Angelina dan Sofia

2864 Kata
Kemudian aku dibawa ke ruangan lain, dan ada dua wanita seksi yang masuk ruangan itu kemudian aku ditinggalkan bersama kedua wanita seksi itu. Sementara dengan perasaanku yang kalut membuatku menangis tanpa dapat kutahan. Tapi mereka berdua sepertinya nampak terpana melihatku. “Ya ampun, manis banget Cun.” kata salah satu wanita itu. “Putih, mulus, imut-imut banget, dapet dari mana nih anak?” timpal satu wanita di sebelahnya. Mereka berdua pun mendekati diriku. “Halo manis, siapa namanya?” sapa seorang yang berpakaian tanktop hitam dan celana hotpants putih. Dadanya terlihat putih bulat besar menyembul busung dari belahan tanktopnya. Suaranya terdengar lembut walau agak rendah nyaris bias antara suara alto cewek atau suara tenor cowok. Wanita itu mendekatiku, memeluk dan membelaiku, dadanya terasa begitu empuk menempel di lenganku. “hiks… hiks…” tapi sementara itu aku hanya bisa menangis. “Ush ush… cup cup.. sayang, udah donk jangan nangis, kamu kan nggak diapa-apain, nggak disakitin juga kan?” kata seorang yang berkaos pendek pink dan rok hitam yang sangat mini, nyaris sampai pangkal pahanya yang juga begitu putih, ramping jenjang dan begitu mulus tidak kalah seksi dari si wanita pertama yang masih memelukku. Wanita ini juga ikut membelai dan memegang tanganku. Sentuhannya terasa begitu lembut di tanganku. Aku menoleh ke arah mereka berdua yang tersenyum padaku. Belum pernah aku melihat wanita dewasa seksi dari jarak begitu dekat denganku seperti ini. “Namaku Angelina dan ini Sofia.” kata wanita yang bertanktop hitam yang memperkenalkan diri. “Jangan sedih donk, kamu akan kami jadikan cantik dan seksi seperti kami.” kata Sofia dengan lembut. “Hah? Apa?? Aku nggak mau… aku cowok… aku nggak mau jadi istrinya om Juan.” kataku mewek. “Lhoo… nggak usah takut, kamu bakal dimanjain dan dapat kemewahan dari om Juan, sayang. Kamu malahan bakal hidup enak, apa aja yang kamu minta pasti dibeliin.” kata Angelina. “Udah ah yuk, sekarang kamu mandi dulu biar wangi dan bersih, abis itu ganti baju.” kata Angelina. “Udah, ini lepas dulu bajunya.” kata Sofia yang melucuti kancing baju putihku. Aku masih dalam keadaan berseragam sekolah kala itu. “Eh, tunggu-tunggu…” kataku yang menahan kancing bajuku. “Ah, kenapa? Malu? Ngapain malu, kita kan bakal jadi sejenis nantinya.” kata Angelina. “Ihihihi asik, dapet adek baru, masih anak SMA, imut-imut.” kata Sofia. “Mandi bareng yuukk saay.” kata Angelina. “Eh, tapi kita nggak boleh apa-apain dia Cun, perawannya dia milik bos, inget! Lu mau digantung?” kata Sofia. “Nggak lah beb, gila kali, kita mandiin aja dia biar bersih. Eh inget tuh bos kan mau dia kinclong dan cantik tepat waktu sebelum jam makan malam. Dia mau diajak dinner.” kata Angelina. Kemudian mereka berdua menyiapkan air hangat dan keperluan mandi. “Sini sayang, yuk mandi.” ajak Sofia menarikku yang sudah tinggal ber CD saja masuk ke dalam kamar mandi di kamar tersebut yang ternyata sangat luas dan besar. Ada bathtub besar model jacuzzi, ada shower pancuran sendiri, wastafel, bilik kloset, lengkap sudah seperti di hotel mewah. “Duh lepas donk CDnya.” Angelina yang spontan memelorotkan CD ku dan praktis akupun telanjang bulat. “Ih CD cowok, buluk, apek cyiin.” kata Sofia sambil membuang CDku ke tong sampah. Ya entah kenapa CD cowok tuh selalu kelihatan buluk, apek dan lusuh. Aku nggak pernah punya CD cowok yang seksi seperti model-model cowok karena harganya sangat mahal. Selama ini aku cuma dibelikan CD kolor bahan model pasar yang warna-warna putih lusuh. Aku yang telanjang lantas malu dan menutup bagian intim ku. Kemudian kulihat Angelina dan Sofia juga ikut melucuti pakaian mereka, hingga terlihatlah gumpalan t0ket mereka yang begitu bulat besar tapi masih terbungkus Bra. Tapi tentu saja sebagai laki-laki normal aku pun terangsang secara visual yang membuat si burung di bawah jadi berdiri tegang dengan sendirinya meskipun sudah kutahan sebisa mungkin. “Ih, ngaceng dia beb.” kata Sofia. Aku semakin malu teramat sangat karena ngaceng di depan mereka berdua, sementara mereka berdua cekikikan. Kemudian Angelina berdiri tepat di hadapanku sepertinya ia sengaja menggodaku. Satu tangannya mengarah ke belakang, tepatnya ke pengait BH di punggungnya dan… CTIK… Satu jentikan lepaslah pengait Bra tersebut dan tuing… Bra tanpa tali bahu itu lepas dan blukk… bergelayut seksi sepasang t0ket bulat besar yang nampak begitu kenyal dengan kuncup kecoklatan yang bulat merekah. Sebagai darah muda dengan hormon seks yang masih sangat bergejolak tentu aku pun semakin-makin menjadi, teganganku mulai berdenyut disuguhi pemandangan tersebut. Biasanya melihat pemandangan tersebut di internet atau di situs-situs prono sudah membuatku merancap habis-habisan menagih kepuasan pribadi. Dan sejujurnya saat ini aku ingin sekali melepaskan rasa gelisah yang mendera diriku saat melihat pemandangan yang disuguhkan wanita dewasa di hadapanku ini. “Ihihihihi…” Sofia nampak semakin cekikikan. Namun, saat Angelina memelorotkan celana hotpantsnya dan aku pun curiga melihat sesuatu menonjol dari pantiesnya. Dan ia pun memelorotkan pantiesnya juga. Dan… Tuing… Ada benda yang tiba-tiba gelayut bergoyang dan langsung seketika tegang menunjuk padaku. Aku terbelalak, terkejut, shock berat, kalau aku punya penyakit jantung mungkin aku sudah serangan jantung. Aku melihat wanita seksi luar biasa cantik dan bodi aduhai itu ternyata memiliki pen1s yang panjang. “Ahahahaha… kaget dia liat k0nt0l, padahal sama-sama punya k0nt0l.” ledek Sofia. Sofia pun ikut menelanjangi dirinya dan miliknya juga tidak kalah besar dari milik Angelina. “Koq… koq… kalian punya k0nt0l??” kataku yang terkejut melinglung. “Hah?? kalian Cewek kan, tapi koq… itu…” “Kami ini waria.” kata Angelina. “Dan semua cewek yang ada di rumah ini semua waria sama seperti kami.” lanjut Sofia. “Kita semua waria simpanannya om Juan.” lanjut Sofia lagi sambil tertawa genit. Apa? Aku sungguh tidak percaya, karena yang jelas kulihat dua orang di hadapanku ini adalah wanita berfisik sempurna, tubuh yang molek, kulit yang cerah halus, lembut, berkilau. Belum lagi bentuk tubuh yang tidak dapat kupercaya kalau itu bentuk tubuh cowok, lekuk pinggul mereka sintal molek menggoda, p****t mereka jadi begitu bulat berisi membuat pinggang mereka terlihat ramping. Kalau t0ket jangan ditanya, apa yang baru saja kulihat sudah cukup membuatku pusing berdenyut-denyut. Tapi ternyata mereka semua adalah wanita setengah pria, wanita berfisik sempurna namun dengan kelamin pria. Mereka adalah para Transvestis. Dibalik tubuh yang sintal molek berlekuk bagai gitar spanyol, mereka adalah para wanita-wanita bertytyd. “Tenang aja sayang, kami nggak bakal apa-apain kamu koq, kamu jatahnya om Juan nanti.” kata Angelina. Kemudian mereka menarikku masuk ke bathtub model jacuzzi besar yang sudah disiapkan dengan air hangat dan sabun mandi. Kedua waria itu memandikanku, dengan sabun yang sangat nikmat sekali wanginya. Sabun yang belum pernah kulihat merknya, aku taunya cuma sabun yang dibeli di warung atau minimarket terdekat. Mereka menggosok seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai mata kaki, tidak luput belahan ketiak, s**********n dan p****t, pokoknya seluruh sudut bagian tubuhku dibersihkan tanpa terkecuali. Sungguh sejenak itu rasanya nyaman sekali dimandikan air hangat digosok sabun yang begitu wangi. Bahkan saat menggosok bagian intim ku, Angelina nampak sengaja memainkannya, membuat k0nt0lku begitu tegang dan berdenyut ngilu. Tapi entah kenapa aku pasrah saja, aku tidak lagi malu dan sekarang pikiranku justru kosong karena tidak tahu lagi apa yang harus ku pikirikan. Bahkan sampai aku nyaman sendiri bersandar di d**a Sofia saat diremas-remas nikmat, sedikit lagi sepertinya aku sudah mendesah-desah. “Keenakan dia tuh Cun.” kata Sofia. Dan begitu mendengar kata-kata Sofia spontan aku pun tersadar dan menarik tangan Angelina dari sana. Padahal aku masih sangat ingin menagih puncak pelepasan sampai cairan putih ku keluar. Kalau dilakukan lebih lama lagi mungkin aku sudah pasrah digarap oleh dua waria ini. Aku menunduk begitu malu. “Oh iya, nama kamu siapa?” tanya Angelina. “Aku Fiki.” kataku. “Lho, mau jadi cantik koq namanya Fiki, hmm aku yang pilihin deh nama kamu siapa ya?? Yang cocok buat cewek kecil imut-imut kayak kamu.” kata Sofia. “Rosa, Julia, Ella.” Sofia bergumam. “Vika… Itu namaku… Aku nggak mau dipanggil yang aneh-aneh selain Vika.” kataku lagi menyambar, entah bagaimana kata-kata itu meluncur sendiri dari mulutku. “Hm, ya oke Vika bagus juga, ih kayaknya kamu udah ada jiwa banci deh. Oke, mulai sekarang kamu adek kami dan kamu harus nurut apa yang kami suruh. Pokoknya kamu bakal kami jadikan cantik dan seksi seperti kami berdua supaya sukses jadi istri om Juan.” kata Angelina. Selesai membilas dan mengeringkan tubuhku, kemudian aku dibalurkan lagi dengan berbagai losion perawatan kulit. Cream-cream yang wangi dan lembut itu terasa nyaman dan sejuk di tubuhku. Aku pun terpesona melihat kulitku sendiri yang menjadi terlihat lembab alami dan glowing, bau tubuhku begitu harum feminim. Setelah itu aku dipakaikan panties dan BH ukuran cup A karena aku belum punya t0ket. Kemudian mulailah mereka merias wajah ku dengan make up lengkap, tapi terlihat sekali mereka sudah sangat pro dengan tata rias wajah, memadukan base primer dan foundation merk mahal yang membuat wajahku bahkan tidak terlihat natural tidak seperti di-makeup. “Wah, bentuk wajahnya udah enak banget nih, mukanya soalnya udah feminim.” kata Angelina yang sedang memoles-moles kontur wajah ku. Bahkan mereka sampai menguris dan membentuk ulang alisku jadi semakin melengkung feminim. “Alisnya juga gampang banget dibentuk, dasarnya udah bagus, kayak cewek.” kata Angelina juga. Kemudian garis mataku saja yang dipertegas dengan eyeliner, membuat mata ku terlihat semakin bulat dan lebar. Mataku tidak terlalu diwarnai karena mereka hanya membuat makeup model minimalis sekedar fresh looking saja. “Udah biasa dandan deh kayaknya dia, buktinya gampang dipakein eyeliner.” kata Angelina. Ya mereka nggak tau aja kalau aku cosplayer crossdresser. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau sekarang aku akan dijadikan wanita sungguhan sama orang gila bernama Juan Carlos Demarkus ini. Selesai dandan aku dipakaikan wig alias rambut palsu yang bahannya nyaris benar-benar rambut asli. Pastinya merk wig mahal bukan abal-abal. Jadi rambutku sudah seperti di-extension saja. Setelah itu tentu saja disiapkan baju untukku. Aku diberikan sebuah baju santai, model dress pendek terusan yang panjangnya hanya sampai pangkal pahaku pas menutupi pantatku, tali bahunya juga hanya segaris, jadi bahu dan lengan ku juga ikut terbuka. Tapi bahannya sungguh sangat nyaman, adem dan enak sekali di kulit. Kemudian aku pun dibawa berkaca, kulihat seluruh tubuhku yang dibalut dress dengan dandanan yang sudah komplit itu. Mendadak aku telah berubah jadi cewek kecil, putih, feminim, berwajah imut-imut manja, berambut panjang sepunggung. “Ya ampuun Cun, om Juan pasti seneng banget, punya cewek imut model loli gini.” kata Sofia. “Iya, makanya kali dia udah bosen sama yang tua-tua kayak kita.” kata Angelina. Aku sendiri sejujurnya mengagumi sosok diriku yang ada di cermin itu. Tapi kekagumanku hanya sebatas lalu, karena aku sadar dengan nasibku sekarang, sepertinya aku telah diculik dan dijadikan waria peliharaan om-om hidung belang. Lantas setelah ini aku akan diapakan? “Nggak mauuu… Fiki mau pulang…” kataku yang tiba-tiba merasa kesedihan dan kegalauan ku memuncak kembali. “Ehhh, Vika… jangan begitu donk… udah.. udah, jangan nangis sayang. Nanti cantiknya ilang…” kata Angelina yang langsung memelukku. Aku heran pelukan dari Angelina seperti bisa menenangkan pikiranku sejenak saat itu. Malah aku balas memeluk Angelina, aku merasa mendapat sedikit kenyamanan dan rasa terlindungi. “Kenapa harus sedih, sayang? Jalanin aja. Apa ruginya sih, kamu bakal hidup mewah, kamu punya kehidupan baru sekarang.” kata Angelina. Aku pun diam dan bersiap menerima nasibku. Angelina dan Sofia mengantarku keluar. Suasana sejuk di villa mewah tersebut sejenak membuatku nyaman dan tenang, ditambah tubuhku yang begitu segar dan wangi setelah dimandikan. Sejenak entah kenapa aku seperti merasa nyaman jadi sosok seperti ini, merasa dimanjakan seperti wanita, cantik, wangi dan seksi. Tapi aku tetap saja ingat kalau ini bukan aku, aku begini karena dipaksa menjadi seperti ini. Aku diajak santai di ruang tengah bersama beberapa wanita lainnya yang ternyata mereka juga adalah para wanita bertytyd. Rupanya om Juan ini adalah penyuka waria, dia suka wanita-wanita berk0nt0l yang entah kenapa baginya itu sangat menarik, orientasi seksualnya memang terdengar aneh dan tidak biasa. Para waria di sana begitu kagum ketika melihatku, bahkan mereka bertanya-tanya bagaimana aku bisa punya suara seperti ini, ya karena memang suaraku tidak berubah dari dulu, tetap saja tinggi seperti suara cewek. “Mulus banget cyiin.” kata salah satu dari mereka. Ya memang bulu-bulu di tubuhku juga tidak tumbuh normal, bulu ketiak tumbuh dengan sangat lambat dan tumbuhnya pun sangat tipis sekali, kakiku bahkan mulus seperti kaki wanita, jangan tanya jenggot dan kumis, nggak pernah tumbuh sama sekali. “Ah ini dia calon istriku, ya ampun cantik sekali.” tiba-tiba om Juan muncul di ruangan tersebut dan ia menarik tanganku. Aku pun menerima dengan pasrah dan mengikuti ke mana om Juan membawaku. Mas Hans selalu berada di dekat kami, karena ia adalah orang kepercayaan nomor satu, tangan kanannya om Juan. * * *   = [Makan Malam ] =   Ternyata aku diajak makan malam di sebuah ruangan khusus, di meja tersebut hanya ada kami berdua. Makanan dihidangkan satu per satu mulai dari hidangan sup pembuka, sampai main course yang sepertinya sebuah daging ikan fillet dipanggang seperti yang sering kulihat di restoran mahal. “Kenapa? Ngapain kamu malu-malu makan? Atau kamu tidak suka dengan menunya?” tanya om Juan. Sebenarnya bukan itu masalahnya, tapi apa yang sedang terjadi sekarang lah yang membebani pikiranku, bagaimana mungkin sekarang aku sedang menemani laki-laki paruh baya dengan penampilanku sebagai anak gadis demi memuaskan fantasi gilanya. Tapi ketika kucicipi sepotong ikan fillet tersebut, tubuhku berkata lain, aku yang lapar seharian itu akhirnya menghabiskan makanan yang disajikan di hadapanku itu. Lalu gelas yang ada di sampingku yang kutahu itu adalah gelas Wine dan dituangkan lah padaku dari botol oleh seorang pelayan pribadi. Setelah main course kemudian disajikan hidangan penutup berupa puding dan potongan buah-buahan. Om Juan kemudian mengangkat gelas wine nya dan menyuruhku ikut meminum wine yang disajikan padaku juga. Aku melirik gelas goblet tersebut, seumur-umur aku belum pernah merasakan apalagi mencicipi minuman beralkohol, aku juga tidak pernah tertarik ikut nakal-nakalan teman-teman sekolahku yang sok-sokan mencoba-coba alkohol anggur murahan sebagai simbol kenakalan remaja. “Ayo… minum.” suruh om Juan padaku. Dan kucicipi juga lah cairan yang ada di gelas goblet tersebut sesesap dan terasa sensasi awal yang pahit campur manis hangat di tenggorokan. Om Juan mengangkat tanganku dan membuatku meneguk lebih banyak, jadilah tertelan dua teguk yang rasanya getir untukku dan spontan aku menghentikan. “Udah om… pahit.” kataku. Tapi perlahan aku mulai merasa hangat, ringan, sekaligus juga pusing di waktu yang bersamaan. Dan entah kenapa beberapa saat aku merasakan sensasi pusing tersebut aku malah menagih ingin mencicipi rasa getir, manis, misterius dari gelas yang berisi cairan beralkohol hasil fermentasi anggur tersebut. Aku pun meneguk lagi sisa yang ada di gelas tersebut hingga habis, entah kenapa minuman itu mulai terasa nikmat di tubuhku dan aku tidak mengerti kenapa tubuhku malah menagih rasa dari minuman yang aneh itu. Kemudian om Juan berdiri dan mendekat ke arahku yang sudah tipsy. Aku menatapnya dengan mataku yang sudah sayu, tanganku digenggam lembut dan ia menarikku untuk ikut berdiri dan aku pun menurutinya. Aku digandeng ke sebuah balkon yang ada pemandangan perbukitan yang menjorok ke lembah yang ada perkampungan di bawahnya. Lampu-lampu rumah penduduk terlihat kerlap-kerlip menyala menghiasi perkampungan yang terlihat di kejauhan di malam hari itu. Udara sejuk di balkon berhembus di wajah dan kulitku, terasa begitu sejuk sampai membuat mataku terpejam dengan sendirinya saat menikmatinya. Tubuhku yang hangat dengan efek alkohol disambut dengan kesejukan angin yang berhembus, entahlah, rasanya seperti sebuah sensasi tersendiri. Tanpa sadar aku pun juga menikmati sentuhan om Juan di kulit bahu ku, hingga ke lenganku yang terbuka, kemudian turun ke pergelangan tanganku dan entah kenapa aku menyambutnya menggenggam tanganku. Hingga aku tersadar kalau aku sudah didekap pelukan dari belakang. Tubuh om Juan terasa hangat di punggungku, hembusan nafasnya juga begitu terasa di leherku, tepatnya tengkuk belakang di bawah telingaku. Begitu om Juan menghembuskan nafasnya, mengapa aku malah jadi memalingkan dan mendongakkan wajah ku hingga leherku sebelah kanan terbuka untuknya. Dan tentu saja bibir om Juan mendarat di bagian kulit leherku yang paling tipis itu. Aku pun dapat merasakan ciumannya yang mulai basah di leherku. “Mmmhhh… om… jangan…” kataku. “Kamu putih banget, bening dan wangi, nggak salah om pilih, kamu benar-benar nyata.” balasnya sambil terus asyik mencium-cium leherku. “Ooom… ampun om… lepasin Fiki..” “Usshh… nama kamu bukan Fiki kan, nama kamu Vika.” “Apa?” aku terkejut. “Vika sayang.” sebutnya lagi. “Om…” Dan aku tidak tahu mengapa nama itu menjadi mantra aneh yang membuatku pasrah. Syut… Tiba-tiba aku sudah digendong bridal, dan aku berpegangan mengalung pasrah diangkut oleh om Juan. Sebetulnya aku pasrah karena nikmat atau karena aku putus asa tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kulihat Angelina dan Sofia tertawa cekikian melihatku. “Woow, malam pertama cyiin, langsung di-gas beb.” mereka berbisik-bisik. “Pelan-pelan om… anak perawan.” ledek Sofia. Om Juan tersenyum gembira. Kulihat mas Hans yang menatapku dari jauh, tatapannya datar. Aku… Ya aku… pasrah… Terserah apa yang mau terjadi padaku. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, aku tidak mau menebak apa yang akan terjadi padaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN