"Cuihh ...!"
Wanita berkulit sawo matang seperti pria itu meludah ke arah Djong tapi sayang angin badai melemparkan kembali ludah itu mengenai matanya. Djong terkekeh sampai terpingkal-pingkal melihatnya.
"Di mana-mana yang namanya pelaut itu sangat memperhitungkan arah angin. Kau ini bagaimana? Jangan-jangan kau bukan bajak laut sungguhan. Jangan-jangan kubu perompak sudah kehabisan laki-laki yang punya nyali, sampai-sampai gundiknya pun dilempar ke sini untuk melawanku. Malang sekali kau."
Wanita itu tertawa seperti orang gila sambil menangis meraung-raung menengadahkan wajahnya ke arah langit bak seekor naga yang sedang merana.
Komentar Djong yang asal-asalan bagai anak panah yang tepat mengenai relung hati Welas Asih, menyulut amarah dan tangisannya sekaligus.
Kenangan bagaimana dulu pahitnya ia menjadi seorang Nyai, sebutan untuk wanita pribumi miskin yang dijadikan simpanan oleh pria asing maupun pribumi berduit tanpa dinikahi.
Para Nyai diposisikan sebagai b***k, tidak punya hak atas dirinya sendiri maupun anak-anak hasil per-nyai-an. Mereka diperlakukan sebagai pemenuhan kebutuhan biologis dan berbagai macam kebutuhan lain tuannya.
Pada tahun 1674 di pulau Jawa terjadi kelaparan, wabah penyakit, gunung meletus, gempa bumi, dan hujan yang tidak turun pada musimnya. Ibunya menjualnya sebagai b***k untuk menyambung hidup anak-anaknya yang kelaparan. Wajah manis dan tubuhnya yang semampai menjerumuskannya pada dunia pergundikan.
Tak akan pernah luntur dari ingatannya bagaimana saat-saat terakhir ia memandang tuannya sebelum menceburkan diri ke tengah badai saat tuannya yang merupakan seorang pejabat VOC mengajaknya pindah ke Ambon.
Dikiranya ia akan musnah ditelan badai Namun ternyata seolah-olah ia terlahir kembali dari perut laut, menuntut balas terhadap orang-orang yang menghancurkan kehidupannya yang pertama.
Wanita ber-rahang keras itu ditolong oleh bajak laut yang mendiami Selat Manipa yang terletak di antara Pulau Buru dan Pulau Ambon. Ia menjadi perompak perempuan yang disegani namun tujuan utamanya bukanlah harta akan tetapi kapal-kapal asing dari Eropa.
Orang-orang yang mirip dengan tuannya dulu akan dienyahkan. Perlakuan brutal yang dialaminya di ranjang dan tekanan sosial di masyarakat sebagai seorang Nyai menyisakan trauma mendalam.
Wajah pria Belanda dan teriakannya yang memanggil namanya menjadi mimpi buruknya setiap malam. Orang-orang menyebutnya Naga Edan (gila).
Para penonton tercengan melihat keikutsertaan Naga Edan pada kompetisi ini. Biasanya ia tak pernah ikut. Bentuk fisik Djong yang sangat mirip dengan pelaut asing menjadi magnet tersendiri.
Siapapun bergidik mendengar tawa dan tangisan itu. Sebagai tanda bahwa sang Naga Edan sedang akan mencincang orang asing. Belum puas ia menggantungkan kepala tuannya di tiang cucur kapal. Akhirnya tawa dan tangisnya surut berganti dengan teriakannya yang menggelegar menyaingi gemuruh ombak.
"Lancang mulutmu anak muda ... Aku bukan gundik siapapun. Aku wanita merdeka di atas kakiku sendiri. Akan kucacah mulutmu yang sama persis dengan mulutnya. Rambutmu juga sewarna rambutnya. Hidungmu, tubuhmu, semuanya sama persis dengannya. Pria-pria sepertimu harus kuhabisi sebelum hancur Welas Asih yang lain."
"Sial sekali dengan wajah ini, bukannya wanita datang merayu menggoda tapi malah ingin memisahkan jiwa dari raganya yang tampan. Hei … Bukan salahku jika aku dikutuk menjadi tampan!"
Pedang si Naga Edan langsung menyerang. Djong meneleng ke samping menghindari tebasannya. Serangan wanita itu membabi buta. Amarah Terpendam nya menjadi bahan bakar yang tak ada habis-habisnya. Djong mulai kewalahan sejauh ini ia hanya
Sejauh ini Djong hanya menggunakan keahliannya dalam bertahan. Ia tak berani menyerang wanita itu. Banyuasin haram menyentuh darah wanita, begitu kata Sang Guru.
Begitulah tiada yang sempurna di dunia ini kecuali kekuatan Tuhan. bersama kekuatan yang besar lahir pula kelemahan bersamanya.
Tak ada jalan lain kecuali tipu daya. Djong berlagak seolah-olah mulai oleng keseimbangan kakinya. Papan kayu miliknya terlihat tidak seimbang, ombak membuatnya terjengkang ke belakang. Jong menyelam dan tidak muncul lagi ke permukaan.
Djong diam-diam naik ke atas kapalnya lewat buritan. Tak ada yang menyadarinya karena para penonton sibuk menonton si Naga Edan bertarung dengan penantang yang tersisa.
Sang guru yang sedang menonton menyadari kembalinya Djong, cepat-cepat mereka menarik jangkar, mengembangkan layar dan meninggalkan kerumunan kapal itu. Angin yang bertiup dari badai lokal itu mempercepat kapal.
Setelah berlayar agak jauh Djong memberanikan diri bersimpuh di kaki gurunya yang sedang menahkodai kapal. Tampilan kapal itu layaknya kapal hantu, gambaran yang sama dengan sang pemilik yang terlihat seperti mumi.
Orang-orang menyebutnya kapal si nenek dan nahkoda yang berumur panjang itu biasa dipanggil kapten si kakek tanpa anak buah kapal pun kayu jati tua itu mampu berlayar ke sana ke mari.
mereka berdua bagaikan sepasang kakek-nenek yang sudah pikun berlayar terus tanpa ingat pulang karena tak pernah nampak bersandar di dermaga manapun
biasanya orang-orang mengacuhkan kapal itu yang sering berdiam diri di dekat Pelabuhan Jepara namun tidak pernah singgah namun beberapa tahun belakangan ini kapal itu nampak seorang anak muda yang kini sedang bersimpuh di kaki gurunya.
"Mohon ampuni saya guru, yang tidak becus memenangkan pertandingan itu." Kedua tangan Djong menangkup.
"Berdirilah Djong, kau tak perlu bersimpuh seperti itu. Apa yang kau lakukan itu sudah betul, sesuai dengan pesanku," ucap Kunjara dengan lirih dan sangat tenang.
Djong terlihat membuka mulut, tapi ragu-ragu lalu menutupnya lagi.
"Katakan!" Hampir-hampir suara gurunya itu tak terdengar, bercampur dengan deru angin.
"Guru, bagaimana dengan keputusan Guru terhadapku?" T