34

1039 Kata
Beberapa tumpukan potongan kayu yang telah dibelah dengan kapak berserakan di tanah. Kurasa ini adalah pondok milik warga desa yang menebang kayu hutan sebagai bahan bakar perapian. Ini sudah malam, para penebang kayu biasanya akan pulang ke rumah mereka dan kembali lagi saat matahari terbit dan cuaca baik.  Jenna masih tertidur di punggungku. Aku menyalakan perapian di dalam pondok sederhana itu. Pondok itu terasa nyaman di tengah malam yang membeku. Aku menggeletakkan Jenna di lantai kayu. Pria tua dan Mercy mendekat ke perapian untuk menghangatkan badan.  Aku mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan tapi tak menemukan apapun. Hanya peralatan dapur sederhana, aku bersyukur karena ada bejana berisi air bersih di sana. Perut kami kosong, aku keluar untuk berburu hewan malam yang sekiranya bisa kami makan. Tak ada panah, aku hanya bersenjatakan belati.  Seekor burung hantu kubidik dengan belati, sayangnya burung itu lebih cepat menerima sinyal bahaya dan terbang. Aku mencari belatik yang yang jatuh di semak-semak. Tidak sulit mencarinya karena kenopnya bercahaya dalam kegelapan. Tidak disangka sebuah jalan setapak berada di balik semak itu.  Jalan itu mengarahkanku pada sebuah sungai. Para penebang kayu biasanya menebang kayu yang posisinya berada tidak jauh dari sungai. Mereka memanfaatkan aliran airnya sebagai cara mudah untuk mengangkut kayu-kayu itu ke desa tempat mereka tinggal dengan menghanyutkannya.  Berarti akan ada sebuah desa jika kami mengikuti aliran sungai ini. Aku membuat tombak dari dahan-dahan kayu untuk menangkap ikan yang bermunculan ke permukaan. Ada cukup banyak ikan segar yang bisa kubawa kembali ke pondok. Di dapur kecil pondok itu terdapat beberapa alat makan sederhana seperti mangkuk dan gelas kayu.  Setelah makan ikan bakar Mercy dan pak tua tidur. Di pojok ruangan itu ada sebuah lemari yang berisikan selimut yang sudah memiliki beberapa tambalan di sana sini. Kami bersyukur di sana ada lima selimut. Itu berarti kelompok penebang kayu ini ada lima orang jumlahnya. Kuharap mereka bisa diajak berunding besok pagi.  Masih ada beberapa koin emas di kantong dalam jubahku, semoga itu bisa meredam amarah mereka karena kami menggunakan pondok mereka tanpa izin. Masih ada beberapa ikan bakar yang kami sisihkan untuk besok pagi. Jenna masih saja tertidur. Dia lebih butuh istirahat daripada makan malam.  Ada sebuah penyesalan telah mengikatnya dengan mantra pedang Al Maghribi. Aku sendiri belum tahu bagaimana cara melepaskannya dari mantra itu. Ada sebuah buku tentang pedang Al Maghribi yang ditulis kakekku sebagai pedoman dalam menggunakan pedang. Sayangnya aku harus kembali ke istana untuk itu.  Jenna meringkuk, tubuhnya sedingin es setelah kerasukan. Aku menyusup ke dalam selimutnya dan memeluknya. Rasanya sangat nyaman dengan aroma manisnya yang khas. Jemarinya sangat dingin dan kurus. Aku semakin menyesal membuatnya seperti ini. Ia menyambut kehangatan dari tubuhku, dan terlihat semakin damai dalam tidurnya.  Aku terbangun dengan sebuah dorongan kuat di dadaku. Mataku mengerjap dan matahari masih belum terbit. Wajah Jenna yang bersungut-sungut melotot ke arahku. Mercy dan pak tua itu masih tertidur.  “Apa saja yang kau perbuat denganku? Kau selalu mencari kesempatan.”  “Ini masih pagi dan kau sudah marah-marah. Aku hanya membantumu menghangatkan badan, itu saja. Di sini ada pria tua itu dan juga Mercy. Tidak mungkin aku melakukan hal yang di luar batas. Seharusnya kau berterima kasih padaku.” aku menarik selimut yang melorot dan mencoba kembali tidur.  Jenna menarik selimut itu dan membuangnya ke ujung ruangan. “Apa maumu, Jenna? Kau ingin dipeluk lagi? Kau ini tidak sopan mengganggu orang tidur.” Aku menghela nafas, menggeliat dan meluruskan kakiku. Kupejamkan mata dan kembali beristirahat. Sepatunya menendang sepatuku. Aku meliriknya yang terlihat kesal. Seharusnya aku yang kesal. Aku mengacuhkannya dan mencoba kembali tidur. Jenna melakukan hal yang sama dengan kakiku.  Oh ya ampun, dia benar-benar menguji kesabaranku. “Tendang kakiku sekali lagi dan kau akan menyesal!”  Dan dia melakukannya lagi. Sial, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku bangkit, duduk dan menarik kakinya hingga tanganku yang satu lagi meraih lehernya. Kugunakan sedikit kewarasanku yang masih tersisa, urung melakukan apa yang tadi terbesit dipikiranku.  Jenna mematung dan ketakutan atau ketegangan terpancar dari wajah cantiknya yang menyebalkan. “Kau lakukan sekali lagi dan aku tidak akan menahan diri lagi. Aku akan menyeretmu ke tengah hutan dan membuatmu menyesal seumur hidup. Kau jangan bermain-main dengan seorang pria yang sedang tidur. Apa maumu?” Aku berbisik di telinganya, menghirup aromanya sebanyak yang kubisa.  Jenna tersenyum jahil, “Aku lapar.” Kulepaskan tanganku dari tengkuknya dan mengambil ikan bakar yang tadi kusimpan di dapur. “Makanlah, hanya ada ini. Awas kau menggangguku lagi. Aku akan menjadikanmu umpan untuk memancing ikan.”  Jenna tertawa pelan. Tawanya membuatku jengkel sekaligus senang. Aku baru tahu bahwa dia usil sekali. Aku belum bisa tidur, sebentar lagi fajar. Namun kupejamkan mataku meskipun aku belum benar-benar tidur. Sesekali kulirik Jenna yang makan dengan lahap. Ia makan sambil memandangiku.  Entah apa yang sedang dia pikirkan, dia belum menyadari mataku yang terbuka lebar. “Kenapa kau memandangiku terus? Aku tidak bisa tidur. Aku tahu aku tetap tampan meskipun dalam keadaan babak belur. Jadi bersikaplah seperti wanita terhormat.” Jenna terkesiap, “Ya, aku sedang memikirkan ramuan yang akan menimbulkan bisul lebih banyak daripada waktu itu. Kau tak perlu merasa seperti itu, aku memang bukan wanita terhormat.” Untuk sesaat kami terdiam. Hanya saling memandang, dan rasanya aneh seperti ini dalam keheningan. “Kenapa kau diam saja?” tanya Jenna.  “Aku kehabisan kata-kata menghadapi wanita sepertimu.” Kupejamkan lagi mataku dan berkata, “Kau yang berjaga, aku butuh istirahat.” “Hhmm!” balas Jenna.  Cahaya terang masuk lewat kisi-kisi saat Jenna menarik hidungku untuk membangunkanku. Aku menepis tangannya. Aku melotot dan dia tertawa. Aku melihat Mercy dan pak tua sudah bangun, mereka duduk di depan perapian. Di saat seperti ini aku benar-benar merindukan ranjangku di istana. Tidak akan ada yang berani mengganggu tidurku di sana.  Aku menyisir rambutku dengan tangan dan mengacuhkan Jenna. Aku baru bangun tidur dan kesadaranku belum kembali penuh, aku tidak punya cukup tenaga untuk adu mulut. Para penebang kayu belum datang, cuaca suram. Kami mengembalikan pondok seperti semula, melipat selimut dan mencuci peralatan yang kami pakai.  Tak lama lima pria muncul dari jalan setapak yang kutemukan tadi malam. Kami sudah mengunggu di depan pondok. Mereka terkejut dan terlihat heran. Seseorang yang paling tua di antar mereka mendekat dan bertanya, “Siapa kalian?”  tanyanya dengan wajah yang cukup ramah meskipun juga terlihat waspada. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN