15

1079 Kata
Mercy terdiam, ketakutan menghiasi matanya.  “Jenna!” wajahnya yang memerah menatapku, senyum lebar terpampang. “Ambilkan aku air!” “Kau Pangeran manja, suka sekali memerintah. Ada bejana air di sebelah sana, kenapa kau tidak mengambilnya sendiri?”  Aku bangkit dan membanting mangkukku ke meja, kaki meja bergemeretak hanya dengan hantaman kecil. Kurasa kastil ini sebentar lagi akan roboh. Meski sudah kubasuh beberapa kali, aroma aneh sup itu tetap berputar-putar di dekat hidungku.  Mercy dan Jenna saling membuang muka, seolah-olah mereka tersesat di suatu tempat dalam pikiran mereka masing-masing.  “Mercy, apakah kuda penyihir masih tersisa?” tanyaku.  “Masih, milik--” Jenna menyela, “Tapi sebentar lagi badai akan mengamuk. Dan badai di Hutan Terkutuk, kau belum terbiasa dengannya.” Muncul ketegangan di wajahnya.  “Kurasa kastil ini lebih mengerikan dari badai manapun. Jika sedikit lagi lebih lama, aku khawatir musuh-musuhku akan menjadikan kastil ini sebagai makam kita semua.” Angin semakin keras menghantam, dahan dan ranting tanpa daun menggaruk-garuk dinding batu bagian luar kastil. Aku menempelkan telinga di pintu, mendengarkan suara benda-benda di koridor. Bau hewan pengerat memudar, mereka pasti bersembunyi dari badai.  Hanya suara pintu berat yang engselnya berdecit dan deru angin yang memenuhi koridor. Jenna mendekat, “Mustahil melawan badai, kau hanya akan membuat kita semua mati kedinginan di luar sana. Jika resiko kematian sama besarnya, kurasa mati di sini akan lebih baik, bukan?” Telingaku masih terus di dekat pintu, sesekali menempel ke lantai mendengarkan apapun yang mungkin mendekat sambil memikirkan alternatif lain. Aku sama sekali tidak mengenal hutan ini, sulit merencanakan sesuatu dengan resiko paling rendah untuk mempertahankan nyawa.  Jenna menepuk pundakku, “Hei Ben … kau tahu, hutan ini terkutuk dan apapun di dalamnya juga terkutuk. Bahkan badainya pun ikut terkutuk. Kau pria cerdas, sebuah petunjuk sudah kau lihat. Tikus-tikus atau serangga apapun berdiam diri di tempat persembunyian mereka, seharusnya kita belajar dari mereka.”  Tapi sama saja, kastil ini tidak dibangun cukup kokoh untuk melindungi penghuninya dari serangan apapun yang mungkin sedang mengintaiku. Aku memejamkan mata, berusaha tidak terganggu dengan ocehan Jenna yang berusaha mempengaruhi keputusanku  Badai tak akan berlangsung selamanya, mungkin beberapa jam lagi. Akhirnya kami keluar kastil melawan angin yang dingin menusuk tulang. Ini adalah badai terdingin yang pernah kurasakan. Kuda penyihir milik Mercy bahkan jadi lebih sulit untuk dikendalikan.  Kuda itu terus meringkik, Mercy hampir kewalahan. Dedaunan kering berwarna hitam berulang kali menutupi pandangan, bergulung-gulung bersama angin kesana-kemari. Sebuah lolongan terdengar, sangat mirip dengan rapatan seorang wanita. Aku tidak bisa menentukan dari arah mana datangnya karena angin yang berputar-putar mengaburkan arah datangnya suara itu.  Sudah pasti itu bukan binatang biasa, tak ada binatang sebuas apapun berani melawan alam. Lolongan itu muncul lagi, ada yang terdengar jauh dan ada yang terdengar dekat. Tangan Mercy menyentuh lenganku dan itu membuatku tersentak di tengah kewaspadaan.  “Sssttt … jangan banyak membuat gerakan, mereka monster. Malam baru dimulai dan kurasa mereka baru mulai berburu.”  “Apakah mereka aman?’ tanyaku. Mungkin saja para monster itu bersahabat dengan para penyihir.  Jenna tertawa penuh cibiran. “Mereka seaman kucing rumahan.” Mercy melepaskan pegangannya pada lenganku dan mulai menarik lengan Jenna dengan kasar. “Aku hanya perlu mengerti mengapa kau membantu mereka untuk lebih cepat menemukan kita?” “Oh, sebuah tuduhan?” tanya Jenna.  “Kalau begitu bagaimana dengan tawamu yang riang tadi? Itu sudah cukup memberi mereka petunjuk.” Lidah Jenna berdecak, “Pria yang kau gandrungi itu lebih mengerikan daripada monster ini. Akan selalu ada pilihan. Aku memilih mati bersamamu di sini di makan monster itu daripada menjadi monster betinanya. Tidakkah kau mengerti betapa berbahayanya pria itu di balik topeng ketampanan dan kegagahannya. Nenek sudah menjelaskannya padamu berulang kali bukan?” “Dan aku tidak punya pilihan yang lebih baik daripada bersamanya. Jika tidak, mungkin aku sudah sama kakunya dengan nenek dan darahku akan membasuh lantai kastil.” Aku tidak mengatakan apa-apa, mencoba memahami karakter Jenna dan Mercy yang sangat bertentangan.  “Dan pilihanmu itu hanya menguntungkan dirimu sendiri,” geram Jenna. “Tidak,” bentak Mercy. “Lalu kau mau apa? Bertarung dengannya? Aku sudah melihat takdirmu yang sekarang menjadi alat pembunuh karena melawannya.” Senyumnya penuh dengan ejekan.  “Aku bukan pembunuh!” teriak Jenna. “Lalu tentang apa keluargamu sendiri membuangmu jika bukan karena takdirmu yang akan menjadi seperti itu. Menyedihkan, kenapa kau tidak tunduk saja dan menerima anugerah yang diberikan neraka padamu. Kau sadar betul, kau terperangkap. Ada kekuatan besar dalam dirimu yang meskipun kau sembunyikan akan tetap muncul pada waktunya. Sambutlah itu, kejayaan dan kesejahteraan akan mengikuti.” “Aku tidak bisa!” teriak Jenna lagi.  Ia memalingkan wajahnya ke arahku. “Aku bisa menjadi seperti dulu lagi bukan?” “Mungkin,” jawabku. “Mungkin?” tanya Jenna. Aku mengalihkan pandanganku untuk memindai sekeliling, namun akhirnya bertemu lagi dengan tatapan Jenna yang menusuk. Jantungku hampir melompat karenanya, penderitaan yang tergambar dengan jelas di mata indahnya. Dia menyalahkanku sekaligus membenciku. “Mungkin, jika kau bisa menahan amarahmu sendiri dan mengubah perilakumu yang liar. Sehingga aku akan mempertimbangkan membuatmu tetap hidup dan memperbaiki keadaanmu setelah tujuanku tercapai,’ ucapku seolah-olah tidak peduli padanya.  “Apa tujuan utamamu?” tanya Jenna penuh ketidaksabaran.  “Raja Al Masyriq, hidup atau mati.” Jenna menunduk, tangannya terkepal memutih. Aku ingin memberitahunya bahwa melihatnya seperti itu sangat menyakitkan.  “Dan kau Mercy,” kataku. Kepalanya tersentak menghadapku, pancaran kesenangan. “Sampai kapan kita harus berdiri di sini. Dan kenapa makhluk yang melolong tadi belum juga muncul?” “Oh itu, kurasa sesuatu telah menyibukkan mereka. Mungkin sedang menikmati buruan pertama mereka. Kita tidak bisa menunggu lama, mereka cukup besar dan tidak akan pernah kenyang sampai fajar. Dan kebrutalan mereka akan meningkat ketika perut mereka mulai terisi. Akan ada banyak tenaga untuk memburu korban-korban selanjutnya. Biasanya kastil ini cukup aman dengan api yang dibuat mengelilingi kastil. Tapi sekarang, tanpa orang-orang kami, menyiapkan api sebanyak itu membutuhkan waktu tidak sedikit dan bau darah dari dalam kastil lebih cepat mengundang mereka. Tak ada pemanah yang akan menjaga pembuat api dan tak ada cukup penyihir dengan mantranya, kastil ini berbahaya.”  “Lalu bagaimana dengan kudamu yang memberontak?” Mercy memiringkan kepalanya, menoleh ke kiri dan kanan. “Dia akan sangat berguna, meskipun arahnya membingungkan karena badai. Namun insting hewan itu sangat bagus. Mereka belum pernah tersesat sekalipun dikepung badai. Aku akan memberinya sesuatu agar menjadi penurut.” “Apa itu?” tanyaku penasaran. “Sesuatu yang manis, kesukaan mereka dan tentu saja dengan sedikit mantra.” “Mengapa kau tidak melakukannya dari tadi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN