38

1017 Kata
Jenna membelai rambut Albert yang terlihat sangat sedih. Bocah kurang ajar itu terdengar jauh lebih tua dari usianya. Dan sangat bangga dengan banci sialan itu.  Aku tidak menyangka Jenna berpikir sejauh itu. Mungkin aku akan sedikit kurang ajar tapi tidak terbesit dalam pikiranku untuk membuat bayi. Sialan Jenna, tuduhannya sangat merendahkanku, diucapkannya di depan banyak prajurit. Jenna bersikeras melindungi Albert kurasa itu juga untuk kepentingannya, ia menjadikannya sebagai tameng atas tindakan di luar batas yang mungkin akan kulakukan padanya. Dia pikir aku tak akan melakukan perbuatan tak senonoh jika ada anak itu bersamanya. Gila, pikirannya terlalu liar.  Jika aku mau, aku bisa melemparkan anak itu ke penjara dan berbuat b***t. Aku tidak mengerti jalan pikiran wanita, seperti belantara. Semakin mencoba memahaminya, semakin aku tersesat. Bagaimana aku bisa tidur dengan dua orang menjengkelkan yang terus mengoceh. Tapi aku juga tidak bisa tidur tenang jika Jenna di luar pandangan. “Saya melarikan diri dan bersembunyi di gerobak seorang pedagang keliling.  Saya berkendara selama sehari sebelum dia menemukan saya.”  Dia memiringkan kepalanya, menabrak rahangnya yang sakit lagi.  "Di mana kita, Mairin?"  dia berbisik.  "Apakah kita sangat jauh dari rumah?" "Aku tidak yakin Alfred akan selamat, kau tahu Ben terkenal sangat kejam," katanya sedih. "Tapi aku masih berharap dia akan selamat dan mengalahkan pangeran jahat itu dan aku akan menjadi raja yang diagungkan. Lalu apa yang kau lakukan di sini? Apakah dia menculikmu dari rumahmu?" Jenna menghela nafas. “Ceritanya panjang. Apa dia suka menculik para wanita?” "Jenna," teriakku. "Cukup! Kau gila dengan segala tuduhanmu. Istanaku tidak kekurangan wanita cantik. Sudah kukatakan aku membawamu ke sini demi kebaikanmu. Apa aku terlihat seperti pria rendahan?"  Ketika Albert akan menjawab, Jenna membungkamnya.  “Tidurlah sekarang, Albert. Matahari belum terbit. Kita harus menjaga stamina kita jika ingin melarikan diri.” "Kita akan melarikan diri?" Albert berbisik. “Ya, tentu saja. Itulah yang dilakukan para tawanan,” katanya dengan nada ceria.  Ketakutanku muncul. Betapa menakutkannya berada begitu jauh dari Jenna dan segala tingkahnya yang menjengkelkan. “Maukah kau membawaku ke Alfred? Dia akan melindungimu dari tindakan tak senonoh Ben.” Dia tersenyum dengan keceriaan dalam suaranya. "Tentu saja, aku akan memastikan kau pulang." "Janji?" "Aku berjanji." "Kalian berdua sangat cocok. Apa perlu aku mengirim kalian ke neraka sekarang juga untuk membakar mulut kalian yang lancang di kamarku, heh!" teriakku sambil menggebrak meja.  Teriakku bisa terdengar di seluruh halaman depan kamarku. Semua penjaga berdiri tegak, ekspresi mereka serius. Beberapa berkerut ketakutan. Meskipun begitu tidak ada yang berani mengetuk pintuku.  Aku sendiri tidak akan bisa beristirahat sampai Alfred ditemukan, hidup atau mati. Mata-matanya masih ada di dalam istana, buktinya berita kedatanganku cepat sampai di telinganya. Dia melarikan diri. Aku menoleh ke Jenna dan Albert yang sudah tertidur di kursi panjang. Suara ketukan di pintu mengalihkan pikiranku yang sedang menimbang-nimbang, akan kuapakan Albert. Dia masih belum cukup umur dan jiwa pemberontaknya sudah terlihat.  "Masuk!"   James masuk dengan wajah yang sudah memperlihatkan pertanda kabar tidak baik. Dia salah satu anggota militer kerajaan yang bisa kupercaya. Sebelumnya ia bertanggung jawab untuk mempertahankan wilayah Utara. Aku menariknya kembali ke pusat pemerintahan. Kami tumbuh bersama, ayahnya merupakan kaki tangan ayahku yang loyal.  "Aku tidak bisa mengirim setiap orang untuk mencari Alfred," katanya dengan suara rendah. “Itu akan membuat kita rentan. Aku masih menyelidiki siapa saja yang terlibat dengan pemberontakan itu."   "Aku ingin kau mengirim masing-masing tujuh kontingen pasukan dan memburunya ke tujuh penjuru yang berbeda. Bawa dia pulang, sebisa mungkin dalam keadaan hidup-hidup." Aku mencondongkan tubuhku di atas meja, menggeram menahan amarah setiap kali mendengar namanya. James mengangguk. "Kau tahu, kita tidak akan beristirahat sampai dia ditemukan." "Ya, aku tahu," kata James. James sesekali mencuri pandang ke arah Jenna yang tidur memeluk Albert, kerutan di dahinya menandakan ada banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan, hanya saja waktunya tidak tepat.  Ayahku sekarang dalam keadaan yang sangat lemah. Untungnya belum terlalu terlambat, pejabat bagian penelitian pengembangan racun telah menyelidiki asal-usul racun Alfred. Sementara itu, tabib-tabib kerajaan sedang dalam penjara untuk diinterogasi.  Suara ketukan baru di pintu membuatku berhenti mengamati peta yang terhampar di meja, "Masuk!"  Salah satu mata-mataku bergegas ke arahku, Jubahnya basah, seolah-olah dia baru saja keluar dari amukan badai.  "Bicaralah," perintahku. “Tempat penangkaran Naga di Gunung telah dibobol. Para Naga yang sedang dikembangbiakkan lepas. Semua penjaga mati terbakar, kerusakan parah dan mungkin akan sulit dibangun kembali.” Meja bergetar karena amarahku. “Itu adalah Alfred, Pedang Ekor Naga telah jatuh di tangannya. Dia sudah merencanakan pemberontakan ini sejak lama. Ia diam-diam menemui Catherine, Ratu Sihir di Hutan Terkutuk dan menawarkannya sebuah persekutuan. Alfred mencoba mengaburkan pencurian itu dengan membuat penyihir yang mencurinya. Seolah-olah pencurian itu murni sebuah upaya dari penyihir tua itu untuk membangun lagi kejayaan kerajaan sihir. Alfred lah yang memberitahu mereka kepulanganku ke istana. Buat sayembara dengan hadiah besar. Alfred akan merasakan bagaimana sulitnya lari dari kejaran para penjahat yang menginginkan hadiah itu.” Prajurit itu membungkuk.  "Ya, Pangeran." Dia berbalik dan bergegas pergi, meninggalkanku dengan campuran rasa bersyukur dan marah. Alfred masih hidup, atau setidaknya karena keserakahannya aku bertemu dengan Jenna.  Prajuritnya adalah kekuatan tempur yang mematikan yang harus diperhitungkan, dan mata-matanya masih berada di dekatku. Kerajaan ini dibangun dengan pertumpahan darah. Dan selanjutnya akan terus meneteskan darah. Entah kapan kedamaian akan datang.  Aku memerintahkan penjaga pintu untuk tidak mengganggu istirahatku sampai matahari setinggi galah. Tubuhku butuh istirahat untuk memburu Alfred.  Kupindahkan Jenna ke tempat tidurku. Ia membuka matanya dan bergumam letih padaku yang membungkuk di atasnya saat membetulkan letak bantalnya. Aku membanting tubuhku ke tempat tidur dan menggenggam tangan kanannya. Meletakkan nya di dadaku. "Menjauh dariku," gerutunya dengan mata tertutup.  "Laki-laki ada di mana-mana, kebanyakan dari mereka terlatih dan akan sangat kurang ajar pada wanita cantik. Diamlah di sini kau akan aman. Jangan membantah!"  Jenna menengok, matanya bersinar ketakutan. Lengannya melingkari tubuhnya, aku meremas tangannya untuk mencoba meyakinkannya. Tapi dia gemetar.  "Kau tidak akan kurang ajar bukan? Aku sangat lelah hanya untuk sekedar adu mulut," gumam Jenna.  Aku melihat jari-jarinya yang kemerahan karena genggamanku. Dia merenggut dan kembali tertidur saat aku mengusap-usap punggung tangannya dengan lembut.  "Hanya sedikit kurang ajar, tidak apa-apa bukan." Aku berbisik dan mendekatkan kepalaku ke kepalanya, menghirup aroma yang menenangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN