“Kami memohon maaf atas kelancangan kami, Tuan. Pasukan Al Maghrib mengejar kami karena menolak bergabung. Sebagian wilayah di bagian Barat telah diduduki. Tadi malam kami tidak sengaja menemukan pondok ini dan bermalam. Kami akan membayar sejumlah uang sebagai rasa terima kasih kami,” ucapku mencoba berdiplomasi.
Para penebang kayu itu tidak menerima pemberianku dan membawa kami ke desa mereka untuk mencari tempat berlindung sementara. Orang-orang itu sangat ramah, memberikan kami tempat tinggal yang layak dan semua yang kami butuhkan.
Sudah dua hari kami tinggal saat aku melihat asap di bukit. Aku membeli kuda salah seorang penduduk dan melakukan perjalanan menuju pasar ikan. Jenggot Padang Pasir menyamar menjadi seorang pedagang ikan.
“Alfred memerintah p*********n ke benteng di sebelah utara. Penjagaan di jalur Barat tidak akan terlalu ketat karena banyak prajurit yang akan ditarik untuk membantu p*********n. Di dalam perut ikan itu sudah kugambar peta dengan jalur aman yang bisa kau lewati. Meskipun begitu tetaplah menyamar. Kau harus segera kembali ke istana untuk menyelamatkan ayahmu dan menghentikan pemberontakan ini. Dan cepatlah pergi dari desa itu, keberadaanmu sudah terendus.”
Aku bergegas kembali ke desa dan keadaan sudah hampir terlambat. Prajurit sudah ada di mana-mana. Sebelumnya pemimpin desa telah menunjukkan sebuah tempat persembunyian jika tiba-tiba pasukan musuh mengepung. Setidaknya ada lima puluh, semuanya mengenakan perlengkapan perang.
Pemimpin mereka mencengkram kerah baju pemimpin desa, “Dimana dia?” tanya pria itu dengan suara dingin. Wajahnya garang dengan tatapan jahat. Wajahnya mulai merah padam ketika pemimpin desa tidak menanggapi.
Sebuah tinju mendarat di perutnya, “Dia tidak ada di sini,” jawab pria setengah baya itu dengan terbatuk. “Aku sudah memberitahumu bahwa orang yang kau cari tidak ada di sini.”
“Kau berbohong!” Dia meraung.
Pria bengis itu melihat ke arah sekelompok penduduk yang berkerumun. “Pangeran Benyamin, di mana dia?” Tangannya bergetar karena amarah.
Ketika tidak ada jawaban satupun dari para penduduk, ia memelintir tangan pemimpin desa. “Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Aku tak mengenal pria itu. Kau gila jika menanyakan Pangeran Al Maghrib itu padaku. Bukannya kau adalah pasukan Al Maghrib. Apa yang terjadi dengan kerajaan kalian, heh?”
Kepalanya hampir dipelintir saat tiba-tiba seorang penduduk berteriak dan menerjang pemimpin prajurit itu. Mereka semua tersulut kemarahan dan dengan berani menyerang para prajurit itu. “Kalian pergilah dari tanah kami, kembalilah ke negerimu yang serakah!” Para prajurit dengan sigap menghalau gelombang serang dari para penduduk yang marah.
Diam, kau pria busuk,” bentak sang pemimpin prajurit. “Katakan di mana dia dan teman wanitanya? atau jika tidak aku akan menghabisi kalian semua.”
Aku menarik nafas dalam-dalam, tersentuh dengan sikap penduduk itu yang terus melindungi kami meskipun tak tahu siapa kami sebenarnya. Yang mereka tahu musuh kami sama dengan musuh mereka.
Terlalu banyak kejahatan yang yang diciptakan Al Maghrib. Di mata pemimpin prajurit yang beringas itu tergambar terlalu banyak keputusasaan. Dia telah dikirim untuk menjalankan tugas mengeksekusiku dan atasannya tidak akan mentoleransi kegagalannya.
“Aku Pangeran Benyamin, lepaskan di sekarang juga!” Aku membuka tudung kepalaku. Ia melebarkan mata, menatapku dengan penuh kelegaan.
Pemimpin desa mulutnya ternganga dan berusaha melindungiku, “Tidak, tidak, dia berbohong pasti untuk melindungiku. Dia hanya penduduk biasa, pergilah anak muda!”
Sang pemimpin prajurit membungkuk dalam-dalam, “Pangeran! Aku sangat mengenalnya. Tapi kurasa kau tidak akan mengenaliku. Aku hanya prajurit rendahan sebelum Pangeran Alfred mengangkatku menjadi salah satu orang kepercayaannya. Pria tua, lihatlah garis wajahnya yang khas, yang hanya dimiliki keturunan Al Maghrib. Kau tidak melihat bagaimana otot yang terlatih membungkus tubuhnya. Meskipun terlihat ia tak sempat bercukur karena terlalu sibuk dalam pelarian. Tak ada rakyat jelata seindah putra mahkota ini.”
Ia melepaskan pemimpin desa lalu mendorongnya ke tanah. Dia memandangku dari atas ke bawah. “Pangeran, kau tampak kacau sekali. Bahkan Sang Mulia Raja mungkin saja tak akan mengenali Anda lagi.” Ia memberi aba-aba pada empat prajurit untuk maju. Kami berlima yang mulai saling memandang dengan tatapan binatang buas bersiap untuk bertarung. pedang dan parang.
Aku memegang pedang. Staminaku telah kembali pulih setelah mendapatkan perawatan dari seorang tabib tua di desa ini. Hanya membutuhkan waktu sedikit untuk menjatuhkan dua di antara mereka. Luka-lukaku yang sedang dalam proses penyembuhan hanya sekedar gangguan kecil, meskipun mungkin akan sedikit memperlambat kecepatan seranganku.
Setelah prajurit keempat kujatuhkan aku menunggu lawan selanjutnya yang terlihat telah membaca bagaimana model pertarunganku. Dia seperti sedang memperhitungkan serangan apa yang mungkin bisa menjatuhkanku. Aku memulai serangan. Aku tidak suka dengan tempo pertarungan yang lambat.
Sepatuku mengibaskan tanah yang bersih tanpa dedaunan mengaburkan pandangannya dan dia tersentak mundur. Aku berputar dengan tumpuan satu kaki dan menendang tengkoraknya dengan kakiku yang berayun. Ia terjengkang ke belakang. Ia menggeram dan meneriakkan hal-hal kotor.
Tubuhnya yang gempal dan berotot seperti tidak merasakan sakit, ia berdiri dengan gayanya yang kaku.
Pria gempal itu menarik pemimpin desa yang terduduk di bawah pohon, melemparkannya ke pagar pekarangan sebuah rumah. Pagar itu hancur dan pemimpin desa berguling-guling di tanah menahan sakit. Ia memamerkan tenaganya yang sekuat raksasa untuk membuatku gentar. Ia lebih pendek namun masa ototnya lebih besar miliknya.
Ia melemparkan pakaiannya ke sembarang arah dan menampakkan otot-ototnya yang seperti pahatan batu. Ia meneriakkan kata-kata kotor mengerikan yang sebagian kata-katanya tidak kumengerti. Kurasa dia adalah pegulat bayaran. Wajahnya menyeringai dan mulutnya yang melebar.
Mulutnya seperti moncong anjing dengan kumis tipis. Aku menodongkan bilahku ke arahnya. “Ayolah Pangeran, aku sejak lama ingin menantangmu bergulat. Jika belum merasakan sendiri betapa lincahnya kau bertarung. Aku tidak akan mempercayai kata-kata mereka yang memuja kehebatanmu. Ayo, lawan aku dengan tangan kosong. Kita akan bertarung seperti seorang pria sejati. Jika kau kalah, aku akan membawa semua gadis desa itu bersamaku. Merayakan kemenangan dengan keluguan mereka. Kau mengerti maksudku, Pangeran?”
“Tentu saja, otot tanpa otak!” ejekku.
Dia menggertakkan giginya dan mengayunkan tinunya tinggi-tinggi. “Kematian akan menutup mulutmu yang kurang ajar.”
Aku menangkis tinjunya dengan mencengkram pergelangan tangannya dan sikuku menghantam rahangnya. Kakiku berputar dengan masih memegang kuat-kuat tangannya yang keras dan kaku. Ia ikut berputar dan kuhempaskan hingga menabrak batang pohon. Masa ototnya benar-benar sangat berat. Aku terengah, dan dia masih tak terlihat kelelahan sedikit pun.
Ia melompat dan menyebabkan tanah berdebum. Ia berlari seperti banteng yang akan menyeruduk. Sepertinya dia sedang ingin memperlihatkan tontonan menarik untuk para penonton, dan mereka semua terlihat sangat menikmati pergulatan kami. Warga desa bersorak-sorai dan itu membuat pegulat itu semakin ingin unjuk gigi.