Jemari Djong mengusap heraldic yang terukir pada sekoci. Jari telunjuknya menyusuri ukiran bunga cengkeh lalu pedang dan kapal. "Djong …." Suara gurunya yang tiba-tiba terdengar lirih di belakang membuatnya tersentak. Gurunya itu selalu saja seperti hantu, tiba-tiba muncul. Djong mengusap-usap dadanya. Ia memang belum pernah melihat hantu tapi dari cerita para saudagar yang ditemuinya di dermaga, katanya akhir-akhir ini banyak hantu tanpa kepala berkeliaran di pelabuhan. "Ampuni saya yang tidak menyadari kedatangan Guru," ucap Djong cepat-cepat sambil menangkupkan kedua tangannya dan menunduk. "Kau ini minta ampun terus! Kau bisa cari tahu asal-usulmu berbekal heraldik itu. Mungkin saja bapakmu masih hidup." Tangan kanan dan kiri gurunya saling menggenggam dibalik punggung, dadanya

