Bab 10

1030 Kata
Delika kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah murungnya. Ia duduk di sofa ruang tengah bersama keluarganya. Delika duduk di samping kanan Alika. Wanita itu masih teringat dengan ucapan Asgar yang menandakan pria itu sedang marah padanya. Delika benar-benar merasa bersalah, karena telah melibatkan Asgar dalam masalahnya. Delika pun menatap ke arah Alika yang tiba-tiba mengelus rambutnya. "Ma, cowok tadi marah sama aku," ujarnya lirih. "Loh, kenapa?" tanya Alika heran. "Dia kesel karena ditonjok sama Papa. Dia bilang ini salahnya aku yang nggak berani ngadepin Papa sendirian." "Halah, lebay banget sih! Baru ditonjok gitu aja udah marah," sahut Dehan santai. Delika langsung menatap Dehan dengan tatapan kesal. Ia tidak suka dengan cara Dehan yang selalu main kasar, tanpa mau mendengarkan penjelasan terlebih dulu. Hal itu yang membuat Delika dan Dehan sedikit bertolak-belakang dalam hal pemikiran. Dehan terlalu menggampangkan sesuatu dan tidak memikirkan dampaknya. Tapi Delika, ia akan terus dihantui rasa bersalah setiap harinya. "Papa tuh nggak ngerasa salah? Harusnya Papa tuh tanya dulu apa masalahnya. Jangan main tonjok aja. Dia udah berjasa banget loh nolongin aku. Kalau nggak, mungkin Papa bakalan nangisin aku di rumah sakit," gerutu Delika. "Bener tuh kata Delika," tambah Ben. "Kamu nggak boleh main nonjok orang lain gitu aja. Harusnya ditanya dulu gimana kronologinya. Untung orangnya baik. Kalau nggak, udah dilaporin kamu ke polisi." Dehan justru mendengus. Ia tidak suka disalahkan seperti itu. Menurut pemikirannya, ia tidak salah. Wajar Dehan marah karena ada orang asing yang dengan beraninya membawa Delika pergi sampai malam. Orang tua mana yang akan tenang jika mengetahui hal tersebut. Semua orang tua pasti akan melakukan hal yang sama seperti Dehan. "Udah deh, nggak usah belain tuh orang. Dia juga salah. Ngapain bawa anakku sampe malem gini. Kalau dia nggak tahu alamat rumah kita karena Delika ketiduran, kan dia bisa banguni si Delika. Kenapa harus dibawa ke rumahnya? Pasti dia punya maksud lain," kata Dehan. Christina menggelengkan kepalanya. Heran melihat sifat keras kepala putranya itu. Tidak pernah berubah sedikitpun. "Dehan, kamu nggak boleh nuduh orang sembarangan. Nggak baik kayak gitu." "Ck!" Dehan mendecak. Ia kesal karena tidak ada yang berpihak padanya sama sekali. "Pa, jangan dengerin omongannya Rio. Dia tuh sengaja narik simpatinya Papa. Aku tahu banget gimana sifat Rio. Lagian, si Asgar juga udah punya istri, punya anak. Jadi, Papa nggak perlu nuduh dia punya maksud lain," ucap Delika. "Papa kayak gini karena sayang sama kamu, Del. Papa tuh nggak mau kamu bergaul sama orang yang nggak jelas kayak dia. Kita nggak bisa tahu gimana hati manusia." Delika menghela napas berat. "Tolong dong, Pa. Buka dikit aja mata Papa. Asgar udah nolongin Delika dari bahaya dan ini semua nggak akan kejadian kalau Rio nggak maksain aku buat balikan sama dia. Aku udah ngejauhin dia, eh dia malah narik-narik aku. Di pinggir jalan lagi." "Oh, jadi gitu ceritanya," ujar Alika sambil menganggukkan kepalanya. "Emangnya, Rio buat salah apa sama kamu, Del? Sampe kamu mutusin dia." "Dia tuh orangnya kepedean banget, Ma. Terus masa dia bilang, untung cantik, kalau nggak udah gue tinggal. Perkara aku tuh nggak terlalu care sama dia. Apa pantes dia ngomong kayak gitu? Ngerasa paling banyak fans di kampus. Padahal biasa aja," kata Delika. Alika tersenyum. "Cowok emang suka gitu, Nak. Giliran ceweknya peduli, dianya yang nggak peduli. Tapi giliran ceweknya nggak peduli, dia nggak terima." "Nah, itu dia, Ma. Makanya aku tuh kesel banget sama dia. Langsung aku putusin dong. Padahal tadinya ya, aku tuh mau ngenalin dia sama Mama, Papa. Tapi dianya kayak gitu, ya udah deh, selesai." Ben terkekeh mendengar cerita dari cucunya itu. Ia melirik Dehan sekilas, kemudian kembali menatap Delika. "Del, Papa kamu dulu juga gitu. Giliran Mama kamu cuek, Papa kamu kebingungan sendiri." "Dih! Enggak ya," ujar Dehan sewot. "Kamu emang gitu, Sayang," sahut Alika sambil terkekeh menatap ekspresi kesal dari suaminya. "Kamu kan cemburuan. Sama anak sendiri aja kadang cemburu." "Sayang, jangan ikut-ikutan deh." Ucapan Dehan membuat semuanya tertawa, terutama Delika. Delika tertawa paling kencang karena berhasil membuat sang ayah merasa kikuk dan tidak ada yang memihak padanya. "Papa tuh unik tahu nggak," kelakar Delika. Dehan mencebikkan bibirnya. "Kamu tuh ya, seneng banget lihat Papa dipojokin. Bukannya dibelain." "Ya abisnya, Papa ngeselin. Apalagi pas nonjok si Asgar tadi. Makin kesel jadinya sama Papa," ucap Delika jujur. Dehan memilih untuk masuk ke kamar daripada harus berdebat dengan keluarganya. Ia sadar, membela diri bukanlah keputusan yang tepat jika seluruh keluarganya sudah kompak satu sama lain. "Ma, Papa ngambek ya?" tanya Delika yang mulai menghentikan tawanya. Alika mengangguk samar. "Kayaknya sih gitu. Coba deh kamu bujuk dia. Sekalian minta maaf ya." "Oke, Ma." Delika bergegas naik ke lantai dua untuk menemui Dehan di kamar. Ia mengetuk pintu terlebih dulu, kemudian membukanya. Kebetulan sekali, pintu kamar tersebut tidak dikunci dari dalam. Delika menutup kembali pintu itu, lalu menatap Dehan yang tengah duduk di tepi kasur sambil menunduk. Perlahan, langkah Delika pun semakin dekat dengan posisi Dehan. Ia merasa gugup untuk berbicara pada sang ayah. Pasti saat ini, hati Dehan sedang terluka. Kini, Delika sudah duduk di samping kanan Dehan. Ia menggenggam tangan sang ayah. "Papa marah ya?" tanya Delika. Dehan memalingkan wajahnya ke arah lain. Airmata tampak mengalir di pipinya. Ternyata Dehan merasa tersinggung dengan ucapan yang dilontarkan dari keluarganya, termasuk anaknya sendiri. Sebagai kepala keluarga, dirinya merasa tidak dihargai sama sekali. Segala yang dilakukannya selalu menjadi bahan ejekan oleh keluarga. "Pa, maafin aku ya. Aku tuh nggak bermaksud nyakitin hatinya Papa. Aku cuma mau Papa tuh ngertiin aku. Aku nggak mau Papa main asal tonjok aja sama orang," lanjut Delika. "Del, Papa bukannya nggak menghargai usahanya si Asgar itu. Papa cuma nggak mau kamu tuh salah menilai orang. Baik di luar, belum tentu baik di dalam. Lagian kamu juga baru kenal sama dia. Masa kamu nggak naruh curiga sama sekali. Papa sayang banget sama kamu. Kamu anak satu-satunya Papa. Kebanggaan Papa. Jangan kamu rusak kebahagiaan Papa hanya karena kamu ditolong sama dia." Delika turut menangis. Ia tidak tahu jika hal ini bisa memicu Dehan menjadi sakit hati. Dehan yang menyadari Delika menangis pun langsung membawa Delika ke dalam dekapannya. Dehan mengelus rambut putrinya sambil mencium keningnya. "Kamu jangan nangis. Papa minta maaf karena udah bikin kamu malu di depan Asgar. Papa janji nggak akan ngulangin kesalahan yang sama," ucap Dehan. Delika mengangguk. "Aku juga minta maaf ya, Pa. Aku cuma nggak mau aja Papa dipandang hina sama orang lain, hanya karena kejadian tadi. Aku janji nggak akan percaya gitu aja sama orang lain." "Iya, Nak. Papa udah maafin," kata Dehan yang masih memeluk putrinya dengan erat. "Sekarang, ada hal yang mau Papa bilang ke kamu." "Tentang apa, Pa?" Dehan melepas pelukannya, kemudian berkata, "Tentang perjodohan. Papa mau, kamu tuh nikah sama cowok pilihan Papa. Dia mapan, ganteng, tinggi, putih, terus baik. Kamu mau, kan? Kalau mau, biar Papa atur jadwal kamu buat ketemu sama dia." "Ih! Papa apaan sih? Ngapain juga aku dijodohin gitu? Aku nih masih kuliah, Pa. Aku masih mau ngejar mimpi aku. Harusnya Papa dukung dong, bukannya malah nyariin aku jodoh. Kalau aku nggak selesai kuliah karena nikah muda, siapa yang bakalan nerusin perusahaan? Kakek bisa marah kalau kayak gitu." "Del, dia tuh baik loh. Jangan ditolak ya. Papa juga punya kontrak kerjasama sama dia. Dia juga belum punya pasangan kok," ujar Dehan sedikit terdengar memaksa. Delika menggeleng. "Enggak. Aku nggak mau nikah sama orang yang nggak aku suka. Aku pengen hidup sama cowok pilihan aku, Pa. Jadi, aku tolak perjodohan ini." "Pokoknya, kamu harus mau Papa jodohin! Titik. Nggak ada penolakan, karena Papa nggak suka sama penolakan! Ngerti kamu?!" bentak Dehan. Delika menangis. "Papa egois! Papa jahat sama aku! Aku benci sama Papa!" "Sejak kapan kamu berani bantah omongan Papa, hah?! Oh, atau jangan-jangan, cowok tadi yang udah ngehasut kamu ya! Udah Papa duga, dia tuh bawa dampak buruk buat kamu!" Delika berdiri dan berhadapan dengan Dehan. Ia masih menitikkan airmata di pipinya. "Pa, nggak ada yang ngehasut aku! Aku tuh udah besar! Bisa nentuin sendiri jalan hidup yang aku mau! Aku capek diatur Papa terus! Aku nggak butuh dijodohin gitu! Norak!" "Kamu udah berani ya bentak Papa!" Dehan langsung menampar pipi kiri Delika. Untuk pertama kalinya, Dehan memukul putri semata-wayangnya itu. Bahkan Delika sampai terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dehan. "Papa tega nampar aku?" tanya Delika tak percaya. "Papa nggak pernah kayak gini sama aku dari dulu. Papa bakalan marah kalau ada yang nyakitin aku. Tapi Papa sendiri, udah nyakitin aku kayak gini." Dehan menatap angkuh. "Kenapa? Kamu nggak terima? Mau lapor ke polisi? Silahkan! Papa nggak peduli! Kamu yang udah bikin Papa emosi. Kamu udah berani ngebentak Papa. Giliran Papa tampar, kamu nggak terima." "PAPA JAHAT!" Delika langsung berlari keluar dari kamar Dehan sambil menangis. Sementara Alika bingung saat mendapati putrinya seperti itu. Delika masuk ke kamarnya sendiri, lalu menguncinya dari dalam. Ia sangat membenci Dehan yang sekarang. Hati Delika terasa sakit saat pipinya ditampar oleh sang ayah. Orang yang selalu ia hormati, justru bersikap seperti ini padanya. "Aku benci sama Papa!" To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN