42

1014 Kata
Pikir Jecko, masak ia kalah tahan nafas dengan pemuda itu? Akan ditaruh di mana mukanya jika ada yang tahu? Satu kali lagi saja ajian Mengejar kilat kemudian ia akan melepaskan Tinju Cakalangnya ke pusaran air tempat bocah tengik itu bersembunyi.  Baru kemudian ia akan melesat ke permukaan untuk mengambil nafas dan kembali untuk merayakan kemenangan bersama harta milik saudagar China itu.  Dengan seluruh kekuatannya Jong meng-gas kecepatan pusaran air sambil ngepot ke kanan dan ke kiri menghindari  terumbu karang yang penuh anemon dan ikan-ikan kecil berwarna-warni.  Dasar laut menjadi sangat sangat kacau. Tiba-tiba Jecko muncul di hadapannya dengan warna kilat yang menerangi dasar laut, tabrakan tak terhindarkan.  Tubuh Jacko tersedot pusaran air, berputar-putar dan terpelanting menghantam millepora, karang api berwarna kuning yang dapat menyebabkan rasa terbakar pada kulit yang bersentuhan.  Kemudian tubuhnya terhempas, lengannya bersentuhan dengan Irukandji, ubur-ubur transparan ukuran 0,2 inchi. Karena bentunya yang terlalu kecil, ubur-ubur jenis ini sulit dihindari.  Irukandji merupakan keluarga ubur-ubur kotak yang dinobatkan sebagai salah satu hewan paling beracun di laut. Bagian tentakel maupun lonceng dari ubur-ubur ini bisa menyengat, racunya 100 kali lebih kuat daripada kobra.  Ubur-ubur yang merasa terancam itu menyengatnya berkali-kali, menyebabkan keram otot parah yang menamatkan kisahnya sebagai jagoan Sagarajala. Namun begitu senyuman terpahat di wajahnya karena paling tidak ia tidak berakhir di tangan lawan tapi di tentakel ubur-ubur.  Djong tercengang memandang tubuh sang jagoan yang sudah tak bernyawa lagi. Tangan yang terentang dan sunggingan senyum, seolah-olah pria berkulit gelap dengan rambut ikal setengah memutih itu bersenang hati menyambut ajalnya.  Djong kembali ke kapal karam untuk mengangkut karung goninya, selanjutnya melesat ke permukaan. Kepala yang tidak diharapkan muncul di atas permukaan air, dibarengi dengan suara terkesiap para penonton.  Mereka yang menjagokan Jecko dalam pertandingan ini mengucapkan sumpah serapah melotot tidak percaya dan bertanya-tanya lalu di mana si Bapaknya Nelayan? Jacko merupakan peserta dari kupu nelayan Mereka yang tidak menjagokan Papa Jecko  bersorak-sorai gembira, mereka menang besar kali ini. Terkagum-kagum dalam hati mengakui kehebatan si peramal dari Pantai Selatan itu, bukannya si Djong yang kelihatan masih bau kencur.   Sebab sebelum memasang judi, mereka datang ke peramal untuk sekedar bertanya apakah Jecko akan menang lagi kali ini. Begitulah, di mana ada pertandingan di situ ada perjudian. Sudah seperti gula dan semut saja.  Dengan memikul karung goni, Djong melompat ke udara mendarat di atas sebuah rakit yang telah disediakan dengan bendera warna biru tua bergambar kapal terbalik dengan ombak menggulung di atasnya bertuliskan Segarajala dalam aksara Jawa. Seperti burung yang dilepas dari sangkar, enam orang penonton yang berasal dari kubu perompak melompat ke atas rakit. Ini jumlah penantang paling banyak sejauh ini  sebelum-sebelumnya pemenang hanya akan ditantang oleh dua atau tiga perompak. Umur Djong yang masih muda mengundang banyak musuh yang memandang remeh kemampuannya.  Djong memandang jijik kepada mereka yang ternyata lebih pengecut daripada dirinya. Ia merasa lebih baik daripada mereka, sedikit. Paling tidak ia sudah bersusah payah menemukan kapal karam itu dan hampir mampus karena dikejar-kejar Jecko dengan ajian Mengejar Petirnya.  Sekarang giliran Djong harus berduel dengan mereka satu-persatu di atas sebuah papan kayu dengan panjang 5 kaki dan lebar 17 inci dengan kedua ujungnya berbentuk seperti mata pedang.  Ini adalah sebuah peraturan baru selama 3 tahun terakhir setelah sebelumnya pernah dilakukan demo besar-besaran oleh pelaut berbendera hitam. Dalam gagasan mereka lomba ini kurang menarik karena akan menang setelah bertarung  dalam air.  Mereka menuntut revisi peraturan lomba yaitu setelah pertarungan dalam air, maka akan digelar pertarungan di atas permukaan air dengan kubu perompak.  Dengan alasan, sudah menjadi budaya lautan di mana ada orang kaya di atas laut di situ ada perompak. Pemenang yang berhasil mengangkat harta dari kapal karam itu dianggap sebagai orang kaya baru. Gagasan ini cepat sekali disetujui oleh para petua pertandingan. Mereka adalah para senior yang sudah gantung pedang. Perut buncit mereka sangat rakus sehingga tak tahu malu menerima suap sepeti emas dari para perompak.  Menurut perhitungan licik para perompak, tidak apalah hilang satu peti asalkan setiap ada pertandingan mereka mempunyai kesempatan besar untuk meraup emas yang lebih banyak.  Seorang pawang hujan berdiri di atas dek kapal  berbendera warna emas sebagai identitas bahwa kapal itu adalah kapal pedagang. Tangan kanannya memegang cerutu dan mengepulkan asapnya ke arah langit sambil merapalkan mantra Merayu Langit.  Matahari tepat di atas kepala ketika mendadak langit menjadi gelap, awan hitam bergerombol dari atas daratan menuju ke atas lautan. Geledek menyambar, perairan menjadi kasar. Gemuruh suara ombak beradu dengan suara gemuruh halilintar.  Sengaja didatangkan badai agar pertandingan ini semakin menarik, petarung ditantang untuk bertarung di tengah badai lokal. Cuaca buruk yang hanya  mengamuk medan pertarungan. Para penonton  mengelilingi pusat badai, menjangkarkan kapal mereka.  Djong sudah siap berdiri di atas papan kayu dengan ukiran lambang Sagarajala. Kakinya melebar, pundak dan lutut sedikit ditekuk, kedua tangan merentang menjaga keseimbangan di atas air yang bergolak. Pedang Banyu Asin digenggam erat, warna birunya menyala dalam kegelapan badai. Pedang yang pernah menjadi salah satu pedang terbaik dan tinggal ceritanya saja kini tiba-tiba muncul di tangan seorang pemuda dengan wajah yang menimbulkan tanya.  Dari caranya berpakaian sudah jelas dia orang Jawa, tapi tubuhnya terlalu jangkung dari kebanyakan suku itu pada umumnya.  Rambutnya yang coklat kemerahan lebih mirip dengan  saudagar asing. Wujudnya yang mencolok itu mengundang tanya di benak lawan, mengganggu konsentrasi dengan berbagai pertanyaan, siapakah dia? Perompak dihadapan Djong kali ini berasal dari Selat Sunda. Bukan emas yang memanggilnya untuk berdiri ditengah badai saat ini. Ketampanan Djong lah yang menjadi daya tarik besar.  Para wanitanya yang diajak menonton pertandingan, berdecak kagum memandang ketampanan Djong. Kenyataan ini telah menginjak-injak martabatnya yang dinobatkan sebagai bajak laut paling tampan di sepanjang pesisir Tanah Jawa.  Asep tak nampak seperti bajak laut pada umumnya, dia lebih mirip bangsawan manja. Kulitnya tidak menggambarkan kerasnya kehidupan bajak laut di bawah terik matahari, kulitnya kuning langsat tanpa goresan.  Waktunya terlalu banyak dihabiskan di dalam kabin bersama para pemuja ketampanannya. Dia adalah putra seorang kepala bajak laut di Selat Sunda. Djong sedari tadi memberi kesempatan kepada lawan untuk menyerang lebih dulu. Akan tetapi pria berbaju bersih itu malah memandanginyanya dengan mata penuh kebencian.  Djong yang mulai bosan berinisiatif melakukan serangan awal. Pedangnya diayunkan, suara pedang saling beradu, dengusan, dan teriakan berbaur dengan gemuruh badai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN