33

1032 Kata
“Lalu apa sekarang yang sedang dikerjakan banci itu?” tanyaku. “Dia baru saja meminta beberapa kesatria terbaikku untuk menculik seorang gadis dan pria tua.” Aku terhuyung-huyung berdiri. “Di mana dia menyekap mereka?” “Di markasku, kau kenal mereka?” “Mereka teman-temanku. Baiklah, aku setuju dengan permintaanmu dan akan menepati janjiku jika berumur panjang. Sekarang, sebagai bukti komitmenmu kuharap kau membebaskan mereka.” “Itu tidak mungkin, bersandiwaralah seolah-olah kita tidak pernah melakukan obrolan seperti ini. Tapi aku akan membantumu seolah-olah kau lolos dariku dan menyelamatkan teman-temanmu itu. Oh ya, ada satu lagi. Pedang Ekor Naga ada di tangan Alfred, tapi dia masih menyembunyikannya. Berhati-hatilah. Aku akan mencampur sesuatu ke minuman para penjaga, dan kau bertindaklah malam ini juga.”  Jenggot Padang Pasir memberikanku peta lokasi di mana mereka berdua di sekap, masih di wilayah Al Masyriq. Dia memintaku selalu memperhatikan ke penjuru barat di mana terdapat sebuah makam kuno di bukit Berhantu. Jika ada asap yang mengepul dari bukit itu, artinya sebuah pesan untuk bertemu.  Jika melihat tanda itu, ia memintaku untuk segera datang ke pasar ikan di dekat Danau Kayangan karena ada informasi penting. Dan jika asap itu berwarna hitam, artinya aku harus lari, dia mengetahui posisiku dan pasukannya siap membereskanku.  Meskipun telah membuat kesepakatan tapi aku tidak sepenuhnya akan mempercayainya. Aku terus waspada dengan hal sekecil apapun. saat hari mulai gelap aku telah berada di sekitar lokasi yang digambarkan di peta oleh Jenggot Padang Pasir.  Dia menawariku bantuan untuk menyusup di pos dengan penjagaan ketat itu tapi aku menolaknya. Bisa saja itu adalah sebuah jebakan. Aku memperhatikan para penjaga mulai terlihat sempoyongan. Cara mereka berjalan sungguh seperti orang mabuk sungguhan bukan seperti sebuah rekayasa.  Tanpa harus menghajar begitu banyak prajurit, dengan leluasa aku masuk ke kamp tempat menyekap tawanan. Sebuah jeruji berukuran cukup sempit. Harapan memancar dari mata Jenna saat dia melihatku. Dia mungkin menganggapku seperti binatang tapi bagaimanapun kami pernah menghabiskan waktu bersama dalam kesulitan.  Pria tua itu juga ada di bawah sana, baik-baik saja meskipun terlihat lusuh. Jenna sendiri mengalami memar di tulang pipi dan pelipis. Kurasa dia melawan para penculiknya dengan sekuat tenaga, pundaknya dibebat kain dengan noda darah yang telah mengering. Aku merasakan sedikit penyesalan karena meninggalkan mereka berdua tanpa jaminan keamanan.  “Ben ….” Jenna berbisik. Aku mengangguk.  Tiga prajurit yang dikhususkan menjaga mereka telah tertidur pulas. Kunci kerangkeng itu di gantungkan di ikat pinggang milik prajurit yang sebagian rambutnya telah beruban. Kami bergegas meninggalkan tempat itu dan menuju hutan di mana aku meninggalkan Mercy.  “Bagaimana kau bisa mendapatkan banyak luka seperti ini?” tanya Jenna saat kami beristirahat sebentar di dekat sungai.  “Bukan urusanmu!” Aku memalingkan muka, menghindari menatap wajahnya. Aku sedang berusaha melupakannya. Bukan dalam arti lupa akan wujudnya. Tapi melupakan ketertarikan yang begitu kuat padanya.  Dia tampak ragu-ragu mengambil sebuah batu yang dekat dengan perapian, lalu dengan cepat membungkusnya dengan ujung pakaiannya. Dengan wajah muram yang memancarkan kesedihan ia mendekatiku dengan berhati-hati. “Aku baru menyadari b******n sepertimu juga manusia, jadi kau harus mengompres lebam-lebam yang membengkak agar lekas sembuh,” ucapnya dengan sangat tenang seolah-olah kami tidak pernah berseteru.  