Nampaknya bajak laut tampan itu jarang sekali main air laut, permainan pedangnya cukup bagus, namun kaki-kakinya kurang mampu menguasai papan kayu itu.
Kakinya mulai goyah dengan sekali hentakan Djong melucuti pedangnya. Ujung mata pedang Banyu Asin mengarah ke lehernya kedua tangan Asep diangkat setinggi pundak, tanda menyerah. Lebih baik mengaku kalah daripada manemui ajal. Masih banyak surga dunia yang yang masih ingin dia kejar, terutama istri-istri para bangsawan.
Asep berenang kembali ke kapalnya diiringi suara riuh penonton yang mengejek. "Persetan dengan mereka yang menganggap diriku banci, yang terpenting aku lelaki sejati di hadapan wanita." Ia tersenyum kecut.
Sekarang di hadapan Djong nampak seorang yang dikenal sebagai perompak kerajaan, seorang bajak laut yang bekerja untuk kerajaan. Orang-orang menyebutnya Bangsawan Perompak. Gaya berpakaiannya pun tidak seperti bajak laut pada umumnya. Mereka terlihat lebih rapi dengan pakaian yang lebih mahal.
Menurut cerita yang pernah didengar dari gurunya, nenek moyang pria bergigi putih yang ada di hadapannya sekarang adalah para bajak laut kepercayaan Sriwijaya.
Menurut pelajaran sejarah yang diberikan oleh gurunya, Kerajaan Sriwijaya antara abad ke-7 sampai 11 menjadi jalur perantara lalu lintas komoditas dari Barat ke Timur. Sriwijaya merangkul komplotan-komplotan bajak laut dan orang-orang nomad (orang laut), ditugaskan sebagai garis terdepan yang memantau kegiatan di perairan.
Menurut catatan para pelaut, mereka dipungut 20.000 dinar jika ingin melanjutkan pelayarannya ke Timur. Kapal dagang yang lewat tanpa singgah akan dikejar oleh komplotan bajak laut itu, dan kemudian diserang. Anak keturunan dari kakek buyut Vikraman sebagian besar menjadi perompak kerajaan yang bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Saat ini kemampuan Vikraman mengendalikan papan di kakinya lebih baik daripada Asep. Namun tetap saja Djong terlihat lebih stabil karena bagaimanapun bangsawan bajak laut itu terkadang tinggal di daratan, tidak seperti Djong yang seumur hidupnya dihabiskan di atas laut.
Sama seperti kebanyakan bangsawan-bangsawan kerajaan pada umumnya Vikraman juga tampak arogan dengan matanya yang yang penuh kesombongan. Djong langsung membenci mata itu, ingin sekali mengendalikan ombak yang besar untuk menghantam wajahnya.
Namun teringat pesan Sang Guru untuk tetap menyembunyikan kemampuannya dan yang tidak kalah penting, ia harus menggunakan pedang itu seperti sebuah pedang besi biasa, tidak diizinkan merapalkan mantera yang mampu membangkitkan kekuatan dahsyatnya.
Biarkan orang-orang menganggap pedang Banyu Asin hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur.
Saat badai membesar dan mengaburkan pandangan para penonton Djong memanfaatkan keadaan itu untuk menggunakan sedikit pengendaliannya. Dibuatnya air laut menggoyahkan papan di kaki Vikraman.
Ujung pedang Djong berhasil membuat garis diagonal dari alis hingga ke tulang pipi refleks vikraman menyentuh matanya, air laut yang menyapu wajahnya membuatnya mengerang menahan perih. Dengan cepat Djong menghantam pedangnya sehingga terlepas dari genggamannya.
"b*****h! Beraninya kau melukai wajahku," teriak Vikraman.
"Kenapa tidak berani sepertinya tidak ada larangan untuk melukai wajah di pertandingan ini," teriak Djong dengan nada mengejek.
"Kau tidak tahu siapa aku?" teriak Bangsawan Perompak itu.
"Apa untungnya kalau aku tahu? Harusnya kau berterima kasih kepadaku karena sekarang wajahmu sudah terlihat seperti bajak laut sungguhan. Orang-orang akan bertambah segan kepadamu. Dasar perompak manja!" Djong meninggikan suaranya.
Karena pedangnya telah jatuh maka ia ditandakan gugur. Kali ini penonton juga bersorak mengejek Bangsawan yang sombong itu. Seorang panitia mengibarkan bendera pedang menyilang warna merah sebagai isyarat kepada Vikraman untuk menyingkir.
Pria yang tidak terima disebut manja itu ingin menghajar si Pemuda Jangkung tapi sayang, waktunya tidak pas, Tunggu saja nanti.
Nah baru sekarang inilah pria yang pantas disebut sebagai perompak betulan oleh Djong. Bajunya kumal dengan perut buncit dan rambut yang menjijikan. Giginya kuning kehijauan, seringaiannya sangat mengerikan.
Dulunya pria penuh codet ini adalah seorang kapten kapal yang disegani namun sayangnya mengalami peristiwa dahagi di atas kapalnya sendiri, yaitu tindakan pemberontakan secara terang-terangan terhadap seorang nahkoda.
Pria yang saat itu merupakan tuan muda yang arogan diturunkan di sebuah pulau terpencil di sekitar Laut Banda lalu ditolong oleh perompak, sejak saat itulah dia menjadi seorang perampok yang gila.
Berapapun harta yang ia peroleh akan dihabiskan untuk bersenang-senang terutama untuk minum-minum. Bahkan sekarang dia pun sedang mabuk. Namun jangan salah karena dia tipe orang yang kuat minum. Meskipun mabuk tapi dia cukup kuat untuk adu pedang.
"Hei anak muda kenapa kau tampan sekali? Dulu aku juga pernah setampan dirimu tapi sayang kapalku sendiri menghianatiku. Kau ingin tahu rasanya? Rasanya seolah-olah otakmu sendiri loncat dari kepalmu dan mencampakkanmu. Kunasehati kau, Jangan pernah mempercayai siapapun kecuali dirimu sendiri. Anak muda! Menyerahlah Aku butuh uang untuk bersenang-senang malam ini. Tak ada wanita yang mau denganku tanpa emas. Tragis sekali bukan, padahal dulu para wanita tanpa malu mengejar-ngejarku," teriak perompak yang berpakaian compang-camping itu sambil tertawa lepas.
"Baiklah … Kau kasihan sekali. Aku bisa mencari sendiri yang lebih banyak dari itu. Ayo kita bermain dulu sebentar. Kita harus bekerjasama untuk menipu pandangan para penonton," teriak Djong.
Lalu ia tertawa dengan sangat keras sekali dan tiba-tiba pedangnya diayunkan ke arah Djong. Ia sigap sekali menahan pedangnya, permainan pedang di iringi suara gelak tawa si kapten kapal.
Di saat pedang beradu tepat di depan perut. Si kapten tidak bisa menahan keseimbangannya, tubuhnya oleng dan perutnya tiba-tiba menghujam ke mata pedang Djong.
Para penonton terkesiap. Tawa sang Kapten terhenti dan berganti dengan suara rintihan. "Terima kasih anak muda, kau telah mengirimku ke surga. Aku tidak perlu repot-repot mencari emas karena bidadari tidak butuh emas bukan? Sampai jumpa …."
Tubuhnya ditarik ke belakang dan langsung tercebur ke dalam laut. Djong sedikit merasa bersalah. Air laut di hadapannya sebentar menjadi mera. Pikir Djong, "Aih …. Itu salahnya sendiri karena terlalu banyak minum sehingga otaknya jadi d***u dan tak mampu menjaga keseimbanga."
Sekarang ganti di hadapan Djong adalah seorang wanita. Ia adalah bajak laut wanita, bukan wanita penghibur yang sengaja diajak untuk menghibur pacar laut.