Ternyata si mas Hans semakin gencar maju tak gentar memburuku, notif HP ku sampai banjir dengan chat-chatannya.
Tapi saat itu aku masih cuekin saja, ku-silent notif dari dia dan beres.
Lanjut main game.
* * *
Si Icha semakin gencar pula main dan dekat-dekat denganku, di saat Johan selalu sibuk dengan teman-teman basketnya Icha duduk dan main mengobrol denganku. Icha semakin tidak malu-malu untuk bercanda-canda denganku, aku pun mulai nyaman dan tidak canggung lagi ketika berada di dekat Icha.
Suatu hari Icha sebenarnya bercanda karena ia memaksaku mencicipi telur dadar buatannya, karena aku sedang tidak mau makan, ia malah mamaksa dengan menyuapiku.
“Sesuap ajaa… nih cobaiiin… Icha udah masak capek-capek…” katanya.
Lhaa… emang kamu masak capek-capek buat siapa?? Kenapa jadi gue yang harus dipaksa makan.
Tapi akhirnya aku makan juga telur dadar buatannya itu.
“Enak kaan?”
“Enak sih…” kataku.
“Ya udah nih habisin sama nasinya sekalian.” kata Icha.
Duh koq jadi aku harus makan, aku kenyang nih.
“Makan aah, cuma dikit koq.” kata Icha.
* * *
Tapi saat kami sedang asik bercengkrama seperti itu tiba-tiba Johan muncul bersama beberapa orang temannya.
“Oooh ternyata di sini sama temen barunya… sejak kapan kamu bergaul sama bocah culun ini?” kata Johan.
“Johan apaan sih kamu, aku cuma ngobrol-ngobrol aja. Tadi kamu kan lagi asik main sama temen-temen kamu.” kata Icha.
“Sekarang kamu lebih nyaman bergaul sama anak-anak cupu ini?” ketus Johan.
“Emang kenapa sih aku kan orangnya nggak pernah pilih-pilih temen.” kata Icha.
“Sayang, kalau kamu bergaul sama bocah cupu kamu bakal dianggap cupu juga sama temen-temen yang lain nanti.” kata Johan.
“Emang apa salahnya sih, Fiki nggak salah apa-apa koq.” kata Icha.
Johan menoleh ke arahku.
“Eh, kecoak, lu suka sama cewek gue hah?”
“Eh, Johan… santai donk, nggak ada apa-apa koq.” kataku.
“Woi, kecoak, lu nggak pantes panggil gue pake nama, lu harus panggil gue bang.”
“I—iya, terserah lu deh bang…”
Kemudian Johan menoleh ke arah Rino, “lu temennya si kecoak?”
Rino seketika berdiri dan mundur.
“Gue… nggak ada urusan… bang… damai… peace… gue cabut dulu yaa…” Rino pun ngibrit langkah seribu.
“Eh lu tau nggak nasibnya kecoak?” kata Johan kepadaku.
Aku diam saja tidak menjawab.
“Johan udaah aaahhh nggak lucu tauuu…” seru Icha dengan suara cemprengnya.
Tapi Johan tidak peduli.
“Kecoak tuh nasibnya diinjek sampe mejret, nah nasib lu bakal kayak gitu tuh kalau lu sekarang nggak lari.” kata Johan sambil menatap dengan sangar.
Aku pun jadi ketakutan dan berdiri mundur menjauh.
“Sana!! Lari luuu!!! banci!!”
“Banci..!! Banci..!! Banci..!! Banci..!!” semua teman-teman Johan berseru.
“Ahahahahaha…” kemudian mereka tertawa-tawa dari kejauhan.
* * *
Hari berikutnya Icha sedikit menjaga jarak denganku, tapi kalau ketemu di lorong pada saat jam istirahat kami tetap bertegur sapa seperti biasa.
Tapi hari itu ia menemani Johan seharian, sampai di kantin pun ia duduk di tengah-tengah Johan dan teman-temannya anak basket dan beberapa cewek dari klub pemandu sorak.
“Woi… kecoak!!” seru Johan dari meja tempatnya nongkrong.
Aku malas meladeni.
“Wooii… kecoaaak!!” lagi dia berteriak.
“kecoak.. budek banget dah si kecoak… antenanya putus kali apa abis minum baygon…” ledek temannya yang lain.
Tiba-tiba seorang temannya nyamperin aku dan menjambak rambutku, memaksaku melihat ke arah Johan.
Dan spontan pemandangan yang terlihat adalah Johan yang lagi mencipok Icha, sementara Icha mendorong-dorong kemudian Icha nampak marah dan hendak menangis. Icha lari meninggalkan kantin.
Di sekolah tidak ada satu pun yang berani melawan Johan, semua yang menyaksikan kejadian itu juga hanya diam saja.
Kriiinggg… bel pertanda jam istirahat selesai membubarkan kantin seketika itu juga.
* * *
Selesai sekolah kulihat Icha yang ada di taman belakang sedang duduk di ayunan taman.
Tanpa memikirkan apapun aku mendekati Icha dan duduk di ayunan sebelahnya.
“Cha, belum dijemput?” kataku yang mencoba basa-basi.
“Bentar lagi.” katanya.
Ia terlihat murung, wajahnya tertunduk, mungkin karena kejadian tadi di kantin.
“Aku pikir Johan dulu orangnya so sweet, menarik, dia suka ngasih aku kejutan setiap ngajak jalan, pokoknya bersama dia tuh romantis dan penuh petualangan.” kata Icha.
Sepertinya ia curcol, tapi aku cuma bisa jadi pendengar, secara aku kan belum pernah pacaran.
“Tapi makin ke sini koq orangnya makin kayak gitu ya? Emang cowok gitu ya? Awalnya aja kita nggak tau, eh kalau udah lama baru deh kelihatan gimana sifat aslinya.” kata Icha.
“Nggak juga sih Cha, nggak semua cowok koq kayak gitu…” kataku.
“Iya, Icha tau, Fiki orangnya baik, cuma Fiki sih pendiem nggak suka bergaul. Coba kamu terbuka sama orang lain, pasti bakal ada yang suka sama kamu.” kata Icha.
Iya sih, pengennya sih kamu yang suka sama aku. Begitulah kataku dalam batin.
“Eh, Icha udah dijemput.” katanya sambil melihat HPnya yang berdering.
“Bye Fik…, eh, pengen lihat Vika lagi deh…” kata Icha.
“Ikut aja live sessionku di f*******:, kamu add facebooknya Vika aja.” kataku.
“Nggak, aku mau ajak Vika jalan malahan…” kata Icha sambil tertawa ekspresi melet bercanda.
“Ah, yakin kamu??” kataku.
“Kamu malu kaan?” kata Icha.
“Kalo aku berani gimana?” kataku.
“beneran lho yaa…” kata Icha.
Hm.. sebenarnya aku nggak yakin juga sih sama tantangan Icha. Ah lagian nggak mungkin dia bisa jalan sama aku, orang dia punya anjing galak di sampingnya.