“Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrolkan jalan hidupku. Aku sedang diburu waktu. Mari kita membicarakan hal yang memaksaku menembus badai untuk bertemu denganmu.”
“Ah anak muda, obrolan yang lebih dalam?” tanyanya dengan seringai licik. “Tapi aku memperingatkanmu sebelumnya. Ada harga yang harus dibayar untuk penglihatan yang kau inginkan. Tapi aku tidak yakin kau sanggup.”
“Berapapun akan kuberikan, kau tidak sedang meragukan kekayaan kami bukan?”
“Tentu saja tidak. Tapi aku lebih sering menukar penglihatanku dengan sesuatu yang kuinginkan atau diinginkan oleh temanku.” Pandangannya tertuju pada Jenna dan menyalakan pipa yang bercabang seperti tanduk rusa.
Matanya berkilauan, fokus melihat sesuatu yang jauh di depan matanya. Setiap cabang tanduk rusa itu membubung asap tipis yang kemudian bersatu membentuk bola asap. “Katakan!”
Matanya berkedip cepat dan tersenyum, “Jenna ….”
Aku tidak bisa menutupi keterkejutanku, entah mengapa hatiku remuk namun berusaha menahan amarahku. Dia memperhatikan setiap reaksi yang muncul. “Kau sedang menguji tekadku untuk menemukan Raja Zuchri?”
“Terkadang sesuatu yang besar membutuhkan pengorbanan yang besar pula. Kau akan membawanya menuju hari yang akan penuh dengan pertumpahan darah?” suaranya lirih dan menyedihkan.
“Mengapa temanmu menginginkan Jenna?”
Dia tidak langsung menjawabku, seperti sedang menunggu dan mendengarkan. Untuk sesaat kesunyian aneh melingkupi kami. Angin sejuk berhembus berputar-putar di sekeliling. Lama-lama muncul kebingungan dan kekhawatiran.
Sebuah ide buruk muncul, menukar Jenna untuk menyelesaikan misiku. Tapi bagaimana jika aku tidak akan pernah melihatnya lagi nanti, bayangan itu menimbulkan kepanikan dalam diriku.
“Temanku membutuhkan sebuah raga untuk dapat dilihat, disentuh dan didengar.”
Itu artinya ia akan membunuh jiwa Jenna dan menempati raganya. Aku berfikir sejenak, mengambil nafas dalam-dalam. Ada yang harus diutamakan, pilihan yang terdengar mudah namun entah mengapa terasa sulit.
“Kurasa temanmu sangat mendambakan sebuah sentuhan. Mengapa tidak memilih Mercy?”
“Dan mengapa Pangerang Benyamin tidak menaruh hati pada Mercy? Aku tidak perlu menjawab, Anda lebih tahu jawabannya karena kalian berdua sama-sama menginginkan Jenna.”
Aku tak bisa berpikir jernih dengan Jenna sebagai barter, obrolan seperti ini mungkin akan berakhir dengan saling bunuh. “Aku mengurungkan niatku untuk menjadi saksi atas penglihatanmu.”
Ia tertawa dengan keras hingga membangunkan Jenna dan Mercy. “Sayang sekali. Tapi tabiat temanku itu buruk sekali Pangeran. Jika dia sudah menginginkan sesuatu. Dia tidak akan pernah mundur, yang berarti tidak akan ada yang selamat dari sini.”
“Pantas saja mereka membuangmu, kau tidak waras,” bentakku.
Kata-kataku dengan sekejap mengubah ekspresi gembiranya menjadi merana. Sekarang ia menangis meratap.”Mereka semua mengatakanku tidak waras. Tapi aku tidak gila! Dia, temanku, akan membuktikan jika dia ada.”
Tanpa peringatan angin yang sangat dingin menerbangkanku hingga menghantam dinding gua. “Apa itu sakit Pangeran?” tanya penyihir tua itu. “Temanku ingin tahu, jawablah! Dia berharap itu sakit.”
“Sepertinya temanmu belum pernah terbentur sesuatu, sampai-sampai tidak tahu rasanya dibenturkan ke dinding. Menyedihkan sekali. Kalian berdua sama-sama menyedihkan. Yang satu ada tapi tidak dianggap ada dan yang satunya ada tapi tidak akan pernah dianggap ada.” Aku terkekeh mengejeknya.
Kakiku membeku di tempat, waspada dan menunggu. Aku bisa merasakan kehadirannya, ia seperti angin dingin. Seseorang berteriak dan itu adalah suara Jenna. Ia menggeram seperti orang kerasukan. “Pergilah, biarkan sisa nasibnya bersamaku.”
