang selama ini dia rindukan. Nafa berlari dan langsung memeluk Ibunya. “Ibu kapan datang? Apa barusan?” “Iya, Nafa, ibu baru saja datang,” jelas Nadia dengan suara terbata. “Ibu

