Aku hampir berpaling tapi matanya yang sewarna madu menahanku di tempat. Suara serpihan kayu akhirnya mengembalikan kewaspadaanku. Pintu telah terbuka saat aku mundur beberapa langkah.
Seorang wanita yang sama kurusnya dengan Elizabeth mencoba memukulku. Dua pukulan pertamanya kutangkis, dan kubalas dengan tinju ke kepalanya. Ia mengerang kesakitan dan melompat, mencoba menjambak rambutku. Mengapa para wanita suka sekali menyerang rambut?
“Jenna,” bisikku. Pertarungan ini tidak adil jika aku harus melawannya. Wanita melawan wanita, cukup adil bukan. Jenna melewatiku dan langsung menendang tulang rusuk wanita itu dengan kuat. Aku sengaja tidak memberinya pedang, ingin melihat seberapa tangkasnya dia dengan tangan kosong.
Mataku yang terpusat pada Jenna sekarang tertuju pada wanita kurus itu. Mataku memicing curiga melihat gerakannya yang tidak alami seperti wanita saat bertarung. Sialan, dia pasti laki-laki karena pandangan matanya yang terlihat terpukau dengan wujud Jenna.
Kerah tinggi bajunya yang berenda tak mampu menutupi jakunnya saat ia harus mendongakkan kepalanya ke belakang menghindari terjangan Jenna. Setahuku semua penghuni di kastil ini adalah perempuan karena kami telah menghabisi semua penyihir laki-laki sejak lama.
Pertarungan itu berakhir saat Jenna menghantamkan tengkorak korbannya ke dinding. Tubuh wanita palsu itu merosot di dinding dengan noda darah memanjang. Aku memeriksa tubuhnya, dadanya sangat rata dan menemukan sebuah gulungan pesan kecil dalam ikat rambutnya.
Beruntung, tulisan itu tidak dalam bahasa sandi tertentu. Aku hanya perlu membasahinya dengan air untuk memunculkan tulisannya. Sepertinya ditujukan untuk Catherine, ‘Mereka telah datang. Jangan melawan, bahkan sedikitpun. Berpura-pura lah seakan-akan dia bukan siapa-siapa.’
Peringatan itu terlambat, pertemuanku dengan Mercy di pasar dan kecepatan kuda penyihir membuatku selangkah di depan. Ada yang selalu mengawasiku dalam penyamaranku yang penuh kehati-hatian, tapi siapa? Terlalu banyak musuh, sampai-sampai aku tidak bisa menentukan yang mana.
Mercy muncul di saat yang tepat. Dahinya berkerut, “Apa yang terjadi?” ia melihat sekeliling dan matanya menyipit menatap Jenna yang sudah tak sadarkan diri di dekat pria yang menyamar itu.
“Tidak perlu banyak bertanya, kita harus bergegas pergi. Sebelumnya lakukan sesuatu untuk mengobati luka-lukaku dan yang ada di tubuh Jenna.”
Mercy mendekat dan mengalihkan pandangannya dari Jenna ke leherku yang penuh cakaran.
ia mengeluarkan dari tas kulit di pinggangnya sebuah botol kecil dengan cairan sebening air, mengoleskannya dengan sangat perlahan ke luka-lukaku. “Kau lambat sekali, tak akan cukup waktu seharian jika cara mengobatimu seperti itu!” Aku menepis lengannya yang bertumpu di pundakku.
Mercy mendengus kesal, “Kuku wanita itu atau Jenna yang membuatmu seperti ini?”
“Apa gunanya kau tahu?” Mataku melotot. “Apakah kau mengenal dia?” daguku menunjuk wanita palsu itu.
Mercy mengangkat alis, “Hanya pelayan biasa, seperti Elizabeth. Mereka masih keluarga. Kurasa dia marah karena saudaranya yang telah kau hajar pada akhirnya mati juga. Mereka bukan laki-laki ataupun perempuan.”
“Apa sebutan untuk mereka?”
“Aku tidak terlalu tertarik memperhatikan mereka yang disebut sebagai kaum ‘Entahlah’ tapi mereka lebih sering dianggap sebagai perempuan. Nenekku lebih suka mempekerjakan mereka karena tenaga mereka di atas rata-rata wanita dan sedikit di bawah laki-laki.”
“Kau yakin mereka alami seperti itu atau itu mungkin hanya kedok samaran?” tanyaku.
“Entahlah, mereka orang asing. Biasanya mereka hanya bekerja dan bekerja, jarang berbaur dengan yang lain. Tapi nenekku lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka daripada dengan kami.” Mercy menjawab dengan penuh kewaspadaan.
“Beri aku sesuatu yang bisa cepat membuat Jenna siuman!” Aku mengambil botol obat di tangan Mercy dan dengan sangat hati-hati mengobati Jenna. Mercy mendekatkan sebuah botol berwarna kecoklatan ke dekat hidung Jenna yang langsung mengernyit ketika menarik nafas.
“Apa ini?” Jenna bertanya, menoleh ke arah Mercy. “Menyingkir kalian semua dariku!” teriknya.
“Sudah kubilang, berhenti berteriak!” bentakku.
Ya ampun, aku benci teriakan itu. Dan Mercy tampak menahan diri, terbakar rasa ingin tahu apa yang terjadi antara diriku dan Jenna. Tak ada pertanyaan yang keluar dari mulutnya, dia benar-benar mematuhi perintahku untuk tidak banyak bertanya.
“Binatang akan lebih mudah marah saat terluka,” ucap Jenna, matanya gembira menemukan banyak jejak cakarannya di kulitku.
Gadis itu selalu berhasil membuat suasana hatiku memburuk. Ditambah cuaca yang mulai memburuk dengan hembusan anginnya yang terus membuat jendela-jendela rapuh di kastil ini berderit saling bersahutan.
Timbul kesunyian yang tidak nyaman setelah angin kencang beberapa saat. Aku tidak ingin terjebak dalam badai di kastil yang penuh kekacauan ini.
Langit sudah sangat gelap di luar, sulit untuk menentukan apakah malah sudah datang. Jenna dengan penuh frustasi mengikutiku dan Mercy menuju dapur. Aku tidak mempercayakan makananku pada siapapun, termasuk Mercy.
Dapur kastil benar-benar miskin, tak ada banyak bahan makanan tersedia. Kebanyakan segala macam jamur hutan dan daging asap. Jenna dan Mercy memakan sup di kuali yang berada di dekat perapian. Kurasa sup itu baru saja dimasak sebelum kekacauan terjadi.
Dengan kuali kecil hitam legam aku merebus semangkuk air untuk melarutkan biskuit yang ada dalam buntalan perbekalanku. Biskuit yang dibuat dengan mentega terbaik, telur, dan segala macam buah berry kering. Sesekali Jenna melirik ke mangkukku yang aromanya harumnya menggantikan bau aneh di dapur para penyihir.
Mercy terpesona memandangi keanggunanku dalam memakan bubur biskuit. Jenna memalingkan wajahnya ke arah dinding karena aku duduk tepat di depannya, sengaja untuk menggodanya.
Setiap derit dan gemerisik yang ditimbulkan tikus dapur membuatku kaku dan waspada. Bahkan tikus-tikus di sini sangat kurus. Tikus-tikus paling kurus yang pernah kulihat. Jenna sangat kurus dan Mercy sedikit berlemak.
“Kita tidak akan tidur di sini, malam ini?” Terdapat nada keengganan dalam suara Mercy.
“Aku tidak mengerti, ini kastilmu, bukan?”
Mercy mengedikkan pundaknya, “Aku tidak pernah menyukai tempat ini. Kuharap kau akan membangunkan kastil yang lebih indah di wilayah Al Maghrib untukku nanti.”
“Perempuan tidak tahu diri,” gerutu Jenna.
“Kau sendiri apa? Kau bahkan tidak tahu siapa dirimu, menyedihkan,” sahut Mercy.
Jenna mendongak tajam, matanya berkobar dengan api permusuhan. Ia bangkit dari kursinya.
"Jenna, tetap di tempatmu!" bentakku.
Jenna belum juga duduk, dan Mercy yang tadinya duduk di sampingku, berdiri mencondongkan tubuhnya ke arah Jenna.
"Apa? Kau gadis tidak berguna. Kekacauan di kastil ini kau yang memicunya. Bahkan teman baikmu Rose, mati sia-sia karena mu."
Mercy melemparkan supnya yang masih setengah ke arah Jenna. Mangkuk kayu itu terbelah karena tepisan tangan Jenna dan kuahnya yang kental tepat mengenai wajahku.
Rasanya ingin kuhajar dua wanita ini. Mercy cepat-cepat mengeluarkan sarung tangannya untuk menyeka sisa sup di wajahku, "Cukup! Jauhkan tanganmu dariku!"
Jenna tertawa sampai wajahnya memerah. Belum pernah aku melihatnya tertawa, rasanya kegembiraan di wajahnya mampu menyurutkan amarahku. Ini adalah sebuah siksaan ketika pikiran dan hatimu tidak berjalan semestinya.