Pendeta itu berdeham dan memusatkan perhatiannya pada Jenna. "Apakah kau bersedia, Nona?"
Keheningan terjadi saat semua menunggu tanggapannya. Lalu perlahan, dia menggelengkan kepalanya. Pendeta itu mengalihkan pandangannya kepadaku, tatapan menuduh di matany
“Apa ini, Pangeran? Anda mengatakan kepada saya bahwa Anda berdua menginginkan pernikahan ini
Raut wajahku membuat sang pendeta mundur. Pendeta itu buru-buru memposisikan dirinya pada jarak yang aman darik
Aku melangkah ke arahnya, menggenggam lengannya di atas siku, meremas sampai dia takut tulangnya akan pata
"Aku akan menanyakan ini sekali lagi," katanya dengan suara lembut yang menipu. "Apakah kamu mau
Dia tahu. Dia tahu bahwa ketika dia mengucapkan penolakannya, aku akan menghajarnya. Atau bahkan mungkin membunuhnya jika pernikahan ini hancur berantakan.
Tapi kurasa Jenna tidak tinggal diam untuk menyerah pada keadaan. Entah bagaimana, bagaimanapun juga, dia pasti akan menemukan jalan keluar dari kekacauan in
Dia mengangkat bahunya. Dengan suara yang jelas dan berani, dia mengucapkan penolakannya. "Tidak
Raungan kemarahanku hampir menghancurkan telinga. Tinjunku menghempaskan pendeta itu beberapa kaki, dan dia meringkuk menjadi bola, terengah-engah. Aku memukulnya begitu keras di tulang rusuknya sehingga dia tidak bisa menarik napas ke paru-paruny
Pendeta itu mengucapkan doa-doa dan yang terdengar seperti dia memohon agar aku terlahir kembali menjadi pria baik-baik dan melakukan kebaikan sebanyak dosa-dosaku. Saat itulah aku merasakan lagit berputar dan aku terlahir kembali.
***
Pernah pada suatu malam yang kelam di Selat Malaka tahun 1512. Sebuah kapal Djong Jawa yang pagi tadi baru bersandar tampak sunyi, semua awak kapal sedang mencari kesenangan di daratan setelah lama berlayar. Hanya kamar sang kapten yang masih bersenandung kidung Kawedar milik Sunan Kalijaga diiringi dentingan kepingan emas.
"Ada kidung bernama Hartati. Siapa yang tahu itu adalah namaku. Tatkala aku masih tinggal di Ngarai dan ketika tinggal di gunung. Ki Samurta dan Ki Samurti berganti nama tiga kali. Aku adalah arta daya, namaku tatkala masih perjaka. Kelak namaku berganti Ki Hartati. Siapa yang tahu namaku. Siapa yang tahu bunga tepus? Tentu tahu yang dimaksud dengan arta daya, yang menyatu dengan kehidupannya. Siapa yang tahu tujuan hidup, berarti kaya dan dipagari besi, dijaga orang sejagat, yang melantunkan kidung itu, bila dibaca dilafalkan dalam semalam, jauh dari perbuatan buruk."
Suara pintu ditendang oleh amarah sang kaki kekar membuyarkan alunan kidung. Daun pintu bahan jati dengan ukiran indah bunga kenanga setengah mekar membentuk sangkar, dengan seekor burung perkutut bertengger di dalamnya itu terlepas dari engselnya menghantam lantai kayu.
Ikatan rambut sang kapten dicengkeram si penendang pintu, Utimuti Raja (Pimpinan Intelijen). Tubuh Sang Kapten yang merupakan Telik Sandi (Intelijen) terseret sampai ke dek kapal. Giginya terkatup, semua otot dileher kaku, urat kepala dan leher menyembul menahan sakit.
Terompah Utimuti Raja menghantam rahang si Telik Sandi, percikan darah menetes di atas lantai kayu plitur coklat gelap. Lalu disusul tendangan tepat di pusat tubuhnya. Raga berotot khas pelaut terhempas bertubrukan dengan pagar haluan kapal, menghasilkan suara gemeretak memekakkan telinga.
Suara keris memangkas segepok rambut membuat ngilu. Si Telik Sandi merapatkan matanya, pasrah saat nanti giliran lehernya yang bergesekan dengan besi meliuk itu.
"Kematian adalah hukuman yang paling nikmat, lagipula nyawamu tak ada harganya. Lihatlah kerusakan yang kau timbulkan!" Ia menekankan setiap kata yang terucap.
Lehernya dicengkeram dan ditarik untuk bersimpuh di lututnya, kepalanya diputar menghadap ke arah kobaran api yang melahab perkampungan nelayan dan penginapan-penginapan tempat para saudagar tinggal sejenak untuk melakukan perdagangan rempah-rempah dengan bakul asing dari Belanda, Britania, China dan daratan lain.
“A-pa gera-ngan yang ter-jadi Ka-kang Ko-sa-la?” Si Telik Sandi bersusah payah mengeluarkan pertanyaan di pikirannya sambil terbatuk dalam jeratan jemari Kosala di lehernya.
"Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. 7.314 dibayar 7.314. Berlayarlah kau ke neraka bersama kapal tempatmu melakukan perbuatan terkutuk Kunjara!" kutuk Kosala.
Genggamannya yang berisi rambut laki-laki dengan otot gajah itu hadapkan ke langit, disambut suara guntur menggelegar, seolah-olah langit sedang meng-amininya.
Seikat rambut hitam itu dilempar, ditangkap gelombang air yang tiba-tiba menggunung. Kosala mengeluarkan ajian meringankan tubuh Bayu Canara (Kaki Angin), tubuh gempalnya anjlok dari kapal yang terdiri dari empat lapis kayu jati itu. Tapak kakinya melompat-lompat lincah berpijak pada angin, mendarat di atas dermaga, lalu hilang ditelan kegelapan.
Suara ombak segunung merapat, menyeret kapal yang biasa dipakai untuk mengepul rempah-rempah dari Maluku kemudian menjualnya kepada pedagang asing di Malaka sambil memata-matai Portugis.
Air asin itu melemparkannya dalam terkaman gelombang gargantua, namun tak sampai menenggelamkannya. Suhu udara di pusat kebakaran memanas, Kapal-kapal dagang yang tadi berbaris bersama miliknya ikut berkobar menjadi sasaran strategi Portugis mempertahankan kekuasaannya.
Suhu udara yang lebih dingin di sekitar titik panas itu mengalir menuju pusat api, mengepung pelabuhan yang berkobar. Angin kencang dan api bersatu menciptakan topan api raksasa. Kunjara memandang nanar ke lautan api di seberang.
Keahlian berenang Kunjara mencoba menaklukkan ombak yang terus menghalau kapalnya ke lautan lepas. Berulangkali kakinya hampir menjejak daratan, namun berulang kali juga ombak menghempaskannya kembali ke lautan.
Pikirnya lebih baik mati dihajar laut daripada hidup menonton orang-orang yang dikenalnya dipanggang. Sampai akhirnya usahanya sia-sia melawan alam.Tubuhnya terpelanting menghantam geladak tak sadarkan diri.
***
Pagi kelabu di tengah lautan, kapal terkutuk itu terombang-ambing kesepian. Deburan air laut membasahi geladak. Air asin yang masuk ke hidung terasa perih. Kunjara membuka mata.
Sekujur tubuhnya nyeri ngilu. Hatinya lebih hancur dibanding tubuhnya yang hampir remuk. Di kapal itu hanya tubuhnya yang setengah mati seorang diri, meratapi diri sendiri.
Kutukan yang hanya bisa gugur dengan cara menolong kaum tertindas di daratan sebanyak 7.314 orang. Sebagai ganti 7.314 nyawa prajurit, pedagang, dan penduduk asli yang bersimpati kepada Demak yang renggut nyawanya oleh Portugis karena kelancangan mulutnya.
Ingatan bagaimana Kunjara tergoda pesona betina Portugis membuatnya jijik pada jiwanya yang lemah. Ia baru sadar bahwa wanita cantik yang ditolongnya usai dilemparkan oleh kapal portugis ke lautan itu adalah umpan yang termakan olehnya.
Di bawah kondisi dikuasai jiwa hidung belangnya, tanpa sadar ia membeberkan rahasia p*********n pada intelijen portugis yang menyamar menjadi wanita malam di bawah pimpinan Tome Pires.
Juru tulis ulung yang merangkap sebagai kepala intelijen pasukan Portugis. Kepandaiannya mampu membaca gelagat para pedagang Jawa yang menurutnya ada keanehan.
Setelah mengetahui banyak data tentang persekongkolan antara Utimuti Raja dengan Demak, maka Gubernur Portugis langsung memerintahkan untuk menghukum Utimuti Raja dan para pendukungnya.
Air laut berulang kali membasuh raganya, luka luar disembuhkan. Namun air itu tak mampu meresap ke dalam jiwanya yang penuh penyesalan.
Dikatakan bahwa air asin seperti air ajaib, mengobati banyak hal. Hari berganti minggu, dikira kapal itu akan menjadi peti matinya dan laut menjadi makamnya, ternyata pikiran itu tak kunjung menjadi nyata.
169 tahun berlalu, tak satupun Bani Adam ataupun dedemit yang sudi menolongnya mematahkan kutukan itu. Jiwanya tetap terkurung pada tubuh yang telah menjadi mumi.
Sampai di titik putus akal, sebuah sekoci terombang-ambing di bawah sinar bulan purnama, seolah-olah nampak seperti emas yang mengambang.
"Mas kumambang," gumamnya.
Setelah didekati, sekoci dengan heraldik bergambar kapal, pedang, dan bunga cengkeh itu berisikan wanita pribumi yang sedang hamil besar dalam keadaan sekarat.
Tiba-tiba tangan gadis manis bermata elang itu menyergap pergelangan tangannya.
"Ki … To-long sela-matkan jabang bayiku."
Suaranya paraunya terhenti. Jiwanya lepas bersama nafasnya yang hilang. Perut buncit itu terlihat bergerak-gerak, menandakan si jabang bayi masih bertahan hidup.
Di benaknya hanya terpikirkan satu jalan menyelamatkan makhluk yang baru ditinggal biyungnya itu. Baru kali ini tangannya bergetar ketika menggenggam si Pedang Banyu Asin. Biasanya tanpa ampun ia menghabisi lawan, tapi ini berbeda.
Pedang itu memancarkan cahaya warna laut, merobek kain jarik yang menutupi perut. Tangannya masih bergetar, pikirannya berusaha membuatnya tenang. Mencari-cari apa yang bisa membuatnya rileks menghadapi situasi yang belum pernah dihadapinya ini?