[ Kembali Ke Waktu Kejadian Di Sekolah Siang Kemarin ]
“TOLOOO..HHMMFTTTTTT…” baru saja aku hendak berteriak tapi aku sudah tidak berdaya dalam sekapan kedua cowok kekar yang menahanku di kiri kanan. Mulutku dibekap dan dengan mudahnya tubuh kecilku digiring masuk ke dalam mobil.
“Jalan!” perintah si cowok berjaket kulit.
BRUUUMMM… CHIEEETT… BRUUUMM…
Suara mobil berderu, kulihat dari kaca mobil pak Asep baru saja datang, tapi sudah tak ada lagi yang bisa menolongku, mobil yang menculikku sudah melaju dengan kecepatan tinggi menghilang di keramaian.
“Apa mau kalian?” tanyaku.
“Hei, tenang aja, kami nggak bakal nyakitin kamu koq.” kata si cowok berjaket hitam.
“Siapa kalian? Mas siapa?” tanyaku.
“Kamu nggak mengenaliku ya? Hm, kupikir kamu sudah bisa menebak siapa diriku, saya Hans.” jawabnya.
“Hah… jadi anda mas Hans itu? Tapi… bagaimana anda bisa menemukan saya?” tanyaku.
“Hm, sudah kubilang kan aku akan menemukanmu dan mendatangimu, dan sekarang di sinilah kita.” jawabnya.
“Apa yang mas inginkan dari saya? Mas mau culik saya? Minta tebusan?”
Lelaki gagah itu menggeleng, “no.. no.. no… tidak Fiki, atau harus kupanggil Vika? Tapi hm… belum saatnya.”
“A—anda mau apa?? Tolong jangan sakiti saya.”
“Siapa bilang aku mau menyakitimu? Justru aku akan membahagiakanmu.” balasnya lagi sambil tersenyum dingin.
Saat itu perasaanku campur aduk, bayanganku sudah ke mana-mana, aku sudah berpikir apakah aku sedang diculik, ke mana aku akan dibawa, apakah aku akan diperkosa atau bisa jadi kalau orang ini cukup gila aku akan mati dibunuh. Entahlah, tapi aku sangat takut dan panik saat ini, tapi aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan.
Sekarang HPku ditahan oleh mas Hans dan aku diapit oleh dua orang bertubuh yang begitu besar dan aku tidak mungkin melawan atau mencoba meloloskan diri dari dalam mobil itu.
Kulihat mobil langsung masuk jalan tol dan sepertinya arah keluar kota.
“Hei, santai aja, perjalanan kita masih jauh. Mau tidur juga boleh.” ucap mas Hans.
Tidur? Bagaimana mungkin aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini.
Sepanjang jalan aku hanya gelisah dan bingung.
Kulihat mobil keluar tol dan mengambil jalan biasa, yang pasti itu jalan luar kota hingga kami tiba melewati sebuah lereng pegunungan yang banyak kebun teh. Mobil bertenaga besar itu melibas jalan pegunungan dengan mulus tanpa mengalami hambatan sama sekali.
“Berhenti dulu di minimarket yang itu.” perintah mas Hans.
Mobil pun berhenti di depan sebuah minimarket yang ditunjuk.
“Kamu mau turun dulu? Merenggangkan kaki? Atau ke kamar kecil? Tapi jangan macam-macam!” perintah mas Hans.
CLEK… suara pelatuk.
“Kalau macam-macam…” kemudian aku ditodongkan senjata api jenis pistol / handgun.
Karena sering bermain game aku dapat mengenali dengan jelas tipe dan jenis senjata tangan berpeluru kaliber 9mm tersebut. Aku pun terkejut dari mana mereka bisa punya senjata pistol, jelas mereka bukan orang biasa.
Karena sangat ingin ke kamar kecil dan tidak mampu menahan lagi akhirnya aku pun minta turun. Suasana jalan pegunungan penghubung antar luar kota itu hanya nampak lalu lalang kendaraan, udara terasa sejuk saat pintu mobil dibuka.
Mas Hans memberi kode pada salah satu pengawalku untuk membawaku ke kamar kecil. Jadi aku tetap menjadi seorang tawanan, aku digiring ke restroom dengan dikawal. Bahkan sampai bilik kamar kecilnya pun diperiksa takut aku lolos lewat jendela dan semacamnya.
Tentu aku tidak berani macam-macam karena aku tahu orang semacam ini nekat, apalagi mereka membawa senjata api, aku bukan tidak mau sekedar mati konyol saja, tapi aku juga tidak mau orang sekitar ada yang ikut jadi korban juga kalau aku mengacau dan berusaha kabur. Sepertinya memang tidak ada jalan lain selain mengikuti dulu ke mana permainan ini mengarah.
Saat kembali ke dalam mobil mas Hans sudah membelikanku beberapa roti-roti makanan kecil juga minuman botolan.
“Kamu lapar? Jangan malu-malu… nih…” katanya.
Memang sejujurnya aku haus dan lapar, dan kulihat botol yang masih tersegel jadi tidak mungkin aku diracun atau dibius, lagi pula kalaupun memang aku mau dibunuh kurasa sudah dari tadi mereka melakukannya.
Akhirnya kuminum air botolan pemberian mas Hans itu dan kumakan juga beberapa roti yang dibeli karena memang aku belum makan siang.
“Lanjut jalan!” perintah mas Hans.
Dan mobil pun melanjutkan perjalanannya.
Sepanjang jalan pikiranku kalut kemelut kacau. Yang ada di bayanganku paling kacau aku diperkosa hidup-hidup, apakah aku mampu melewati semua ini, dan selanjutnya setelah itu? Apa yang terjadi? Entahlah, sebenarnya apa yang terjadi padaku.
“Mas… kenapa mas lakukan ini pada saya? Apa yang mas inginkan?”
“Asik kan? Tidakkah ini menyenangkan? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin sekali pergi dari rumah kamu?” kata mas Hans.
“Apa?? jadi mas sengaja menculik saya? Tapi untuk apa?” kataku.
Mas Hans hanya tersenyum segaris, “santai aja Fiki, nikmati dulu perjalanan ini, nanti begitu sampai juga kamu akan tau begitu kita sampai di tujuan.”
“Mas, saya ingin pulang, tolong jangan sakiti saya, kenapa harus saya? Saya tidak pernah melakukan apa-apa sama mas.”
Mas Hans hanya diam saja.
Tiba-tiba ia mendapat telepon begitu kami turun gunung dan sudah mulai masuk daerah pinggiran kota yang masih terasa sejuk.
“Ya bos… Sudah bos… sudah sama saya… aman bos… ini kita sudah mau sampai.”
“Siap… kira-kira setengah jam lagi kami sampai.”
“Baik bos.”
Dan panggilan telepon itu pun berakhir.
Sekarang bayanganku semakin melayang jauh, apakah aku ini mau dijual. Jangan-jangan mereka ini sindikat perdagangan manusia.
Kemudian mobil masuk ke sebuah gang kecil, dan kembali masuk ke arah pedalaman sebuah kampung yang rumah penduduknya jarang-jarang. Mobil masuk semakin dalam seperti sebuah hutan yang rimbun dengan jalan kecil yang dihiasi pepohonan di kiri kanannya. Matahari sore bersinar dengan lembut bias cahayanya masuk di antara sela-sela pepohonan.
Dan akhirnya pada ujung jalan terlihatlah sebuah rumah besar seperti istana, rumah bercat putih di tengah rimbun hijau. Gerbangnya besar dan tinggi, pekarangannya sangat luas, ada penjaga bertubuh besar di mana-mana.
* * *
[ Don Juan ]
“Ayo turun, kita sudah sampai.” kata mas Hans padaku.
Dan aku pun turun dari mobil itu, sekarang sudah tidak ada yang perlu memegangiku lagi karena seisi rumah itu begitu banyak bodyguard bertubuh besar dan ada yang terang-terangan memegang pistol dan senapan serbu laras panjang.
Ya ampun, aku ada di mana ini? Batinku mencelos.
“Ikut sini.” perintah mas Hans menunjukkan jalan.
Tidak ada yang dapat kulakukan selain menurutinya.
Aku pun mengikuti masuk ke rumah besar itu, kulihat interior cat putih, ukiran artistik dan perabot yang serba antik dan ada banyak sekali patung-patung telanjang yang menghiasi setiap sudut rumah.
Kemudian kulihat di ruang tengah ada beberapa wanita-wanita sungguh sangat cantik, dan dengan pakaian yang sangat minim dan dandanan yang begitu menor. Kaos ketat, rok mini, celana micro pants, dress mini, tanktop, pokoknya pakaian serba terbuka dan tubuh mereka sangat indah, berlekuk pinggul, toketnya juga besar-besar, ada yang ukuran sedang tapi tetap terlihat bulat kencang menyembul sungguh sangat menggoda visual bagi lelaki yang memandangnya.
Sepertinya kutebak mereka wanita-wanita penghibur di sini. Mereka semua melirik dengan genit dan ekspresi nakal.
Aku dibawa ke lantai 2, ke sebuah pintu besar berwarna putih.
Dua pengawal di sana melihat kehadiran mas Hans.
Salah satunya mengetuk pintu.
Tok tok… Mendongakkan kepalanya dan kemudian memberi kode menyuruh kami semua masuk.
Kami pun dibukakan pintu untuk memasuki ruangan besar itu.
Seorang pria berusia awal paruh baya nampak di dalam ruangan tersebut, ia pun berdiri dari kursinya. Tubuhnya nampak sudah mulai sedikit buncit, walaupun bisa dibilang penampilannya masih terlihat gagah.
Kalau mas Hans mungkin masih berusia antara 25 - 30an, si pria paruh baya ini mungkin sekitar 40 - 45 an. Tapi wajahnya pria paruh baya tersebut kuakui masih terlihat tampan selayaknya cowok dewasa belum terlihat setua usianya.
“Selamat datang Vika Vernanda… aku sudah memimpikanmu berada di sini. Luar biasa, akhirnya kamu berada di sini.” ucap lelaki paruh baya itu. “Oh iya, perkenalkan saya Juan Carlos Demarkus, tapi orang biasa panggil saya Juan Domino.”
“Apa yang kalian inginkan dari saya?” tanyaku.
“Lebih tepatnya, apa yang aku inginkan dari kamu…” ucap pria bernama Juan itu. “Aku ingin kamu berada di sini, di tempat ini bersamaku. Aku ingin kamu menjadi Vika… Vika Vernanda. Aku ingin menjadikanmu istriku.” ucap Juan.
“Apaa??? Tunggu!! Apa-apaan ini??” tanyaku.
“Fiki, Tuan Juan ini adalah bosku, ia yang mengutus ku untuk menjemputmu. Ia yang menyuruhku mendekatimu di f*******: supaya aku bisa bertemu dengan mu dan membawamu padanya. Ia selalu mengikuti mu lewat f*******: dan ia sangat menyukai dirimu, dan ia merasa harus memiliki dirimu.” mas Hans berkata padaku.
“Apa??” aku yang terkejut. “Kenapa?? Kenapa harus aku??”
“Aku menginginkanmu.” kata Juan. “Kalau aku menginginkan sesuatu, maka aku harus memilikinya… itulah prinsip hidupku.” katanya lagi dengan singkat dan tegas.
“Mulai sekarang kamu akan tinggal bersamaku dan aku akan mempersiapkan mu untuk menjadi istriku, dan mulai sekarang kamu harus memanggilku Om Juan.” ucapnya lagi dengan nada santai dan lirikan tajamnya yang sudah cukup menegaskan maksud dan keinginannya.
“Apa?? Tunggu… tunggu… tidak… aku tidak mau!! Aku tidak mau!! Aku mau pulang… Ampuni aku om, tolong lepaskan aku.” pintaku dengan mulai setengah menangis.
“Lho, lantas kamu mau ke mana? Kamu mau coba kabur dari tempat ini? Silahkan saja. Tapi sayang sekali kalau aku harus membunuhmu, makhluk secantik kamu lebih layak hidup sebagai pelayan cintaku.” balas om Juan dengan ekspresi nakalnya yang menjijikkan dan membuatku muak.
“Om, jangan… tolong lepaskan saja aku, aku janji nggak bakal bercerita apapun. Kenapa harus aku?” kataku dengan mulai menangis.
“Lho…. Vika, kamu sendiri lho yang mau, kamu bilang kalau kamu ingin pergi dari rumah karena kamu sudah muak di sana. Aku sudah mengabulkan permintaanmu, dan sekarang kamu harus menjadi istriku. Dan aku lihat kamu tidak ada masalah dengan hal itu, aku selalu menonton video mu dan kulihat kamu sangat nyaman menjadi wanita.” balas om Juan.
“Om… ampun Om… lepaskan saya, saya nggak mau jadi wanita… saya mau pulang ke rumah orang tua saya…” aku merengek pasrah.
“Bawa dia ke kamarnya, panggilkan Angelina dan Sofia untuk segera mengurusnya.” perintah om Juan.
Dan aku pun digiring pasrah sambil menangis oleh dua orang bertubuh besar. Melawan atau meronta pun percuma, sekarang ini aku hanya bisa mengikuti dulu apa keinginan si Om gila itu karena tidak ada jalan lain untukku meloloskan diri.