Nadia masih terlihat sangat terpukul.“Kenapa orang sebaik Pak Danu begitu cepat meninggalkan dunia ini?” Nadia berdialog sendiri duduk termenung tepat di depan Fabio. Mereka berdua sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Fabio. “Kita tidak dapat melawan takdir yang sudah digariskan, Nadia. Kita sekarang hanya bisa berdoa dan memberi semangat terus kepada bibi Ranti karena hal itu yang sekarang benar-benar dibutuhkan oleh bibi Ranti.” “Iya, aku akan sering mengunjunginya di rumahnya supaya Ibu Ranti tidak kesepian nantinya.” Tidak terasa kedua mata Nadia yang terlihat sembab tertutup perlahan karean mungkin dia merasa mengantuk. Nadia tidur dengan posisi duduk di bangkunya. Fabio yang duduk di depannya memperhatikan dengan lekat wajah Nadia yang sedang tertidur. “Aku tau kamu pasti