Jenna mengamuk, melemparkanku ke samping. “Kau pasti bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi?” tanya Jenna. “Kau yang telah membacakannya mantra, membuat lubang dalam jiwanya yang kemudian mudah dirasuki makhluk seperti kami.”
Aku harus tetap menahan emosiku cukup lama untuk menemukan cara mengembalikan kesadaran Jenna. Ia tidak memiliki senjata selain jari-jarinya yang lentik dan tenaga dari makhluk yang merasukinya.
“Kau,” kataku penuh dengan ancaman suram. “Lanjutkan, mari kita lihat sejauh mana kemampuanmu.”
Jenna mengangkat dagunya. “Pergilah, kau tak akan mampu. Di dalam tubuh gadis ini kekuatanku menjadi berkali-kali lipat.”
“Oh benarkah? Tapi aku tidak akan membuatnya semudah itu untuk mu, makhluk menyedihkan.”
Jenna mencibir, “Kau menginginkannya? Keinginan itu begitu kuat hingga kau lupa tujuan awalmu bersusah payah kemari. Aku akan memberitahumu di mana Raja itu sekarang jika kau mau pergi.”
“Bagaimana aku bisa mempercayai penglihatanmu? Bisa saja kau berbohong untuk mengusirku.” Aku mengejeknya, suaraku begitu dalam.
Dia terpancing emosi karena diragukan, “Pergilah ke tempat matahari terbit di antara dua gunung di Timur Laut. Kemanapun mencarinya, pergilah ke titik di mana matahari terbit dengan sempurna tanpa terhalang apapun. Dia berpindah-pindah, tapi selalu menyukai tempat seperti itu.”
“Lepaskan Jenna, aku akan membuktikan kebenaran bualanmu lebih dulu.”
Jenna menampar wajahku begitu keras, hingga membuatku berlutut. “Kau terlalu arogan Pangeran. Kau begitu berbeda sejak bertemu dengannya. Kalau begitu, hadapilah aku. Bagaimana kau akan melukai gadis seindah ini? Sebuah penawaran yang sia-sia, pada akhirnya kau harus menjajal kemampuanku.” Dia memandangku dengan getir dan kesal.
Mercy dan penyihir tua itu tidak berkata apa-apa, mengamati kami dengan cermat.
Aku mencabut pedang Al Maghribi, dan tubuh Jenna bergetar. Ia mengerang kesakitan, berlutut dan mulutnya menengadah ke udara.
Sebuah gumpalan kabut tipis keluar dari mulutnya dan Jenna dikuasai kekuatan Al Maghribi. Angin berhembus ke arah penyihir tua, ia kerasukan.
Kulemparkan pedang ke arah Jenna dan dia menangkapnya dengan anggun. Penyihir itu menyerang Jenna dengan tongkat peraknya. Sesekali mulut penyihir itu berkomat-kamit berusaha menyihir Jenna tapi sihir itu bisa ditepisnya.
Pertarungan sengit antara dua wanita penyihir, muda dan tua. Sejauh ini Jenna unggul. Para penyihir biasanya kemampuan bela dirinya rendah, mereka lebih sering menggunakan tipuan dan sihir.
Tongkat perak itu terus beradu dengan Pedang Al Maghribi, sama-sama kuatnya dan memercikkan bunga api setiap berdentang. Gua cukup luas untuk pertarungan sengit itu.
Beberapa kali gua bergemuruh setiap kali salah satu di antara mereka menghantam dinding gua. Dua penyihir itu sama-sama sedang kerasukan. Lawan yang cukup tangguh meskipun Jenna beberapa kali mematahkan tulang-tulangnya tapi penyihir itu dapat kembali berdiri tegak.
Mereka berdua sama-sama terengah, dan aku mulai khawatir dengan Jenna. Rak yang berisikan botol-botol sihir ambruk tertimpa penyihir tua itu. Aku sempat melihat ia berjingkat ketika tak sengaja kakinya menginjak salah satu botol.
Senjata mereka kembali berdentang, kuraih botol itu. "Penyihir sialan!" teriakku. Penyihir itu menoleh ke arahku tepat saat aku melemparkan botol itu ke wajahnya.
Botol itu tepat mengenai dahinya dan pecah di antara dua kakinya. Cairan itu mengeluarkan kepulan asap yang membuat penyihir itu meronta-ronta dan mengejang.
"Mercy, ramuan apa itu?" tanyaku.
"Ramuan untuk orang kerasukan. Mengusir roh yang menguasai tubuh manusia," jawab Mercy tenang.