37

1058 Kata
"Dosa penculikan," semburnya.  "Bukan masalah, itu akan menjadi dosa termanis yang pernah kuperbuat. Kuharap kau menurut dan jangan memaksaku berbuat dosa-dosa yang lebih manis lainnya." Aku mengedipkan mata dengan sangat kurang ajar.  Aku dan Mercy berada dalam kemah, sementara dia duduk meringkuk, menggigil di udara lembab di sisi sungai.  Akhirnya aku menyusul dan berkata, “Sebaiknya kau masuk, Jenna.  Pria tua itu tidak akan senang jika kau mati karena terpapar udara dingin." Terdengar gerutuan kesal, tapi semenit kemudian, ia mendongak. Aku membungkuk di atasnya, matanya berkilauan dalam cahaya pantulan bulan di atas air sungai. Aku memperingatkannya, "Tidak ada yang akan mendengarmu berteriak, dan jika kau mengeluarkan suara, aku akan mematahkan rahangmu dan menyumpal mulutmu sampai pagi." Dia mengangguk, mengerti dan merangkak ke posisi tegak.  Aku menyenggol pantatnya dengan sepatu botku dan terkekeh ketika dia berbalik dengan marah.  “Ada selimut di sana.  Tak ada perapian malam ini dan tidurlah.  Kita akan berangkat saat matahari terbit.” Dia meringkuk ke dalam kehangatan selimut, tidak peduli bahwa aku sedang memperhatikannya. Aku sendiri belum bisa tidur, memikirkan pembicaraan tentang pemberontakan Alfred dan beberapa informasi yang diberikan si Jenggot Padang Pasir.   Di balik sikapnya yang elegan dan terlihat ramah, Alfred adalah pria yang kejam, serakah dan bersemangat untuk menambah kekuatannya yang semakin besar.  Ada desas-desus bahwa pasukannya adalah salah satu yang terbesar di negeri kami, dengan sokongan dari Frederick. Sebelumnya Frederick, anak pamanku, juga telah memimpin satu pemberontakan melawan ayahku dalam upaya merebut takhta. Jika Frederick dan Alfred bersekutu, mereka akan menjadi kekuatan yang hampir tak terbendung. Aku menelan kengerian dan menutup mata. Pedang Ekor Naga yang kepemilikannya berpindah ke tangan Alfred akan membuat mereka tak terkalahkan. Ayahku akan menyalahkanku atas hilangnya pedang itu.  "Ya Tuhan, tolong aku," gumamku. Aku tidak bisa membiarkannya menguasai Al Maghrib. Itu akan menjadi sebuah bencana besar, tak bisa kubayangkan betapa kejamnya nanti kepemimpinannya. Mustahil untuk tidur dalam keadaan seperti ini, jadi aku berbaring mendekati Jenna yang meringkuk di dalam selimut. Tangannya melingkari tubuhnya sendiri.  Mercy juga telah tidur, sementara itu aku melingkarkan tangan mendekap Jenna dalam tidurku.   Aku tidak cukup bodoh untuk berpikir dia tidak akan mencari kesempatan untuk melarikan diri. Perangainya yang keras kepala tak akan membuatnya mudah menyerah.  Setelah melalui perjalanan panjang dengan Jenna yang semakin merajuk, akhirnya kami tiba di perbatasan saat fajar. Mercy sangat senang dengan sebuah kamar megah yang kuberikan. Sedangkan Jenna kukurung di kamarku, mengurungnya di kamar lain akan beresiko dengan pengkhianat lain yang mungkin berkeliaran di istana.  Baru dua jam kami tiba, keributan di di depan pintu membuatku duduk tegak dan tidak melanjutkan tidur. Jenna menatap ke dalam kegelapan. Suara tangisan anak laki-laki membuaku harus keluar. Salah satu penjaga itu menghalangi seorang anak laki-laki yang sedang menendang dan menggeliat, mencoba menerobos masuk. Itu adalah Albert, adik Alfred. Anak itu berjongkok dan melihat sekeliling dengan liar sementara para para penjaga terlihat tegang "Apa ini?"  Aku menuntut. "Pangeran mencoba menyelinap," kata salah satu penjaga. Kemarahan membuat wajah Albert menjadi seperti iblis kecil, menjadi lebih jahat karena cahaya api di dinding. Bocah laki-laki itu, yang usianya tidak lebih dari dua belas atau tiga belas tahun, mengangkat dagunya dengan menantang seolah-olah menantang para penjaga untuk melakukan yang terburuk. "Kenapa kau anak anjing kecil yang kurang ajar?" teriakku. Aku mengangkat kerah bajunya, dan dia kuangkat tinggi-tinggi, Jenna menarik Albert. Mereka terhuyung-huyung tetapi berhasil menyeimbangkan kaki mereka. Bocah itu bersembunyi di belakang Jenna, meneriakkan kata-kata kotor dalam bahasa kuno.  "Diam, sekarang!" kataku dalam bahasaku yang tak kalah kasar. “Aku tidak akan membiarkanmu kurang ajar di istanaku.” Aku mencoba meraih Albert lagi. "Lepaskan dia!"  Jenna meraung. Dia mengeratkan pelukannya pada anak kecil yang akhirnya berhenti menendang dan memukul-mukul.  Jenna mengulurkan tangan dan melingkarkan tangannya ke rambutnya, menarik ke pelukannya, tetapi Albert menolak untuk menghentikan serangannya. "Kau harus membunuhku dulu," katanya. Dia menyisir rambutnya dengan jari lalu menyerangku kembali dan menendang kakiku.  Aku hampir membalasnya, tetapi Jenna berhati-hati untuk menjaga anak itu terlindung dari kebrutalanku. "Ben, cukup," Jenna menyalak. "Kau tidak punya hati, dia hanya anak-anak." Sambil menggumamkan kutukan, aku mundur. Jenna menegakkan lehernya untuk menatap mataku. "Kau menyentuh anak ini sekali saja dan aku akan menggorok leherku sendiri." Tawaku memecah ketegangan. “Itu salah satu gertakan gila, Jenna sayang. Jika kau akan mencoba bernegosiasi, kau perlu belajar untuk berkata baik-baik.” Dia menatapku dengan kebencian, lalu matanya mengerjap dan dia membuang muka. "Menggertak?"  katanya lembut.  “Kurasa tidak.  Jika aku jadi kau, aku akan menyingkirkan semua benda tajam dariku.  Kau pikir bahwa aku tidak tahu apa nasibku selanjutnya di kamarmu? Kau dengan kejam akan meniduriku sampai perutku membengkak dengan bayimu. Aku lebih baik mati.” Mata melebar. "Kau gila!" “Mungkin begitu, dan berhati-hati lah, kau mengurungku di kamarmu. Bisa saja aku membuatmu tidur selamanya saat kau lengah.” Aku mendengus. “Kau jaga anak itu. Jangan biarkan dia menyentuh apapun di kamarku.  Aku tidak ramah terhadap seorang adik pemberontak.” Jenna mengabaikanku dan berbalik ke anak laki-laki yang memeluknya dari belakang, menatapnya dengan campuran kekhawatiran dan belas kasihan. "Ayo," katanya lembut. "Kau akan baik-baik saja." Albert penuh semangat ke pelukan Jenna, menyelipkan tubuhnya yang lebih kecil ke tubuhnya. "Di mana orangtuamu?" Jenna bertanya ketika dia mendongak menatapnya. "Aku tidak tahu," katanya sedih.  “Mereka sudah tidak ada, yang kupunya hanya Alfred dan saat dia tiba prajurit suruhannya berusaha menyeret ku ke penjara.” Dia mulai sesenggukan. "Ssst," kata Jenna menenangkan.  “Bagaimana dia bisa memenjarakan anak kecil?” "Dia menuding Alfred sebagai pemberontakan dan berusaha membunuhnya, dia mengirim semua orang yang berhubungan dengan Alfred ke penjara, termasuk aku.” Jenna tersenyum.  “Ya, aku tahu itu. Jadi kamu berhasil mengalahkan orang-orang suruhannya?” kemudian terkekeh. Albert mengangguk. “Aku ingin menghajarnya. Dia Pangeran yang sombong dan jahat. Tidak seperti Alfred, dia sangat baik padaku.” "Dan siapa namamu, anak kecil?" "Namaku Albert, bukan anak kecil." Ketidaksukaan terlihat jelas dalam suaranya, dan dia tersenyum lagi. “Albert adalah nama yang bagus. Sekarang lanjutkan ceritamu.” "Siapa namamu?" Jenna bertanya. "Jenna," jawabnya pelan. “Aku akan menjadi Raja suatu hari nanti.” “Jadi kau harus menyingkirkan pangeran galak itu dulu?" "Alfred gagal melakukannya," katanya sedih.  “Kemudian sekarang dia dalam bahaya besar demi menjadikanku raja.” "Kau jangan sedih, aku akan membantumu. Bersama-sama kita akan menaklukkan pria jahat yang sedang memelototi kita. Kau lihat dia seperti sedang akan menerkam kita. Jadi, sepertinya kita harus diam dan beristirahat. Aku baru saja menempuh perjalanan yang menjengkelkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN