36

1052 Kata
Aku menahan pundaknya dan kakiku terdorong ke belakang. Saat seluruh kekuatannya tertumpu, aku melepaskan tanganku dan dia menyeruduk tempat makan kuda. Para penonton tertawa dan ia menatapku dengan kebencian sedemikian. Pundaknya digerak-gerakkan dan mulai memakiku dengan perkataan paling kotor yang pernah kudengar.  Para penonton tertawa mendengar makiannya yang terdengar agak aneh dan sangat menjijikkan. Di antara para penonton aku melihat Jenna ikut tertawa, jelas sekali ia sedang menertawakanku. Ya ampun perempuan itu tidak mau mendengarkan perintahku untuk bersembunyi jika para prajurit Alfred mengepung.  Aku memberinya isyarat untuk membekap satu-persatu prajurit yang sedang lengah dengan menonton pertandingan. Gadis pintar, ia menangkap baik bahasa tubuh yang kugunakan. Aku masih menunggu pria buntal itu yang sekarang berputar mengelilingiku, ragu-ragu dengan ancang-ancang yang ia rencanakan.   Kilatan di matanya bertentangan dengan rasa percaya dirinya, aku melihat secercah keraguan tentang serangan apa yang harus dilancarkannya untuk menjatuhkanku. Dia melatih ototnya sedemikian rupa hingga lupa mengurus otaknya. “Aku berjanji akan memakan jantungmu jika aku berhasil mengalahkanmu,” teriaknya.  “Dan aku akan melemparkan bangkaimu ke hutan untuk dimakan serigala.” Suaraku sangat tenang.  Dengan suara yang bercampur antara geraman dan tawa ia menyambar dan menjatuhkanku. Kami berguling-guling di tanah memperebutkan posisi di atas. Tinju bergantian menghantam kami. Para penonton bersorak semakin keras. Jumlah prajurit yang menonton terlihat berkurang drastis. Jenna melakukan tugasnya dengan baik.  Aku mengulur waktu, sedikit bermain-main dengan lawanku. Memberi waktu untuk Jenna membereskan semua prajurit itu. Kulihat Mercy juga membantunya. Suara menggelegar gerobak pembawa kayu bakar pecah saat aku berhasil menjatuhknya tepat di atas benda itu.  Sebelum ia berhasil bangkit dengan tubuh gempalnya yang berat, tinjuku mematahkan hidungnya dan darah mengalir seperti ingus. Kemudian menendang tulang keringnya dengan sangat keras. Ia menunduk meraih kakinya, sebuah tendangan di punggungnya membuatnya tersungkur dengan wajah terlebih dahulu ke tanah.  Kutarik lehernya di belakang dan memutarnya tepat saat prajurit terakhir di bekap dan hanya menyisakan pemimpin prajurit itu. Ia meneriakkan komando untuk mengepungku, namun tak satupun dari mereka yang datang. Para penonton tertawa. “Apakah kalian tidak ingin membalas apa yang telah dia perbuat terhadap pemimpin desa?” tanyaku.  Sejenak mereka hening, kemudian salah seorang pria meneriakkan komando seperti cara pemimpin prajurit memberi instruksi. Penduduk desa mengeroyok pria itu dengan senjata apapun yang ada, alat-alat pertanian dan peralatan dapur. Beberapa hari terakhir darahku terus berjatuhan ke tanah. Luka-luka yang lama baru hampir sembuh dan luka-luka baru bermunculan kembali. Ya ampun, sampai kapan ini akan berakhir.  Meskipun penduduk desa telah mendengar siapa diriku yang sebenarnya, mereka masih bersikap sama. Aku berterimakasih atas apa yang mereka berikan padaku, terutama upaya mereka untuk melindungiku. Mereka masih tak percaya bahwa aku adalah seorang putra mahkota Al Maghrib. Mereka yakin aku hanya membual untuk membela pemimpin desa. Hatiku tersentuh dengan sikap kekeluargaan yang terbentuk tanpa hubungan darah sama sekali.  Belum pernah seumur hidupku merasakan hal yang damai seperti di desa ini. Sayangnya kebersamaanku dengan mereka terbatas waktu. Aku harus segera kembali  dan menyelesaikan pemberontakan Alfred yang terselubung. Al Maghrib di tangan ayahku telah memporak-porandakan banyak daratan, bagaimana jika banci itu yang nantinya menguasai. Kurasa akan jauh lebih buruk daripada ayahku.  Pria tua sekali lagi menolak ikut denganku, “Aku sangat menghargai kebaikanmu Pangeran, tapi di sini lah aku memulai semuanya dan berharap di sini jugalah aku mengakhiri ini.” “Di mana keluargamu? Apakah tidak ada yang tersisa?” tanyaku. Ia menundukkan kepalanya, “Hanya sedikit yang tersisa, aku berharap bisa menemukan mereka semua. Saat punggungku masih tegak berdiri. Aku terlalu sibuk dengan banyak hal yang mensejahterakan orang banyak namun keluargaku sendiri terbengkalai. Banyak putra dan purtriku yang menjadi korban ketidakseimbangan dalam hidupku. Aku tidak bisa mengembalikan mereka yang pergi untuk selamanya. Namun aku harus tetap berusaha menyatukan yang telah tercerai berai.” Kata-kata pria tua itu perlu direnungi untuk memahami setiap makna yang terselubung. Tapi aku tidak punya waktu untuk itu. Aku berharap bisa membantunya. Mungkin nanti setelah kisruh ini berakhir. Jenna menolak untuk ikut denganku, keselamatannya terancam jika kubiarkan berkeliaran sesuka hatinya. Ia bersikeras mengikuti kemanapun pria tua itu pergi. “Jenna, tadinya aku berharap bisa bersamamu, menjadikanmu bagian dari keluargaku tapi sayangnya keadaan terlalu rumit, apalagi dengan sepupunya yang menginginkanmu. Pergilah bersamanya. Dia tak seburuk yang kita kira, kurasa dia telah sedikit berubah. Jika pemberontakan itu telah berakhir, temui aku di mana matahari terbit di Gunung Berjodoh. Aku akan menunggumu di sana. Jika waktuku tak cukup untuk menunggumu, nanti akan ada seseorang yang akan memberikan pesan terakhirku untukmu. Ingat selalu kata kunci yang kukatakan padamu. Di sana aku akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu yang belum waktunya untuk kujawab. Pangeran, aku percaya putriku Jenna akan selamat bersamamu. Ingat, antarkan dia padaku jika kau telah berhasil memutus mantra itu dan keadaan telah membaik. Pergilah!” Ia merentangkan kedua tangannya, Jenna memeluknya dan tersedu.  Aku merasakan sesuatu tercekat di tengorokanku melihat pemandangan itu. Seolah-olah Jenna telah menemukan keluarganya. Mereka tak berkata apa-apa untuk sesaat. “Pangeran, bawa Jenna. Sukarela atau terpaksa.” Pria itu melepaskan pelukannya dan pergi.  “Ayo, sudahlah. Jika semuanya telah berakhir kau bisa menemuinya lagi. Cepatlah, kita harus bergegas ke--?” Jenna memotong kalimatku, “Ke neraka?” teriaknya sambil mendorong dadaku. “Jika kau berniat melepaskan mantra itu, pergilah sendiri ke sana sendiri dan aku akan menunggumu di sini. Aku tidak sudi menginjakkan kaki di tanah orang-orang terkutuk itu.” “Bukannya kau telah menginjakkan kaki di kamarku?” ejekku. “Itu karena aku terpak--” Sebelum Jenna bisa meneriakkan kata-katanya lagi aku menarik kedua tangannya dan mengikatnya. Mulutnya terus saja berteriak mengumpat, terlalu berbahaya, suaranya bisa mengundang musuh. Aku menyumpal mulutnya dan mengangkatnya di atas bahu. Kududukkan dia di atas kuda tapi terus saja berusaha lari, tidak ada pilihan, aku mengikat kedua kakinya dan menempatkan perutnya di pelana kuda.  Di mengerang dan kuharap hentakan kuda yang berlari kencang tidak akan membuatnya muntah. Sesekali aku berhenti untuk menawarkan posisi yang lebih nyaman tapi dia terus menolak. Mercy terus terkekeh melihat Jenna seperti itu. Aku mengikuti instruksi Jenggot Padang Pasir dan berhenti di dekat sungai yang dia tandai dengan gambar kemah.  Perjalanan kami tanpa hambatan dan Jenna mulai jinak, kurasa dia kehabisan tenaga untuk memberontak. Mulutnya yang menggerutu dengan sumpalan terdengar tidak jelas. Kulepaskan ikatan di mulutnya setelah kemah kudirikan. Kami dilarang menyalakan api, namun kami membawa selimut yang cukup untuk berlindung dari udara dingin.  “Apa kau sadar kau sedang melakukan kejahatan memalukan,” ucap Jenna. “Apa itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN