Kakekku mempelajari seluk beluk kelemahan dunia sihir sebelum melakukan p*********n besar-besaran. Permintaan aneh dari naga betina itu adalah untuk menghabisi semua laki-laki penyihir karena pasangannya telah dibunuh.
Pada akhirnya Al Maghrib unggul dan Pedang Ekor Naga jatuh ke tangan kami. Namun naga betina itu belum juga puas, ia mengutuk kerajaan sihir hingga menjadi tampak terkutuk seperti sekarang ini. Catherine yang waktu itu adalah permaisuri meminta pertolongan kepada Al Masyriq. Pasukan Al Masyriq memukul mundur Al Maghrib,Hutan Terkutuk dan Gunung Batu menjadi wilayah kekuasaan Al Maghrib.
Mataku memindai sekeliling dan hanya menemukan berbagai bentuk batu, besar dan kecil. Apa yang akan kutemui di tempat yang penuh batu seperti ini? Muncul was-was dalam hatiku. Tak ada yang sia-sia, aku telah melewati banyak hal. Aku akan berjuang sampai tetes terakhir.
Mercy berdiri di antara ku dan Jenna yang duduk di ambang pintu kereta. Pandangannya beralih dari ku ke Jenna, berulang. Da tidak bisa menutupi ketidaksenangannya melihat jubahku membungkus tubuh Jenna.
Ia mundur dan melambaikan tangannya, meminta kami mengikutinya. Kami terus berjalan sampai menemukan tempat yang hampa tanpa rerumputan yang tumbuh di sela-sela batu. Jalanan itu terus menanjak. Kami mendaki sejajar, Jenna dan Mercy di kanan kiriku untuk menghindari batu yang terus menggelinding saat dipijak.
Sebuah gua dengan aroma yang hampir sama dengan kastil penyihir terlihat suram di hadapan kami seperti tak berpenghuni. Jaring laba-laba besar menutupi mulut gua dengan seekor laba-laba berpunggung kehijauan, jenis laba-laba beracun.
Mercy mengetuk-ngetukkan batu ke dinding gua, tak lama seseorang yang hampir mirip dengan dengan nenek Mercy muncul dengan rasa jijik di matanya. “Tidak ada yang perlu dibicarakan, ini baru mulai fajar, puncak kesibukan para penyihir. Kalian tidak tahu diri menggangguku dalam waktu kami yang paling berharga.”
Mercy menyela, “Kami baru keluar dari badai, Bibi.” Suaranya sangat lembut dan dibuat-buat. Bibi Mercy memandangi air yang terus menetes dari jubahnya. Kemudian pandangannya beralih ke Jenna yang tampak lebih pucat dari Mercy. Ia tersentak saat bertemu pandang dengan mataku.
“Kau?” Matanya menyipit. “Rasanya baru kemarin aku melihat pasukan Al Maghrib dan Al Masyriq bertemu dan kubangan darah mengeras di mana-mana.” Matanya mengerjap dan membuang muka ke balik pundaknya dan mengangguk.
Dia terlihat sangat aneh, lebih aneh daripada nenek Mercy. “Jadi apa yang diinginkan seorang keturunan Al Maghrib dari penyihir yang terbuang ini?”
“Aku telah diberitahu tentang kemampuan penglihatanmu yang katanya mengagumkan,” kataku.
“Oleh siapa? Sudah pasti dia adalah penyihir yang tidak bisa dipercaya.” Ia mengerutkan kening.
Mercy gelagapan, amarahku akan meledak. Aku memikirkan hal-hal yang telah terlewati. Apakah ada kemunafikan yang terlewatkan. Lompatanku yang secepat kedipan mata membuat Mercy terkesiap dengan jemariku yang sudah melingkari lehernya dan mengangkatnya beberapa sejengkal dari lantai batu.
Kakinya menendang-nendang di udara. Kemarahanku yang membara siap melenyapkannya, “Apakah kau tahu hukuman bagi seorang pendusta?”
Mercy berjuang untuk berbicara, namun cekikanku terlalu kuat dan ia hanya menggeleng. Kulepaskan tanganku dari lehernya, ia terjatuh dan terbatuk. “Kupikir aku bisa memberi kesempatan sebuah kepercayaan, mana di antara kalian yang ingin mempermainkanku?”
Kuhunuskan pedang di antara Mercy dan penyihir tua itu. Penyihir itu tertawa mengerikan. “Kau bisa tanya Jenna, semua orang di kastil tahu kemampuan penglihatannya,” ucap Mercy dalam satu tarikan nafas.
