Aku memandangi kuda yang beringsut, “Maukah kau memberiku sedikit ramuan itu untuk perempuan itu.”
“Kau samakan aku dengan binatang lagi?” Jenna melotot.
Mercy terkekeh, “Ini hanya untuk keadaan sangat mendesak. Kuda itu akan menjadi penurut dan mati berangsur-angsur setelah memakannya. Ya ampun Jenna, dia punya selera lelucon yang bagus. Aku akan dengan senang hati meminumkannya padamu.”
Mercy mengangkat tinggi botol itu condong ke arah Jenna, membolak-baliknya meskipun dalam keadaan yang sangat minim cahaya seperti ini warnanya sedikit bersinar seperti karamel. Jenna mendengus kasar.
Suara bergemuruh terdengar dekat diikuti raungan menggelegar. Ranting-ranting pohon yang menghitam terlihat bergetar. “Kenapa kau masih santai, mereka sudah dekat.”
Mercy mengelus rambut kuda yang panjangnya hampir selututnya, mengusapnya penuh kasih dan menyodorkan ke hidungnya. Tanpa paksaan kuda itu meminum cairan di botol. “Itu hanya sebuah ilusi yang mereka ciptakan. Suara mereka akan terdengar kuat jika berada jauh dan jika suara mereka pelan, itu artinya mereka sudah sangat dekat.”
Mercy mulai memasang pengait antara kuda dan keretanya. Aku memperhatikan bagaimana dia mengerjakannya dengan sangat cekatan. Ia menambahkan, “Tidak akan ada yang berani berkeliaran menjelang malam di hutan ini sendirian. Apapun yang sedang menjadi mangsa makhluk itu, pasti lebih dari seorang diri. Ini akan menjadi malam yang panjang. Kalian berdua. Tidak akan ada yang selamat kecuali mereka yang tenang. Kalian mengerti maksudku, kan?”
Mercy mengendalikan kuda, ia memilih kereta yang paling kecil untuk mengurangi beban dan meningkatkan kecepatan. Terlalu sempit, lututku terus beradu dengan paha Jenna, seirama dengan hentakan kuda yang melesat tanpa mengerem. Mataku tidak bisa melihat apapun kecuali kelebat yang semakin menghitam.
Keheningan di antara kami dipenuhi dengan suara derit roda dan badai yang menderu. Sisanya suara lolongan yang mengerikan. Kulihat Mercy sudah basah kuyup, ia memucat dalam gaun dan mantelnya yang sangat tebal. Pakaian Jenna lebih sederhana daripada Mercy dan jauh lebih tipis.
Hembusan angin yang menerobos ke dalam kereta membawa air hujan sedingin es, tiap tetesnya terasa menyakitkan seperti tusukan duri. Bahkan badanya seperti kutukan yang menyiksa. Aku ragu dengan kekuatan kereta ini melawan badai.
Jenna mulai menggigil, tubuhnya terlihat sangat kurus dengan kulit yang semakin pucat. Masih ada jejak kemanusiaan dalam jiwaku. Kulepaskan jubahku untuk menyelimutinya. Mata Jenna membulat, antara bingung dan heran, seolah-olah aku manusia yang tidak memiliki belas kasihan dan tidak mungkin merelakan jubahku untuknya.
Terkadang perbuatan yang sangat sepele justru sanggup menyentuh hati seseorang. Dan kini udara yang membeku langsung menyergapku. Tetesan air yang menjalar di punggungku membuatku tidak bisa menjaga ekspresiku tetap tenang dan elegan, aku meringis menahan siksaan itu.
Aku tidak bisa melarangnya untuk memandangiku yang terlihat rapuh dalam badai gila ini. Jemarinya yang gemetaran membuka jubah itu dan satu tangan yang lain tetap berpegangan kuat pada kereta. Kepalaku menggeleng, mengisyaratkannya untuk tidak melakukannya, tapi gadis itu keras kepala seperti biasa.
Jenna tersentak saat aku menarikknya dalam pangkuanku, “Batu!” bisikku tepat di telingnya lalu membungkus jubah itu ke tubuh kami. Dia diam seperti batu dan memahami maksudku. IIni adalah alternatif untuk dilema sepotong jubah.
Kedua tangannya dilipat di depan dadanya, bercengkraman. Aroma manis yang menguar dari tubuhnya seperti efek penenang di tengah badai yang berkecamuk. Tubuh Jenna yang bergetar lambat laun menjadi tenang, kepalanya terkulai di leherku dan nafasnya teratur. Ya ampun, bagaimana dia bisa tidur dalam keadaan seperti ini.
Kereta dan badai belum juga berhenti, namun lolongan-lolongan itu sudah tidak terdengar lagi. Kereta terus berbelok, banyak pohon tumbang yang memblokade jalan membuat perjalanan ini semakin panjang. Dengan Jenna dalam pelukanku, aku berharap perjalanan ini tidak akan pernah berakhir.
Sayangnya kereta mulai melambat dan tiba-tiba berhenti. Kami jatuh ke lantai kereta, kedua tanganku menahan Jenna dan sedikit benturan di kepalaku, sial. Apakah tidak ada yang bisa mengajari kuda itu untuk berhenti dengan halus?
Jenna yang tersadar mendorong dadaku dan terlihat bingung namun tidak berkata apa-apa. Kupasangkan pengait jubah, dan dia semakin menggemaskan seperti bayi kucing. Kutinggalkan Jenna yang sedang mengumpulkan kesadarannya. Badai sudah berhenti, dan kami telah keluar dari Hutan Terkutuk, di bibir hutan tepatnya.
Masih nampak barisan pohon hutan yang hitam berderak dengan badai yang masih mengamuk di sana. Itu adalah badai lokal. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya hidup di dalam hutan yang dikutuk. Dari cerita yang kudengar hutan itu awalnya adalah hutan biasa tempat kerajaan sihir berada.
Mereka pernah jaya pada masanya, hidup berdampingan dengan para naga yang hidup di lembah batu; tempat yang sekarang kupijak. Pada suatu hari Pemimpin dari klan naga itu meninggal dan dikuburkan di puncak gunung batu. Raja Penyihir yang sangat gemar membuat berbagai macam senjata bertuah memiliki sebuah ide untuk mencuri ekor naga yang sudah mati itu untuk dijadikan pedang.
Diam-diam sang Raja mencuri ke kuburan kuno milik klan naga yang ternyata tidak hanya untuk menguburkan para naga tapi juga seperti gudang harta karun dengan emas yang berlimpah. Raja itu hanya membawa pulang ekor naga dan tidak punya nyali untuk mencuri emas mereka.
Para naga terkenal paling teliti dalam menghitung harta mereka, dan penciuman mereka sangat tajam mengendus kemana perginya harta mereka yang hilang. Emas digunakan untuk melapisi sisik mereka, sebagai lambang kebesaran.
Niat awal Raja Penyihir yang hanya ingin melakukan percobaan dengan ekor naga yang terkenal mematikan kini diselubungi ketamakan ingin menguasai harta para naga dan juga klan itu. Jika naga yang terkenal buas bisa dikendalikan, maka kerajaannya tidak hanya kuat dan sejahtera, tapi juga disegani oleh siapapun.
Setelah melakukan percobaan dengan menambahkan berbagai macam unsur sihir, pedang itu baru berfungsi seperti yang diharapkan setelah ditempa ulang dengan menambahkan delapan ekor lainnya milik pemimpin naga yang juga dikuburkan di makam itu. Raja itu belum juga tertangkap dengan usaha pencuriannya yang kedua.
Tentu saja karena dia licik dengan segala perkakas sihirnya yang bisa membantunya tak terlihat dan dia menggunakan minyak yang dibuat dari ekstrak sisik naga untuk mengelabui penciuman para naga yang berjaga.
Sebuah percobaan dengan satu naga, dan pedang itu berhasil menyihir naga itu untuk patuh pada perintahnya. Akhirnya Raja penyihir muncul di gunung batu dengan pedang itu dan membuat para naga tunduk di bawah perintahnya kecuali sang pemimpin klan yang tidak terpengaruh dengan pedang itu. Tentu saja, dia seorang pemimpin dan tidak akan mengekor pada siapapun.
Kekacauan terjadi, para naga menyerang pemimpin klan mereka dan akhirnya terbunuh. Pasangan dari pemimpin naga melarikan diri dan mencari perlindungan pada Al Maghrib. Dia menjanjikan anak keturunannya akan patuh pada kami jika Raja Al Maghrib mampu menumpas para penyihir yang telah berkhianat.