Bangun pagi ini, kepalaku sedikit pusing. Kejadian kemarin, terus berputar dalam benakku. Bayangan Prilly dan juga harapan yang terpancar dari sorot kedua matanya membuat pikiranku cukup kacau. Bukan aku egois, dengan bertahan untuk tak menerima Mas Dipta kembali, selain luka yang terlanjur menggores, akan banyak hati yang terluka. Termasuk hatiku sendiri, rasaku mulai memudar, seiring kehadiran Pak Ryan di hatiku. Setelah sholat subuh, aku menyiapkan baju kerja dan beberapa berkas pekerjaan kantor yang sempat aku bawa pulang. Merapikan dan memasukan berkas tersebut ke dalam sebuah map plastik. Menutup laptop kemudian mengembalikan ke dalam tas. Selesai dengan persiapanku sendiri, giliran menyiapkan keperluan Prilly. Aku memeriksa kembali buku-bukunya dan juga tugasnya. Setelah kupast