“Jenna!” geramku.
“Mercy berkata benar, hanya saja semua telah bersumpah tidak akan mengungkit tentang Bibi Merlyn kepada siapapun terutama kepada orang asing karena Bibi telah dibuang dan bukan bagian dari kastil penyihir lagi. Kurasa Mercy tidak berkhianat padamu, tapi pada kami. Dia milikmu seutuhnya, jiwa dan raga. Sayang sekali kau memperlakukannya seperti binatang.” Jenna terkekeh, tertawa bersama penyihir tua itu.
Mercy tersipu, seolah-olah perlakuanku yang kasar tidak pernah terjadi. Aku mengangkat bahu, “Hati liar manusia sulit ditebak. Tapi kalian bisa menebak apa yang akan kulakukan pada kalian yang berani berkhianat padaku.”
“Apa, apa kalian lapar akan sesuatu yang hangat? Sayangnya aku tidak bisa membuat makanan seenak di istanamu?” Penyihir itu memetik jarinya, dan laba-laba di bibir gua itu memintal benang-benangnya, memberi kami jalan.
“Aku terpesona dengan keramahanmu tapi kami sudah mengisi perut sebelum menerjang badai. Nyalakan api! Kami harus mengeringkan badan.”
Gua itu sangat lembab, setelah berjalan lurus kami berbelok dan sebuah tungku yang bara apinya masih menyala berada di tengah. Kelelawar berhamburan saat kami mendekati tungku. “Tenanglah anak-anak, mereka hanya teman lama. Kalian tidak perlu seperti itu,” ucap si penyihir.
Semakin ke dalam gua, aroma aneh campuran antara berbagai macam hewan dan bahan-bahan sihir hampir membuatku mual. Kami bertiga mengelilingi api, beberapa ranting kering ditambahkan dan aku hampir tertidur karena kehangatannya.
Penyihir itu sibuk dengan meja batunya yang penuh dengan berbagai macam botol. “Apakah kau menikmati badainya, Pangeran?”
“Tentu saja tidak.”
“Aku selalu dibuat heran dengan energi yang dimiliki setiap keturunan Raja Al Maghrib. Kekuatan besar untuk menguasai, menghancurkan dan membangunnya kembali.” Penyihir itu berdiri menghadapku dan melipat kedua tangannya di atas perut. “Tapi kelihatannya kalian menderita di dalam, kesepian.”
“Energi?” Ada keterkejutan dalam nada suaraku. “Menderita? Aku bisa menyesuaikan diri di manapun. Aku ada untuk diriku sendiri dengan segala pemikiran dan pertimbangan yang kubuat dengan hati-hati.”
“Mungkin,” kata penyihir itu. “Kau sangat kebal dengan apapun di luar sana. Tapi aku melihat kelemahan dalam hatimu.”
“Kalau begitu penglihatanmu sudah pasti salah.”
Penyihir itu bersandar di dinding batu dan melihat ke arah Penyihir itu bersandar di dinding gua, tampak merenung melihat ke bawah ke arah Jenna yang sudah meringkuk tertidur di depan api. Entah bagaimana dia bisa membaca apa yang ada di dalam dadaku.
"Dia sudah sangat menyulitkanmu tapi kau tetap peduli," gumamnya.
Aku melirik Mercy dan bersyukur dia sudah terlelap. Apapun tentang perasaanku, aku tidak suka membicarakannya pada siapapun.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Aku tidak berpikir, tapi aku melihat," gerutunya.
Sebuah getaran melewatiku, bukan gempa ataupun angin. Wanita tua di hadapanku tatapannya sedingin es. Telinganya seperti sedang bekerja keras mendengarkan sesuatu. Tapi apa? Aku mencoba mempertajam pendengaran, hanya suara detak api dan hewan-hewan malam.
Meskipun mulutku tidak mengakui kemampuan luar biasanya yang menembus tempat tergelap dalam hatiku, tapi entah mengapa aku menyukai percakapan dengannya malam ini. Seolah-olah dia satu-satunya orang yang mengerti kehampaan dalam dadaku.
"Aku tahu apa yang ada dalam diriku, kau tidak perlu bersusah payah mengungkapkannya. Itu tidak sepenuhnya bakat, bukan?" tebakku.
"Benar. Temanku yang hidup di antara manusia dan hewan. Mereka banyak dan beragam. Sepertinya mereka tertarik dengan jalan hidupmu, Pangeran."