Aku menangkap pergelangan tangannya saat dia mengulurkan tangannya ke bengkak di bibirku yang robek. Aku menggeram menunjukkan penolakan atas secuil perhatian yang berusaha ia kerjakan. “Tidak perlu,” ucapku. “Kau juga tidak perlu berterima kasih, aku berusaha menyelamatkan pria tua itu, bukan kau.” Tanganku mengkhianati usahaku untuk terlihat acuh di hadapan Jenna. Kelembutan kulitnya dalam genggamanku mengirimkan sengatan yang membuatku sulit berkonsentrasi. Jenna menepis tanganku dan mengompres beberapa lebam di wajahku. Kehangatan dari batu itu meredakan rasa sakit yang berdenyut-denyut.  Setelah dirasa cukup ia melemparkan batu itu ke sungai. “Aku harus berterima kasih untuk yang tadi.” “Itu tidak perlu, anggap saja aku sedang membayar apa yang dulu diperbuat orang-orang kami terhadap keluargamu.”  Kewaspadaanku mengendur karena terlalu menikmati kedekatanku dengan Jenna sampai aku baru menyadari suara seekor naga telah mendekat. Tidak banyak naga yang tersisa. Manusia berlomba-lomba menguasai mereka dan sebagian besar dari mereka gugur dalam pertempuran itu.  Naga itu mendarat di antara pepohonan besar. Ia menyemburkan api ke pepohonan yang lebih kurus. Api menyala dan membuat hutan itu ikut menyala. Aku yakin pasti Alfred yang memerintah naga ini untuk melacakku dan kemudian membunuhku.  Naga itu menerjang ke arahku. Aku mengelak dan menendang kakinya dengan kuat sehingga membuatnya pincang. Sayapnya membantingku hingga tubuhku menabrak batang pohon besar. Dia mendekatiku, tanganku mencari-cari di bawah dedaunan kering dan tanpa peringatan melemparkannya ke muka naga itu.  Untuk sekejap dia berpaling dan kutusukkan pedangku ke matanya. Perisainya terlalu keras untuk dilawan. Sisiknya berlapis emas.Naga itu menjerit, menggeliat dan terjatuh. Luka itu tidak akan membunuhnya, namun akan membuatnya lemah untuk sementara waktu.  Naga itu meraung marah dan melontarkan tubuhnya ke arahku. Aku melihat sekilas gerakan di belakang naga itu. Bayangan gelap muncul dan meluncur ke arah naga itu. menaiki pundaknya dan menarik tali kekang. Ngaga itu rahangnya terbuka menyemburkan api dan cakarnya menggaruk tanah.  Jenna, dia berteriak minta dilemparkan pedang Al Maghrib. Aku maju ke hadapan naga itu untuk mengalihkan perhatiannya dan melemparkan pedang yang ada dipunggungku padanya. Dia kerasukan seperti biasa. Aku berpaling sebelum Jenna menebas lehernya dari atas.  Aku berlari menjauh, menghindari ke arah mana kepalanya akan jatuh. Meskipun sudah putus, kepala naga biasanya masih hidup untuk beberapa saat dan menyemburkan api. Kepalanya menggelinding di antara pepohonan dan membakar apapun di sana. Dedaunan kering di sekitar kepala naga terbakar dan pohon-pohon di sekitarnya ikut terbakar.  Sedangkan tubuh naga itu masih menggeliat dan mencabi-cabik tanah. Alfred menggunakan naga untuk menjebakku. Keturunan murni Al Maghrib bersumpah tidak akan membunuh dan sebaliknya mereka telah berjanji setia pada kami. Kurasa Alfred juga telah menghasut naga ini untuk menyerangku dan membuatku terpaksa menghabisinya. Tapi syrukur bukan aku yang melakukannya tapi Jenna.  Hutan mulai terbakar, dan kami menyebrangi sungai dan meninggalkan hutan yang terbakar. Seperti biasa Jenna tak sadarkan diri setelah pedang itu kusarungkan. Aku menggendongnya mencari tempat bermalam yang aman. Pria tua itu menyarankan kami berjalan mendaki ke arah perbukitan, karena angin sedang berhembus ke tempat yang lebih rendah.  Hutan di belakang kami semakin menyala. Kami berjalan melawan arah angin. Sebuah pondok sederhana dengan beberapa pohon yang terlihat belum lama ditumbangkan terlihat kosong. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN