Sinar matahari pagi yang menerobos jendela membangunkanku dari istirahat yang cukup mengembalikan tenagaku. Lengan Jenna ada di leherku, "Ya ampun dia tidur seperti gelandang."
Aku mengetuk pintu dari dalam, penjaga membukakan pintu dan aku minta disiapkan ruang pemandian untukku. Kuusap pipi Jenna untuk membangunkannya, dia menepis tanganku dengan cakarnya, tiga guratan panjang mengawali hariku.
"Mandilah! Aku sudah menyuruh pelayanan menyiapkan pemandian untukmu."
"Aku tidak mau mandi!" teriaknya.
"Mengapa? Kejadian beberapa hari terakhir ini sudah membuat kita seperti pengemis jalanan."
"Aku tetap tidak mau," bentaknya dan menarik selimut hingga menutupi kepalnya.
Selimut itu kutarik dan kubuang ke sembarang tempat. "Kau sudah tidak waras atau bagaimana? Kau perempuan dan tidak punya selera kebersihan."
"Biar saja, kalau aku bersih aku takut kau akan melakukannya padaku," ucapnya dengan menarik kakinya dan memeluk lututnya.
"Apa? Ya ampun ... kau benar-benar sudah gila. Kau terus menudingku sebagai pria rendahan. Sekarang aku akan menunjukkanmu bagaimana rendahnya aku jika terus dibantah."
Aku menarik pergelangan kakinya, dia menjerit sangat kencang dan menendang-nendangkan kakinya. "Katakan, sekarang kau akan mandi sendiri atau merasakan betapa rendahnya diriku?"
Jenna menurut akhirnya, beberapa prajurit perempuan menjaganya dengan sangat ketat. Di sekeliling kami, semua orang berhenti untuk melihat pendatang baru. Beberapa wanita penjaga menatapnya dengan rasa ingin tahu dari kejauhan, berbisik-bisik.
Jenna terlihat ketakutan dan orang-orang menatapnya dengan simpati. Desas-desus tentang kekejaman dan ambisiku, membuatku mendapatkan citra iblis. Yang mengejutkan, para pelayan wanita masih memandangku dengan sorotan memuja.
Di meja makan telah disiapkan makanan yang berlebihan dari segi porsi dan bahan. Petualanganku beberapa bulan terakhir makan seadanya di alam liar membuatku menyadari betapa mubadzir nya kehidupan para bangsawan.
Jenna akhirnya datang dengan wajahnya yang luar biasa dan tidak ketinggalan bibirnya yang cemberut dan matanya yang terlihat kesal. Kulitnya sangat bersih seolah-olah ia adalah gadis bangsawan yang belum pernah tersentuh dunia luar.
Pandanganku hanya sekilas, sisanya mencuri-curi di antara aktivitas makan kami yang ramai dengan sendok dan garpu Jenna yang terus bertarung. Dia sudah mengecap ku sebagai pria rendahan dan memandangnya lama-lama akan menjadikanku lebih rendah lagi.
James membungkuk di ambang pintu, "Kau tidak perlu seformal itu, apakah kau menemukannya, salah satu dari mereka?"
"Ya, Pangeran." James mendorong seorang pria yang sudah babak belur dan terikat tangannya ke belakang. James menendang bokongnya, "Ini pejabat bagian surat menyurat. Iya membocorkan kedatanganmu dengan sandi yang disisipkan dalam surat rahasia ke perbatasan Al Masyriq."
Mata pria itu menyipit, dan dia mengerutkan kening seolah-olah dia menderita kekecewaan di masa lalu. Apakah dia memiliki dendam lama? Dia menggigil dan berusaha untuk tidak membiarkan rasa takutnya menguasai dirinya.
"Katakan kalimat terakhirmu yang mungkin ingin kau sampaikan padaku." Aku membentaknya.
Dia menerjang ke arahku tepat saat James menarik baju bagian belakangnya dan membanting dadanya ke salah satu kursi kosong di antaraku dan Jenna, dengan kekuatan yang cukup untuk menghentikan nafasnya. Prajurit lain muncul di sisinya.
Jenna memucat wajahnya melihat hal biasa yang sering terjadi di istana ini. James memutar wajah pria itu menghadapi, memeriksa denyut di lehernya yang sudah berhenti. Jenna bangkit dari kursinya.
Jariku memerintahkannya untuk duduk dan meneruskan makannya. "Aku tidak akan segan memerintahkan James untuk melemparkan badanmu yang kurus itu seperti pria itu," ucapku. "Jangan kira karena kau perempuan maka dia tidak akan tega. Kau tidak pernah membantahku, benar bukan James.”
"Tidak pernah," dia menjawab dengan senyum mengejek yang sulit ia sembunyikan.
Jenna tampak terkejut sejenak dan kemudian dia melangkah mundur, kembali ke kursinya dan cemberut pada James. "Negeri ini penuh dengan orang-orang sadis," gumam Jenna
"Siapa wanita cantik ini, Pangeran?" tanya James, matanya menatap Jenna dengan keterkejutan. “Tidak biasanya Anda memelihara betina buas!"
"Hati-hati James, tundukkan pandanganmu. Dia seorang penyihir. Dia bisa merubahmu menjadi pria penuh bisul," jawabku cepat. “Dia yang telah mencuri Pedang Ekor Naga."
"Sulit dipercaya, dan Anda belum menghukumnya? Saya akan dengan sangat senang hati melakukannya."
Jenna mengacungkan garpunya dan menatap James dengan semua kekuatan kebenciannya. "Kau menyentuhku dan kau akan menyesali telah dilahirkan."
James mengerjap kaget dan kemudian kegelian menyelimuti wajahnya, membuatnya hampir meledak karena tawa. "Kau berani, kau berani mengancamku?"
"Silakan, bunuh aku," kata Jenna dengan tenang. “Itu akan menjadikan semuanya jadi mudah.”
"Ssst," aku memperingatkannya. "Jangan lakukan apa pun untuk membuatnya lebih marah. Dia jauh lebih b******k daripadaku." Aku terkekeh.
"Benar sekali, Anda sangat perhatian Pangeran," kata James mengedikkan bahunya. Matanya mengisyaratkan ada sesuatu yang rahasia ingin disampaikan.
"Tetap di dekatku Jenna," ucapku pada Jenna.
"Di lantai atas bersamamu akan ada prajurit wanita, dan jangan mencoba apa pun. Aku akan menempatkan penjaga yang berjaga sepanjang waktu di luar pintumu. Cepat. Kau tidak ingin membuat mereka menunggu, bukan.”
Kedua wanita yang diberi tugas untuk menjaga Jenna memandangnya dengan campuran simpati dan rasa ingin tahu saat mereka mengikutinya dengan cepat.
"Apakah Anda ingin anak itu mandi juga?" salah satu bertanya.
"Tidak!" seru Albert dari tempat tidur.
"Tidak," Jenna menjawab pelan. "Biarkan dia."
Ketika kedua wanita itu menawarkan untuk menata rambutnya, Jenna menggelengkan kepalanya. Begitu kering, dia akan mengepangnya.
Dengan mengangkat bahu, para wanita meninggalkan ruangan, meninggalkannya untuk menunggu panggilan dariku.
Dia duduk di tempat tidur di sebelah Albert, dan Albert meringkuk di lekukan lengannya.
"Aku membuatmu kotor," bisiknya.
"Aku tidak peduli."
“Apa yang akan kita lakukan, Jenna?”
Suaranya bergetar ketakutan, dan dia mencium puncak kepalanya.
“Kita akan memikirkan sesuatu, Albert.”
Pintu terbuka, dan Jenna secara naluriah mendorong Albert ke belakangnya. James berdiri di sana di ambang pintu, tatapannya penuh kemenangan.
"Pangeran menginginkanmu."
Dia menoleh ke Albert dan menangkupkan dagunya sampai dia menatap langsung ke matanya. "Tetap di sini," bisiknya. “Jangan keluar dari ruangan ini. Berjanjilah padaku.”
Dia mengangguk, matanya melebar ketakutan.
Dia bangkit dan pergi ke tempat James berdiri. Ketika dia meraih lengannya, dia menariknya. "Aku mampu berjalan tanpa bantuan."
"Perempuan yang sombong," ucapnya.
Dia mendahuluinya menuruni tangga, ketakutannya tumbuh setiap detik. Ketika dia melihat pendeta berdiri di samping api unggun di aula besar, dia tahu bahwa aku tidak mau mengambil resiko. Aku akan menikahinya dan menentukan nasibnya.
Saat James mendorongnya ke depan, dia berdoa memohon kekuatan dan keberanian untuk apa yang harus dia lakukan. “Ini pengantinku sekarang,” kataku kepada semua yang hadir.
Aku memperingatkannya dengan seksama, seolah-olah memperingatkannya tentang konsekuensinya jika dia menolak. Aku tidak akan melepaskannya.