"Kay, ikut senang. Semua sudah akur menjadi keluarga besar." Aku membuka obrolan saat kami sudah merebahkan raga yang lelah di atas peraduan. Mas Dipta dan keluarganya datang, untuk menjalin silaturahmi sebagai keluarga besar. Melupakan masa lalu dan saling memaafkan. "Iya. Tapi, aku masih tidak suka dengan cara Dipta menatapmu." Suara Mas Ryan terdengar bernada sedikit kesal saat menyebut nama Mas Dipta. Ya … tidak terlalu berlebihan sebenarnya. Karena memang begitu adanya. "Perasaan Mas aja. Biasa aja kok." Entahlah, siapa yang coba aku bohongi. Aku juga bisa merasakan, tatapan Mas Dipta masih seperti sebelumnya. "Yakin?" tanya Mas Ryan memancingku. "Kenapa masih dipermasalahkan kalau, pilihan hati sudah jelas berlabuh pada siapa." Aku memiringkan tubuh, menghadap Mas Ryan yang

