Keraguan di tangan yang menjalar ke pikirannya. Pria yang masih lajang itu bersenandung kidung perlindungan yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga, berharap si bayi tak terluka oleh pedangnya.
"Ana kidung rumeksa ing wengi teguh ayu luputa ing lara, luputa bilahi kabeh,
jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah penggawe ala, guna ning wong luput, geni temahan tirta, maling adoh tan wani ngarah ing mami, tuju duduk pan sirna."
(Ada tembang pujian menjaga di kala malam,
membuat kita selamat dan jauh dari segala penyakit, terbebas dari segala mara bahaya,
jin dan setan tidak berani, guna-guna atau teluh tidak mempan, juga perbuatan buruk,
dari orang-orang jahat, api menjadi dingin bagaikan air, pencuri menjauh tiada yang berani mengincar saya, segala mara bahaya sirna.)
Pedang itu dengan sangat hati-hati membuatkan jalan bagi sang bayi. Cahaya biru menerangi gelapnya kandungan, tangan keriput kunjara merogoh makhluk kecil nan mungil. Laut malam itu begitu tenang menyambut kelahirannya.
Seorang bayi laki-laki kemerahan berselimutkan cahaya emas bulan purnama yang diberi nama Djong karena lahir di atas kapal itu. Orok itu menjadi penyejuk hati kuncara memberi harapan baru akan kebebasan jiwanya.
21 tahun berlalu, tubuh Djong muda yang tegak dan bidang khas pelaut duduk bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas, sikap kedua tangannya bersedekap menyilang tangan kanan mencengkram lengan kiri dan sebaliknya.
Matanya terpejam mengheningkan Cipta memusatkan panca indra mengerahkan daya cipta ke arah satu yakni memohon petunjuk dari dari Tuhan penguasa laut di mana letak kapal dagang China yang karam diterjang badai di tengah laut Jawa seminggu yang lalu.
Seperti yang sudah-sudah setiap ada kapal yang karam di sepanjang Laut Jawa, akan diadakan adu sengit ketangkasan antara pelaut dari berbagai penjuru dan tak ketinggalan para bajak laut untuk menemukan dimana kapal yang karam itu berada dengan iming-iming hadiah harta karun yang ikut tenggelam.
Yang menjadikan kompetisi ini sangat bergengsi adalah karena para kompetitor tidak hanya dituntut secepat mungkin menemukan di mana kapal itu berada sambil berduel dengan para lawan di tengah lautan yang tak pernah bisa diprediksi kapan datangnya badai.
Kompetisi ini tak hanya menantang kesaktian ilmu kanuragan tapi juga menantang keahlian para pelaut dalam menyelami lautan yang dalam. Tak khayal banyak sekali nyawa yang melayang namun tetap saja kompetisi ini menjadi jala terbesar yang menjaring banyak pelaut sakti.
Ajang ini menjadi tolak ukur bagi Kunjara untuk menentukan apakah Djong sudah siap dilepas ke daratan atau tidak.
Burung camar terbang di angkasa memutar-mutar memekik-mekik nyaring, memekakkan telinga sebagai tanda bahwa sebentar lagi Sagarajala akan dimulai. Sagarajala berarti air laut, karena pertarungan dilakukan dalam air laut. Djong menghentikan semedinya menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Puluhan kapal berbaris di area yang diyakini sebagai lokasi tenggelamnya kapal. Para pelaut bertubuh kekar berdiri di atas haluan kapal masing-masing. Suara meriam ditembakkan sebagai tanda dimulainya kompetisi.
Tubuh-tubuh gagah itu melesat menceburkan diri ke dalam lautan biru gelap. Para penonton ikut menahan nafas seolah-olah mereka juga turut menyelam. Suara genderang bertabuh mengiringi suara detak jantung bertalu-talu harap-harap cemas.
Jika dibanding dengan petarung lain, Djong Memang jauh lebih muda dan minim pengalaman namun bersama nasib malangnya terlahir dari ibu yang sudah meninggal iya dianugerahi kelebihan lewat perantara pedang Banyu Asin yang menolongnya keluar dari perut.
Pemuda jangkung itu memiliki kemampuan untuk mengendalikan segala cairan yang mengandung garam, terutama air laut. Setelah beberapa saat menyelam, beberapa kepala muncul ke permukaan air terlihat memuntahkan cairan berwarna merah.
Mereka menyerah setelah kalah bertarung dengan petarung yang lebih kuat. Djong yang menghindari berduel dengan dengan pendekar lain, dengan kemampuannya mengendalikan air laut ia menciptakan pusaran air dan bersembunyi di dalamnya menjelajahi dasar laut.
Pertarungan sengit terus berlangsung, satu persatu pendekar gugur sebagai petarung sejati yang tamat riwayatnya di tangan pendekar lain.
Namun sebagian yang lain masih menyayangi nyawanya dan memilih mengaku kalah dan kembali ke kapal mereka masing-masing. Kebanyakan dari mereka adalah para bajak laut.
Akhirnya hanya ada satu pendekar terkuat yang muncul ke permukaan untuk menarik nafas dalam dan kembali melesat menuju dasar laut. Ternyata posisi kapal itu karam agak jauh melebar dari perkiraan.
Djong yang sedang sibuk memasukkan kepingan emas dan perhiasan ke dalam karung goni dikagetkan dengan ikan-ikan yang berhamburan lari ketakutan karena kemunculan seorang pendekar yang tak terkalahkan.
Dengan cepat Djong langsung bersembunyi ke dalam lemari tempat penyimpanan pedang, tubuhnya yang terlalu tinggi meringkuk berhati-hati agar tidak menyenggol pedang-pedang yang digantungkan. Sifat Welas Asih yang ditularkan dari gurunya membuatnya enggan bertarung jika tidak kepepet.
Pendekar dengan tubuh gempal dan kekar itu murka melihat karung goni yang pertanda bahwa dia bukanlah pendekar pertama yang menginjakkan kaki di kapal karam itu.
Papa Jecko, begitu dia disapa yang berarti bapaknya pelaut. Merupakan juara bertahan berasal dari salah satu pulau rempah bernama Sanana di Maluku.
Meskipun harta itu masih utuh dalam katung namun tetap saja ia kesal dan menendang peti kayu yang hampir kosong itu hingga menghantam lemari tempat Djong bersembunyi. Daun pintunya terbuka dan berayun-ayun, nampaklah seorang pemuda rambut coklat kemerahan membelalak.
"Dasar bocah tengik kau mau mengajakku main petak umpet?" ucap Jekco dalam hati, karena mulutnya dalam air dan tidak bisa memaki. Jecko mengeluarkan ajian Tinju Cakalang.
"Tamat riwayatku," batin Djong. Sambil melompat ke dalam pusaran air yang ngibrit membawanya kabur.
Jecko mengeluarkan ajian Mengejar Kilat yang membuatnya berlari secepat kecepatan cahaya. Ke arah manapun pusaran air Djong menuju, Jecko sudah lebih dulu menghadang.
Dengan kecepatan maksimal pun Djong masih terkejar. Sungguh tak imbang antara kecepatan pusaran air dan kecepatan cahaya. Namun ada yang melenakan Jecko, wajahnya yang sudah merah menghitam karena terlalu lama dalam air terlalu asik mempermainkan pemuda ingusan itu.
Dia benar-benar sudah harus naik ke permukaan untuk mengambil nafas. Sempat beberapa kali ia menahan lari antara mengejar atau kembali ke permukaan.
Jika dia ke permukaan sekarang sudah pasti bujang itu akan mengangkat karung itu ke permukaan dan dinyatakan menang tapi jika dia bertahan apakah bisa dia bertahan sedikit lagi? Tapi kenapa anak itu bisa bertahan sejauh ini, siapa dia? Pikiran itu, mengusiknya.