31

1018 Kata
Aku merasakan sesuatu yang lain selama berada di negeri Al Masyriq. Sesuatu yang baru namun membuatku nyaman. Pikiranku kembali ke tempatku berasal, sebagai bagian dari kerajaan yang terus-terusan melakukan p*********n yang mengerikan. Semua itu terjadi dengan andilku yang besar.  Setelah sekian lama, Al Masyriq menjadi  sebuah kesempatan untuk belajar lebih banyak. Dan pertemuanku dengan teman-teman seperjalananku, aku tidak akan pernah menyesalinya meskipun aku harus pulang dengan hati yang hancur dan misi yang belum tuntas. Perjalanan yang baru menempuh satu hari terasa sangat panjang. Aku mulai terjaga. Saat-saat singkat antara tidur dan bangun. Aku seperti terombang-ambing di tempat yang terasa sangat asing. Ada banyak air dan perasaan ada sesuatu yang hilang sangatlah nyata.  Pria tua itu membimbingku ke sebuah tempat yang terlihat lebih mirip dengan sebuah penjara, Jenna dikurung bersama beberapa orang lainnya. Ia berulang kali bergumam dan di antara gumaman itu aku mendengar namaku disebut. Para penjaga tahanan itu menggunakan atribut Al Maghrib.  Aku terbangun, dan kami telah jauh dari pos penjagaan terakhir saat tiba-tiba rombongan kami diserang. Setelah melalui pertarungan yang melelahkan aku membawa Mercy menjauh dari kekacauan itu menuju hutan. Alfred, sudah pasti ini dia.  Sebuah rekayasa bahwa aku telah diserang oleh Al Masyriq dan kemudian terbunuh. Kami bergerak lebih jauh ke pepohonan. Kami mulai mengumpulkan buah dan apapun yang bisa kami makan.  Sampailah kami pada tempat yang penuh dengan tulang belulang manusia. Di belakangnya senjata-senjata berkarat dan tumpul tertutup oleh semak-semak.  Tiba-tiba Mercy berlari dari arah belakangku, aku bersiap dengan pedangku untuk menyerang apapun yang mungkin mengejarnya. Tapi tidak ada yang mengikutinya. Wajahnya panik. “Apa yang terjadi?” tanyaku.  “Al Maghrib,” katanya, terengah-engah. “Aku menjelajahi di bagian sana dan beberapa prajurit Al Maghrib datang.” Alfred tidak akan berhenti sebelum membawa mayatku pulang. Kami telah kelelahan menghadapi ratusan kesatria yang mencoba membunuh kami di perjalanan. Mercy mendapatkan banyak luka.  “Seberapa jauh mereka?” tanyaku. "Sangat dekat, aku mendengar seseorang memerintahkan untuk menyiksa dan membunuhmu."  Melarikan diri tak akan cukup menyelesaikan masalah. Tidak akan pernah ada kedamaian dalam pelarian, kami harus menyelesaikan masalah ini. "Biarkan mereka melacak dan menemukan kita. Aku akan membuat beberapa perangkap mematikan."  Ketakutan tiba-tiba hilang dari wajah Mercy dan senyum indah penuh harapan terbentuk di wajahnya yang penuh memar. Mercy adalah penyihir, namun tanpa bahan-bahan sihir seperti serbuk dan ramuan miliknya yang telah habis ia tidak bisa berbuat banyak.  Mantra-mantra sihir itu membentuk halusinasi yang hanya bertahan sekejap. Pada dasarnya sihir adalah tipuan, dan akan terasa nyata pada siapa yang takut padanya. Namun kesatria Al Maghrib telah terlatih dengan pengetahuan baik cara melawan sihir.  Kemampuan bertarungnya tidak terlalu bagus untuk melawan para kesatria itu, ditambah dengan luka-lukanya yang cukup serius, kami akan tetap terkejar secepat apapun kami berlari.  "Kau taku?" tanyaku.  Dia menundukkan wajahnya, "Aku belum pernah mengalami yang seperti ini. Sangat … cukup menegangkan." Dia tertawa pelan.  "Kau tidak perlu takut, aku sudah punya rencana. Makanlah! Kita masih punya waktu. Hutan ini sangat luas, meskipun salah satu di antara mereka menemukan posisi kita, mereka tidak akan langsung menyerang. Mereka tidak akan berani satu lawan satu. Mereka akan menunggu sampai kekuatan terkumpul."  "Bagaimana cara kerja perangkapmu?"  "Aku hanya akan membenahi sedikit kerusakan, kau lihat mereka yang tulang-tulangnya berserakan di mana-mana?"  Aku menunjuk tempat yang sudah kubersihkan semak belukarnya. "Orang-orang itu mati karena perangkap, kita harus berterimakasih pada siapapun itu yang telah membuatnya. Dan sisa-sisa tulang itu kurasa milik orang-orang jahat. Ikuti aku, aku punya sesuatu untuk ditunjukkan padamu."  Kami cukup kelelahan mengembalikan fungsi jebakan-jebakan itu karena berlomba dengan waktu. Kami telah bersiap sebaik yang kami bisa. Kami memanjat pohon yang paling lebat daunnya. Aku berpesan pada Mercy untuk tidak turun dari pohon apapun yang terjadi, kecuali keadaan sudah terkendali.  Tulang belulang telah kupindahkan dan menutupnya dengan dedaunan kering. Sekarang yang terlihat adalah jejak-jejak kami yang terlihat jelas telah berdiam di tempat ini untuk beberapa waktu sebelum kedatangan mereka.  Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, meskipun ada kemungkinan kegagalan karena direncanakan dalam waktu yang sesingkat itu. Aku telah menguji semua dengan batang pohon tumbang dan itu semua berhasil.  Meskipun aku telah terlatih untuk tidak bergerak sama sekali namun tetap saja muncul rasa was-was. Denyut nadi di pelipis terasa berdentam seperti genderang perang. Tenggorokanku mulai kering karena kami belum menemukan sumber air untuk minum.  Rasanya seperti sedang berjudi dan nyawa kami sebagai taruhannya. Kegagalan berarti kematian. Aku sedikit meragukan kekuatan Mercy untuk bertahan di atas pohon tanpa gerakan sedikit pun.  Aku menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata. Bayangan Jenna sedang mengejekku, aku merindukan itu. Firasatku mengatakan dia sedang dalam bahaya. Tapi apa yang bisa kuperbuat, bahkan nyawaku sendiri sedang dipertaruhkan.  Jika jebakan itu tidak cukup menghabiskan semua kesatria itu, maka rencanaku selanjutnya adalah menjadikan diriku sebagai umpan. Jika rencana ini pun gagal, bisakah kami menghindari mereka cukup lama untuk bertahan hidup?  Derak ranting dan dedaunan kering yang di injak mulai mendekat. Wajah-wajah kesatria yang tidak kukenal mulai bermunculan, tak satupun dari mereka yang kukenali. Namun yang memegang komando adalah seorang tahanan perang yang dulu pernah kubuat bertekuk lutut.  Si Jenggot Padang Pasir, dia adalah panglima perang dari sebuah kerajaan di negeri yang seluruh daratannya adalah pasir. Sudah lima tahun berlalu sejak penaklukan tanah airnya. Kami menjadikannya tawanan perang dan memberinya iming-iming untuk bergabung dengan kami.  Dia menyetujui itu, dia menjadi pengkhianat untuk bangsanya sendiri dan sekarang dia mengkhianati kami. Aku tidak heran melihatnya di sini. Darah pengkhianat telah mendarah daging hingga ke sumsum tulangnya.  Aura kebengisannya semakin terpancar. Persekutuan untuk membunuhku bukan sekedar tentang perebutan tempat putra mahkota tetapi juga sebuah pembalasan dendam. Aku benar-benar telah menghancurkan apa yang telah dibangun si Jenggot Padang Pasir. Sudah pasti dia sangat sakit hati denganku yang dulu menyamar menjadi prajurit rendahan di kerajaannya.  Ia melihat bakat yang kumiliki dan dengan tangannya sendiri aku digembleng menjadi prajurit tangguh, dengan kata lain dia adalah guruku. Aku mendapatkan kepercayaan besar darinya dan berhasil mengetahui kelemahan kerajaannya.  Ada rasa bersalah saat tanpa peringatan aku memberi komando untuk menyerang negaranya. Meskipun kami telah memberinya jabatan bagus di Al Maghrib tapi itu tak mampu mengobati rasa sakit yang kutimbulkan. Ini adalah buah dari benih keburukan yang dulu kutabur. Aku akan dengan lapang d**a menyambut apapun akhir dari pertarungan ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN