Namun, lagi-lagi Nadia seolah sudah trauma dan memilih menutup hatinya untuk hal seperti itu. “Aku tidak masalah jika Ibu mau menikah lagi dan aku bisa memiliki ayah yang menyayangiku.” “Memangnya, kamu masih kurang kasih sayang dari ibu?” Nadia mengerucutkan bibirnya. Gadis kecil itu malah terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. “Ibu sudah sangat banyak memberiku kasih sayang, hanya saja kan beda kalau aku memiliki seorang ayah seperti teman-temanku, Bu. Mereka di antar jemput sekolah ayahnya dan saat liburan sekolah mereka pergi berjalan-jalan bertiga.” “Ibu juga bisa melakukan itu semua.” Bibi Ima yang mendengar hal itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Nadia ini memang sangat keras kepala sekali. “Nadia, Bibi pulang dulu ya, kalian jangan tidur malam-malam, katanya besok m

