“Kenapa tidak berani? Raja sudah memerintahkan kau kembali. Dan aku yang harus memastikan bahwa kau benar-benar kembali. Setapak saja kakimu terus ke Timur, kuanggap itu sebagai upaya menentang perintah raja,” ucap Alfred dengan dagunya yang mendongak.
“Siapa kau? Aku ragu jika kau benar-benar seorang sepupu jauh. Dari cara ayahku memberimu kesenangan hidup, aku curiga bahwa kau adalah hasil perbuatan haramnya. Ambisimu menguasai Al Masyriq sangat mirip dengannya.”
Wajahnya merah padam namun tetap mempertahankan gayanya yang elegan, “Baiklah, kurasa kita perlu sedikit bermain-main. Tapi siapa yang tidak mengenal permainan pedangmu yang mengerikan, lihatlah aku bukan pengecut, aku berani mengakui kehebatanmu. Kau akan melawan seluruh prajuritku, jika kau mati, aku akan melaporkan pada raja bahwa kau gugur di medan perang dengan gagah berani.”
“Kau banci sialan! Pria tua mundurlah! Mercy, Jenna, bersiaplah dengan pedang kalian.” Mercy segera mendengar perintahku tapi Jenna hanya tersenyum melipat kedua tangannya di d**a. “Jenna!”
“Aku tidak ada hubungannya dengan pertikaian kalian.”
“Jenna!” teriakku lagi.
“Kesepakatannya, aku akan membantumu menemukan Raja Zuchri dan setelah itu kau akan melepaskanku. Yang tidak berkaitan dengan ini, aku tidak akan ikut campur.”
Rasanya ingin sekali menerkamnya hidup-hidup, perempuan itu terus menguji kesabaranku. Alfred terus tertawa hingga matanya berkaca-kaca. Kuraih lengan Jenna dan menariknya mengikuti langkah kakiku. Dia berusaha melepaskan cengkramanku tapi itu tidak berhasil.
Demi rambutnya yang indah dan kulitnya yang bercahaya diterpa cahaya matahari, mengapa dia sangat menjengkelkan. Lima kesatria berpedang menghadang. Tanpa basa-basi kuangkat pinggul Jenna dan mengayunkannya ke udara. Sepatunya menghantam kepala mereka bergantian.
Jenna seperti boneka di tanganku untuk menghalau kesatria bayaran itu. Aku bisa merasakan nafasnya yang terkadang tertahan, tersengal dan menggebu saat aku memutarnya, kepala di bawah dan kaki di atas. Itu cukup untuk meredakan kejengkelanku padanya.
Semua mundur dan sekarang Alfred memerintah para pemanah bersiap di posisi mereka. Benar-benar licik, dengan Jenna berdiri di hadapanku tidak mungkin bertempur dengan puluhan anak panah tanpa resiko. “Sungguh, kau banci licik. Hadapi aku layaknya pejantan!”
Jenna yang nafasnya masih naik turun mendengus, “Kau juga tidak jauh berbeda, hanya seorang banci yang menggunakan perempuan sebagai senjata.”
Aku menariknya mendekat, dan berbisik di telinganya, “Kau akan menyesal telah menyamakanku dengan banci itu. Teruslah memaksaku keluar dari batasan dan kau akan menyaksikan dengan mata kepalamu, bahwa aku bukan banci.”
“Kau mau apa? Menghabisiku seperti kalian menghancurkan ras kami?” Matanya mengerjap.
“Lebih menyakitkan daripada kematian. Kujamin kau tidak akan pernah melupakannya,” gertakku.
“Oh ya, kau memang binatang. Aku tidak heran jika kau tega melakukannya.” teriaknya.
“Itu konsekuensimu yang terus membangunkan jiwa binatangku.”
Suara tepuk tangan Alfred menghentikan adu mulut kami. “Wah … wah … wah … kalian seolah-olah lupa di sini ada ratusan orang sedang menonton. Dan Ben … aku hampir-hampir tidak percaya bahwa ini adalah kau, yang namanya saja sanggup menggetarkan kaki para musuh. Biasanya kau selalu memegang kendali, tenang dan sangat awas dengan sekelilingmu. Aku tak menyangka bahwa kau bisa sesabar ini. ”
"Dan kau, semakin hari terlihat semakin aneh. Kau laki-laki tapi mulutmu melebihi perempuan. Dan kau akan termakan oleh keanehanmu sendiri."
Aku menengok ke arah Jenna, dia cantik meski penampilannya berantakan penuh keringat setelah bertarung. Ia memalingkan muka, memejamkan mata, mengepalkan tangannya dan masih berusaha melepaskan peganganku. Aku sedang terpikat, di sisi lain obsesiku terhadap Al Masyriq telah membutakanku. Keduanya nyaris menghasilkan kegilaan.
Kutarik lehernya untuk mendekatkannya dengan mulutku hingga aku berbisik, “Jalan pikiranmu terlalu rumit untuk dimengerti, Jenna.” Aku menghela nafas dengan sangat lembut. “Tapi aku tahu kau cukup pintar untuk mengerti bahwa pria itu sangat berbahaya.“
“Kau sendiri? Jadi, siapa yang paling berbahaya di sini? Kau atau dia? Jangan katakan kau berusaha menyelamatkanku sedangkan kau sendiri menjadikanku tidak lebih dari binatang peliharaan yang bisa dimanfaatkan sebagai alat pembunuh.”
Setiap perkataannya rasanya seperti siksaan, aku berhenti mencengkeramnya dan ketegangan tampak mengendur dari tubuhnya. Aku memikirkan waktu yang terbentang di depanku, dan ayahku yang ambisius menunggu kepulanganku ke Al Maghrib. Lalu sekarang ada Mercy yang bersumpah setia, kurasa aku harus membawanya pulang untuk memberikan sesuatu yang layak sebagai gantinya.
Bagaimana dengan pria tua itu, aku memberinya sekantong kecil koin emas, “Pak Tua, terimakasih untuk semua pengalaman yang telah kita lalui bersama. Jika kau tidak memiliki siapa-siapa lagi, kau bisa ikut denganku pulang. Aku akan menjamin hidupmu sampai kau tak hidup lagi.”
“Aku tak menyangka seorang Pangeran Al Maghrib yang terkenal bengis ternyata memiliki hati seindah emas Al Masyriq. Saya sangat berterima kasih atas tawaran ini. Tapi sayangnya saya akan lebih senang jika ditinggalkan di sini.”
“Baiklah. Mercy, ikutlah denganku. Aku akan menepati janjiku. Banci! Cepat siapkan segalanya, aku tidak tahan lama-lama di dekatmu.”
Jenna, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padanya. Memandangnya untuk terakhir kali saja membuat darahku menjadi beku di bawah sinar matahari yang mulai terik. Ia menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di matanya sebelumnya.
Entah itu sebuah rasa syukur karena aku telah melepaskannya atau rasa tidak percaya. Jalan pikirannya seperti badai yang sulit ditebak kapan akan berakhir. Aku telah mempertimbangkannya. Entah mengapa aku tidak ingin mengorbankan tiga orang yang telah menjadi teman seperjalananku beberapa bulan terakhir.
Baru beberapa langkah aku menjauh dari Jenna. Aku tidak bisa memahami kerinduan dan kesepian yang tiba-tiba muncul. Untuk sementara waktu, aku mencoba melupakan ketertarikanku pada Jenna, berharap itu bisa membantu membuatku seperti sebelum bertemu dengannya.
Akan ada banyak wanita di istana, tapi tidak akan ada yang seperti dia. Jenna melihatku dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh wanita biasa. Dan aku akan membutuhkan seumur hidupku untuk membunuh bayangannya dalam diriku.
Alfred telah menyiapkan semuanya, perjalanku ke penjuru Barat terasa menyakitkan. Aku lebih banyak diam. Mercy ada di kereta tepat di belakangku. Benar apa yang dikatakan Alfred, jalur Barat di tanah Al Masyriq telah mereka rebut.
Perjalanan kami tanpa halang merintang, dan prajurit Al Masyriq berjaga di setiap pos. Pemberontakan terus berlangsung, namun Al Masyriq terbukti tangguh. Beberapa benteng yang telah dikuasai sebagian telah direbut kembali.
Al Masyriq bukan sekedar negeri jaya biasa seperti negeri-negeri lain. Rakyatnya mencintai negerinya layaknya mencintai diri mereka sendiri. Raja yang di agung-agungkan mensejahterakan rakyatnya tanpa pandang bulu. Pemberontakan ini tidak akan mudah dengan rakyat yang suka rela menjadi mata dan telinga pemerintah.
Tak ada istana megah tempat raja menikmati segala kenikmatan hidup, bahkan tidak ada yang tau di mana ia tinggal. Aku telah mempelajari Al Masyriq, dan semakin lama aku semakin takjub.