32

1025 Kata
Ayolah tunggu apa lagi? Mereka masih berjalan penuh antisipasi. Jebakan yang paling menyakitkan dengan puluhan ujung tombak berkarat tertanam di batang pohon akan melayang menghantam mereka semua jika sebagian besar dari mereka telah berkumpul di titik di mana aku meninggalkan banyak jejak.  Aku bisa melihat kesinisan di pancaran mata Jenggot Padang Pasir, namun ada secercah rasa frustasinya yang sepertinya sulit ia kendalikan. Sebuah pertaruhan besar jika sampai aku lolos dari maut. Tak akan ada pengampunan bagi pemberontak, mereka tidak akan dipancung atau digantung. Mereka semua akan ditempatkan di penjara bawah tanah hanya dengan sedikit air dan makanan, itu pun tidak layak makan.  Siksaan yang menyakitkan setiap selang satu jam, bahkan kebanyakan mereka memohon untuk mati. Al Maghrib lebih kejam tentang pengkhianat. Orang-orang yang mereka kasihi akan di siksa di depan pata kepala mereka. Ini akan menjadi pelajaran bagi mereka yang terbesit dalam pikiran mereka untuk memberontak.  Sesekali aku mengawasi Mercy, pohon tempat ia bersembunyi terlihat beberapa dahannya bergerak dengan tidak alami. Beberapa kali kepala mereka mendongak ke atas untuk memeriksa pohon-pohon, tapi pohon tempat Mercy bertengger kupiling yang lebat dan yang palling jauh dari lokasi tetapi masih dapat dilihat untuk memantaunya. Kuharap dia bisa bertahan sedikit lagi.  Seorang prajurit termakan oleh umpanku; sengaja kusayat lenganku dan meneteskan darahnya di atas dedaunan kering yang berhenti di titik yang kutentukan. Jenggot Padang Pasir menyeringai mendapat petunjuk itu, seringaian yang membuat ototku terasa kaku. Dia memerintahkan prajurit menyingkap gundukan daun kering yang terlihat seperti orang sedang bersembunyi.  Aku menelan ludah, umpan telah termakan dan waktu terus berjalan. Saat gundukan itu ditepis, perangkap yang kupasang menghantam mereka dari segala arah. Serangan mendadak itu membuat mereka gelagapan. Para kesatria dan prajurit yang berada di luar jangkauan jebakan-jebakan itu tercengan, dan itu kesempatanku untuk menghabisi dengan belati tanpa menimbulkan suara.  Alfred tidak mau mengambil resiko, orang-orang di bawah perintahnya tak habis-habis berdatangan. Sepertinya ia telah mempertaruhkan segalanya untuk menjamin keberhasilannya menyingkirkanku. Sebenarnya aku tidak terlalu berambisi menjadi Raja Al Maghrib, tapi sekarang aku sadar. Bahaya yang besar jika singgasana itu diduduki seorang raja seperti Alfred.  Aku mungkin tak jauh berbeda dengannya yang sama-sama berakar dari Al Maghrib, tapi dia sangat haus darah dan kekuasaan. Dan yang paling mengerikan adalah masalah wanita. Ia tidak segan menghabisi mereka, sangat bertentangan dengan etika peperangan.  Sebagian besar yang terkena perangkap telah mati dengan mengerikan, aku menghintari tatapan kosong mereka menyambut kematian. Beberapa dari mereka sanggup berdiri lagi dan hanya menderita luka yang cukup menyakitkan. Si Jenggot Padang Pasir ada di antara mereka, berdiri dengan tegap seolah-olah mati rasa dengan beberapa luka yang menyayat.  Tawanya pecah, memperlihatkan giginya yang berlumuran darah. Aku bukan makhluk abadi dengan kekuatan tanpa batas. Staminaku mulai menurun karena serangan yang bertubi-tubi. Tanah di bawah kami yang tadinya kuning kecoklatan karena dedaunan yang berguguran sekarang penuh mayat yang tumpang tindih.  Jenggot Padang Pasir tidak langsung menyerangku, dia menungguku menyelesaikan pertarunganku bersama tiga orang ksatria yang tersisa. Aku jatuh berlutut saat yang terakhir dari ketiga orangnya menyusul teman-teman mereka terkapar tak bernyawa. Kutancapkan pedangku di tanah, kedua tanganku bertumpu di gagangnya untuk menopang tubuhku. Bilahku basah dengan darah yang masih terus menetes. Begitu juga tubuhku, darahku dan darah musuh bercampur membuatnya menjadi merah. Keringat menetes dari ujung rambutku pun sewarna dengan darah. Aku telah menghabisi banyak orang, tapi tak ada kepuasan. Kapan semua ini akan berakhir.  Aku terlahir di jalan ini, jalan penuh pertumpahan darah. Bahkan di hari kelahiranku, ayahku menumpahkan darah puluhan tahanan perang sebagai rasa syukur atas seorang bayi laki-laki lagi di usianya yang mulai menua. Aku dibesarkan dalam istana yang menjunjung tinggi derajat mereka yang agung namun jalan yang lebih buruk daripada binatang yang mereka tempuh.  Pilihannya berperang atau diperangi. Sampai di titik ini aku menyadari bagaimana sekarang aku diposisi seperti mereka yang telah kami hancurkan tatanan kehidupan mereka. Diburu hingga kelelahan, saking lelahnya aku hampir putus asa dan menyerahkan diri. Seolah-olah jiwa-jiwa mereka yang dulu kubuat sengsara mengutuki hidupku. Aku hidup tapi rasanya lebih mati daripada mereka yang telah mati.  Jenggot Padang Pasir seperti mengerti kehampaan dalam jiwaku. Ia terus tertawa tanpa menyerang. Tak ada tanda-tanda lagi pasukan yang datang, kini kami satu lawan satu. Meski aku tidak layak dimaafkan oleh Jenggot Padang Pasir, tapi paling tidak aku tidak akan mati sebagai pria yang putus asa.  Hujan mulai turun, seperti menangisi jiwa-jiwa yang kembali kepada penciptanya, membasuh warna merah yang ada di tubuhku. “Aku bisa saja mengumpulkan pasukan yang lebih besar lagi dengan ini.” Tangannya memutar-mutar peluit dari tanduk, biasa digunakan untuk memanggil bala bantuan atau keadaan genting lainnya dengan sandi tertentu.  “Panggilah bala tentaramu! Aku tidak akan takut berapapun jumlah kalian.” “Oh Pangeran, kau terlalu muda untuk mati dengan sia-sia. Aku mempunyai sebuah tawaran.” Refleks aku yang menunduk mendongak, dia sedang mengajakku tawar menawar. Apa yang kupunya hingga membuatnya menahan diri untuk menyelesaikan dendamnya. “Kuanggap ini impas. kita satu sama. Dulu kau mengkhianatiku dan aku telah mengkhianati perjanjian setiaku dengan ayahmu, membantu Alfred untuk melakukan pemberontakan ini. Aku tak bisa membayangkan kerusakan apa lagi di atas muka bumi ini jika dia menjadi raja. Aku sangat mengenalmu, perawakanmu yang kuat dan gagah sangat mencerminkan kualitas Al Maghrib yang disegani, tapi jiwamu adalah warisan dari ibumu yang penuh belas kasih. Jika kau mau bersumpah akan mengembalikan tanah airku utuh seperti saat kalian mengambilnya, maka aku akan membantumu mengalahkan Alfred.”  “Itu artinya aku harus melawan ayahku dulu?” tanyaku. “Tidak perlu sejauh itu. Alfred telah memberi ayahmu racun dalam jumlah sedikit demi sedikit yang sekarang dia sudah mulai sakit. Hanya menunggu beberapa dosis lagi agar dia terlihat seperti sakit biasa.” “Lalu di mana semua pengawal pribadinya, keamanan raja sangat ketat dan berlapis. Bagaimana racun itu bisa sampai di sana. Sulit dipercaya. Aku tahu kau tidak suka berbohong tapi maafkan aku yang harus meragukan kata-katamu.” “Untuk masalah racun aku tidak ada hubungannya, itu adalah cara paling pengecut dan aku tidak suka itu. Itu semua sepupumu yang melakukannya dan aku tidak ingin tahu detailnya. Tapi benar dia sedang sekarat.” “Istana memiliki tabib terbaik, lalu di mana mereka semua?” tanyaku lagi.  “Untuk masalah yang terjadi di dalam istana aku tidak ikut campur. Aku orang lapangan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN