Aku berbalik ke kiri menghindari Jenna dan di sana Mercy sedang menghadap ke mulut gua, memandang ke pantulan gunung. Dia begitu diam hingga kupikir mungkin dia melihat sesuatu yang berbahaya. “Mercy? Apa ada yang tidak beres?”
“Ini sesuatu yang buruk, aku bisa merasakannya mendekat. Perhatikan suara-suara burung itu.”
Mataku melihat ke arah pandangan Mercy. Perbukitan yang naik turun tertutup pepohonan lebat. Sinar matahari yang menembus sisa-sisa awan badai menerangi hamparan tanaman yang mulai bersiap untuk musim dingin dengan daunnya yang berguguran.
Burung-burung beterbangan di sepanjang jalur yang mengarah ke gua ini. Bukan hanya satu atau beberapa orang, itu adalah sekompi pasukan jika diperkirakan jumlahnya yang mampu mengusik begitu banyak burung. Aku mempertajamkan pendengaran namun suara serangga berdengung yang menyambut cuaca yang mulai cerah menghalangi indraku.
Kutempelkan telingaku di tanah dan suara aliran deras sungai di dekat sini mengaburkan pendengaranku tentang apapun yang sedang mendekati kami. Tidak ada tanda-tanda adanya tempat aman yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Apapun itu datang dari segala arah mengepung kami.
Pria tua, Jenna, dan Mercy mengelilingiku. Suara derap kaki pasukan yang memancarkan kebengisan yang akrab di telingaku. Kami menunggu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.
“Pria tua, kau tahu apa ini?” tanyaku.
“Ya ... .” Dia berbalik ke arahku dan aku melihat sisa-sisa kesedihan di wajahnya.
“Katakan!” perintahku.
“Kukira kau tahu lebih baik daripadaku. Warna panji-panji mereka sudah mulai nampak. Mataku yang sudah tua masih mengenalinya. Itu bukan warna kebesaran Al Masyriq, emas.”
Sewarna dengan biru langit, itu Al Maghrib. Tapi mengapa mereka di sini lebih awal? Aku bahkan belum meminta bala bantuan.
“Kalian semua, masuklah dalam gua,” perintahku. Tapi tak satupun dari mereka mendengarkannya. “Hah … Ada apa dengan kalian? Bersembunyilah, aku akan mengalihkan perhatian mereka. Aku heran dengan kalian semua.”
“Kami bukan pengecut!” teriak Jenna.
“Oh baguslah. Aku tidak perlu bersusah payah melindungi kalian. Lebih mudah mengatur satu peleton prajurit daripada mengatur satu perempuan sepertimu.” Aku menggerutu.
Kakiku baru satu langkah saat selusin anak panah menghujam tanah yang ada di depanku. Kami terkepung. Derap kaki kuda membelah barisan prajurit itu. Wajah yang sangat kukenal dan suara tawanya yang sangat menjengkelkan, Alfred; seorang sepupu jauh yang selalu mencoba mencuri perhatian dari ayahku. Tapi sayangnya dia tidak masuk dalam garis pewaris Al Maghrib karena lahir dari jalur ibu yang tidak jelas.
“Kau belum mati Ben?” tanyanya dengan nada suara lembut. “Kau terjebak di sini dengan ….” ia memandang ke arah Jenna, Mercy dan pria tua. Senyumnya memicing, belama-lama memandang Jenna.
“Sepertinya kau menemukan keluarga baru, apa pria tua itu mertuamu?” Matanya yang sejak lama ingin kucongkel, melebar.
“Cepat katakan untuk apa semua ini. Tidak perlu berbasa-basi, aku tidak suka mulutmu yang terus mengoceh seperti perempuan tua.”
“Oh ayolah Ben sayang, sudah lama sejak terakhir kali mengobrol denganmu. Apa kau tidak merindukanku? Mari kenalkan sepupumu ini pada mereka. Oh ya, istrimu yang mana?” Dia kembali memandang Jenna dan terlihat sangat penasaran.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Menahan godaan untuk tidak menarik pedangku. “Baiklah aku akan menebaknya karena sepertinya kau malu-malu. Kurasa yang di sebelah kiri pria itu. Aku bisa memahami bagaimana dia memandangmu, penuh cinta di matanya. Seperti yang sudah-sudah, ketampananmu seperti sebuah kutukan yang pada akhirnya selalu membuat para wanita merana. Dan aku penasaran dengan yang di sebelah kanan, penangkal apa yang dia miliki hingga pancaran di matanya adalah kebencian yang sangat dalam saat menatapmu. Sepertinya kutukanmu tidak berpengaruh padanya.”
Jenna terkekeh mendengar omong kosong Alfred. Saat dia mulai berjalan ke arah Jenna, aku tidak bisa menahan diri lagi. Kutarik pedangku dan memperingatkannya, “Berhenti membual Alfred, cepat jawab pertanyaanku tadi!,” teriakku.
“Oww … oww … Ben, kau masih sama. Cepat sekali marah jika itu menyangkut propertimu. Tapi sepertinya dia tidak seperti yang lain. Nona ….” Alfred membungkuk menyapa Jenna. “Jika suatu hari nanti saudaraku ini mencampakkanmu, aku akan dengan senang hati menghiburmu. Seperti yang sudah-sudah. Hati-hati dia tidak punya hati untuk mencintai wanita, aku kasihan dengan para wanita yang sudah-sudah. Mereka hanya seperti … habis manis sepah dibuang, kau mengerti maksudku?”
“Oh Anda baik sekali, tapi kurasa tidak perlu repot-repot. Aku tidak akan jatuh hati padanya.” Jenna terkekeh lagi.
“Ya ampun Nona … Demi jarak yang membentangkan antara Timur dan Barat, aku belum pernah melihat yang seindah Anda. Di mana selama ini Ben menyembunyikanmu. Pantas saja dia enggan kembali, kau tahu ayahnya sudah risau dan mengkhawatirkannya. Tidak biasanya dia lamban seperti ini. Nona apakah kau keberatan memberi tahuku nama Anda?”
“Hentikan mulutmu yang tidak bisa berhenti bicara atau aku akan memotong lidahmu!” Aku mengacungkan mata pedangku ke depan mulutnya. Dia mengangkat tangan. Jenna tertawa dan itu sangat menjengkelkan.
“Kau! Berhenti tertawa, atau aku akan ….” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Rasa terbakar bergumul di dadaku, merambat ke sekujur tulang punggungku dan naik ke kepala. Aku cemburu melihat Jenna tertawa dengan b******n itu. Jenna berhenti tertawa tapi senyumnya belum lepas dari wajahnya.
“Baikalah, tidak perlu marah-marah seperti itu. Apalagi pada seorang wanita yang mempesona. Aku sedang bersekutu dengan salah satu petinggi Al Masyriq untuk melancarkan pemberontakan yang dia buat. Dan lihatlah, kami baru saja menang dengan benteng yang di sana. Itu hanya permulaan. Ayahmu sudah mulai tidak sabar denganmu yang sepertinya sekarang terlihat nyaman tinggal di wilayah musuh. Kau menanggalkan pakaian kebesaranmu sebagai pewaris Al Maghrib dan memakai pakaian rakyat jelata, berpetualang dan tak kunjung memberi kabar. Ayahmu memberiku kuasa untuk menyambut tawaran dari petinggi itu untuk menghancurkan Al Masyriq dari dalam. Apakah kau ingin bergabung denganku atau kau akan meneruskan misimu mencari Raja yang misterius itu?”
“Kau tidak perlu ikut campur urusanku dan aku tidak akan ikut campur dengan urusanmu. Menyingkirlah dari jalan kami,” ucapku dengan malas memandang arogansi di wajahnya.
“Sayangnya, ayahmu memintamu kembali dan menyerahkan urusan Al Masyriq ke tanganku. Dia sedang sakit, cukup serius dan ingin melihat satu-satunya putra yang tersisa. Kembalilah Ben, kau bisa duduk manis menunggu kematian menjemput ayahmu dan aku akan berjuang untuk Al Maghrib. Kami akan menyiapkan perjalanan yang menyenangkan dengan kereta terbaik, kami sudah menguasai jalur Al Maghrib di sebelah barat. Kau tidak perlu bersusah payah jalan kaki seperti ini.”
“Aku akan kembali setelah urusanku selesai. Sampaikan itu pada ayahku. Dan menyingkirlah dari hadapanku.” Aku memberi isyarat pada rombonganku untuk pergi dan anak panah kembali memblokade jalanku. “Beraninya kau!” bentakku.