Punch Out

1404 Kata
Hari ini kulihat Icha terlihat sendiri di kantin, jadi aku mengajak Rino untuk duduk di dekat Icha. “Ah, nggak ah, nanti ada monyetnya lu dipites cuy.” kata Rino. “Lho, Rin, kita kan nggak ngapa-ngapain, kita nggak salah koq takut sih. Ya udah kalau lu nggak mau gue samperin Icha dulu ya.” kataku. Tapi kulihat Rino mengikutiku juga. “Hai, Icha.” kataku. “Eeeh… Fiki…” ia nampak berbinar-binar dan menarik tanganku duduk di sebelahnya. Tapi aku menjaga jarak sedikit dengannya. “Kenapa jauh-jauh?” tanya Icha. “Nggak enak Cha, nanti dilihat cowok kamu.” kataku. “Biarin, dia juga lagi sama cewek lain, dia lagi sama Sarah.” kata Icha. Sarah adalah cewek ketua pemandu sorak, walaupun masih kelas satu SMA tapi memang Sarah yang paling cantik dan seksi, tapi cantiknya hasil polesan makeup, kalau menurutku mukanya cenderung boros, udah kayak anak kuliahan, tapi ya bodinya oke sih, toketnya gede, bodinya bohai. Kalau buatku sih masih lebih menarik Icha, cantik alami, imut-imut tanpa perlu makeup tebal juga menarik. “Icha nggak suka dipaksa-paksa, Johan dikit-dikit nyosor. Ya awalnya sih nggak apa-apa namanya pacar, tapi lama-lama koq kayak nggak nyaman ya.” kata Icha. Sementara aku lagi-lagi cuma bisa terdiam, karena aku kan belum pernah pacaran, boro-boro ciuman. * * * Tiba-tiba seseorang menarik kerah belakang bajuku dengan kencang sampai aku terjengkang jatuh ke belakang. “Eh… rupanya di sini lagi nongkrong lagi sama si kecoak.” “JOHAANN!! Apa-apaan sih kamu.” Icha langsung berdiri dan membantuku yang jatuh terjengkang. “Kamu sekarang jadi bergaul sama kecoak sih, nggak jijik apa?” kata Johan. “Kamu tadi ngapain sama Sarah? Kenapa dia gelendotan nempel-nempel sama kamu malah kamu biarin?” kata Icha. “Aku minta cium aja kamu nggak mau, Sarah aku apain aja mau, kayaknya apa aku tinggalin aja kamu ya…” kata Johan enteng. “Ooh kamu gitu ya sekarang?” ketus Icha. Kemudian Sarah muncul dari belakang Johan dan menempel gelendotan di lengan Johan, sepasang susunya yang besar bertempelan lekat di lengah Johan. Dan tiba-tiba entah bagaimana mereka berciuman di depan Icha dan aku, dengan sangat erotis seperti di film-film, entah bagaimana Sarah sangat pandai melakukannya sampai sebelah kakinya mengapit pinggang Johan dan Johan menarik pinggul Icha menempel erat dengan pinggangnya kemudian ditambah pula meremas p****t bohai Sarah yang ketat di rok sekolahnya yang paling pendek di antara siswi lainnya. “Aku ingin cewek yang kayak gini, kenapa hah?” kata Johan. “Jo—Haan… tegaa kamuu…” ucap Icha lirih dan terlihat berkaca-kaca.. Aku tidak tega melihat Icha menangis. “b******k luu, b******n !” kataku sambil menerjang mendorong Johan sampai ia terjatuh. Tapi salah satu temannya kemudian meninju perutku dan segera membuatku tersungkur terbatuk-batuk. “Oooh… kecoak… lu berani sentuh gue!! lu bakal mati… gue jamin… hari ini juga lu mati…” kata Johan. “Sekarang kita bubar dulu.. tinggalin tuh kecoak.” kata Johan kepada teman-temannya. “Fiki… kamu nggak apa-apa?” tanya Icha. Aku mengangguk, tapi kepalaku agak pusing dan perutku benar-benar mual. “Aduin aja ke guru.” kata Icha. Aku menggeleng, “nggak usah nambah keributan, udah yang penting kan Johan nggak bakal ganggu kamu lagi. Udah biarin aja tuh dia sama cewek murahan itu, Icha nggak pantes mendampingi Johan.” kataku. Icha membantuku berdiri dan menyuruhku ke ruang UKS saja tapi aku juga menolak. “Udah ah, cuma kena pukul dikit aja.” kataku. * * * Akhirnya jam pulang sekolah, Hari ini Icha menunggu dijemput sama supirnya, ia menunggu di depan sekolah. Sementara aku menunggu Rino, karena rencananya hari itu aku mau mabar ke rental sama Rino. Kutunggu Rino yang sedikit terlambat keluar kelas entah karena apa, mungkin dia telat mengerjakan tugas. Akhirnya Rino keluar kelas, dan menghampiriku. Tapi tiba-tiba di saat yang bersamaan kami juga didatangi sama Johan dan kawannya sekitar enam orang. Saat itu suasana sekolah sudah sepi. “Nah, kan udah gue bilang lu bakal mati…” kata Johan. “Woi… lu mau ngapain…” Kemudian dua orang teman Johan memegangiku di kiri dan kanan. “Eh, lu temennya kecoak? Lu siapa? Kutu kupret? Mo ikut dipites juga?” kata Johan kepada Rino. Rino seketika gelagapan. “Nggak bang… peace… gue nggak ikut-ikutan, silahkan urusan lu apa aja, gue nggak ada hubungannya sama sekali sama nih orang.” kata Rino sambil mundur-mundur. “Minggat sana luuu !!” teriak salah seorang teman Johan. Rino pun tunggang langgang terbirit-b***t. “Nah, kecoak… sekarang lu rasain akibat perbuatan lu…” kata Johan yang menyeretku ke bagian gedung kosong paling belakang yang tidak terpakai di kompleks sekolah. * * * BHUAAAKKKK…. UHUUUOOEEEKKK… Sebuah tinju melayang bertubi-tubi ke perutku. BHUUAKK.. BHUUUKK.. BHAAUUKKK.. Tak luput wajahku pun ikut jadi sasaran samsak hidup, berpuluh-puluh tangan yang tidak dapat kulihat datang silih berganti menghajar wajahku. * * * [Icha] Sementara Rino tunggang langgang dan menabrak Icha yang ternyata masih menunggu supirnya yang terlambat. “Rino!! Kenapa sih!!??? Jalan pakek MATA donk!!” bentak Icha. Tapi Icha terkejut melihat wajah Rino yang pucat. “Eh, Rino katanya mau main sama Fiki, Fikinya mana??” Rino melotot sambil terengah-engah. “Rinooo?? Kamu kenapa?? Rino, Fiki mana??” tanya Icha lagi. Sementara mobil yang menjemput Icha sudah datang, supirnya turun dan membukakan pintu. “Sebentar pak Asep.” kata Icha. “Rino…!!! FIKI MANA!!!???” kata Icha sambil mengguncang-guncang badan Rino yang pucat. Dan akhirnya Rino pun tersadar. “Fiki sama Johan…” hanya itu saja kata-kata yang keluar dari bibir Rino. Icha berdiri dengan cemas dan bingung, perasaanya tidak enak. “Non Icha mau ke mana?” kata Pak Asep yang bingung. Icha berlari kembali ke dalam sekolahan, ia mencari-cari sampai ke bagian belakang gedung sekolah dan mendapati pemandangan yang sangat mengejutkan. “KKYAAAAAAAAA…..!!!!!!!” teriakan cempreng menggelegar bergema begitu kencang. Spontan enam orang termasuk Johan langsung berhenti dan menengok ke arah Icha. Gadis itu berlari ke arah mereka. Seorang bocah, kurus, pucat, sedang meringkuk, melengkung udang, menahan rasa sakit di perutnya, sementara wajahnya sudah babak belur tertutup darah warna merah gelap. Icha berlari mendorong siapapun yang ada di sana dan berlutut memegangi Fiki. Rino berlari menyusul di belakang dengan Pak Asep, dan juga pak Iwan guru olah raga yang kebetulan masih ada di sekolah jam tersebut. Pak Iwan langsung berang dan men-tempeleng semua murid-murid itu satu persatu. Rino berdiri kebingungan dan gemetar, pak Asep juga terdiam. Sementara Icha berteriak histeris, “Tolong dibantu dulu dooonkk!!! Ini koq darahnya nggak mau berhentiii !!!” kata Icha yang berteriak histeris. Sementara si bocah kurus itu terus menerus batuk tercekik dan mulutnya tidak berhenti mengalirkan darah kemerahan kental. “FIKIIIII !!! AAAAARRGGHHH !!! JOHAN KAMU JAHAT BANGET AKU BENCI KAMUU !!!!” teriak Icha histeris. Icha hanya bisa berteriak panik, sementara baju seragam Icha sudah bermandikan darah milik Fiki yang tidak berhenti keluar dari mulutnya, Fiki juga batuk-batuk tercekik seperti sesak nafas. Akhirnya Pak Iwan dan Pak Asep bantu mengangkat tubuh Fiki, dan minta pak Asep melarikan Fiki ke rumah sakit terdekat segera. Sepanjang jalan Icha memegangi Fiki di jok belakang mobil, dipeluknya Fiki di dadanya tanpa peduli apapun juga saat itu. Fiki terlihat kejang dengan mata terpejam tak sadarkan diri. Sampai tiba di UGD, Fiki langsung dibawa untuk perawatan dan orang tua Fiki segera dikabari. * * * Seketika itu pun heboh besar terjadi. Keluarga dan keluarga saling tuntut. Antara keluarga Fiki dan keluarga Johan, juga dengan pihak sekolah, mereka saling melempar kesalahan dan lempar-lemparan tuntutan. Sementara Fiki kritis karena luka pendarahan dalam, lambungnya disedot karena tergenang darah, ia disuntik obat dosis tinggi untuk mengatasi luka dalam. * * * Orang tua Icha menjemput Icha di rumah sakit, terkejut melihat seragam putih Icha berubah merah darah, tangan dan wajah Icha juga terkena noda darah. “Icha, kamu kenapa nak, kamu nggak apa-apa?” “Aku nggak apa-apa ma, ini bukan darahku, Fiki dipukulin sama Johan.” kata Icha. “Apa?? Gara-gara apa?? tapi koq bisa sampai begini.” “Fiki luka dalam.” kata Icha. “ya udah nak ayo pulang.” kata mamanya “Nggak mau!! Icha mau nungguin Fiki sampai sadar… Icha nggak mau pulang…” Orang tuanya sudah membujuk-bujuk tapi Icha tidak mau pulang. Akhirnya mamanya pulang membawakan Icha baju ganti dan makanan. Icha menunggu Fiki sadar di ruang tunggu pasien.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN