28

1042 Kata
Tatapannya mengeras seolah-olah menantangku, “Aku memiliki serbuk yang akan mengubahmu lebih jelek daripada waktu itu di Muara Bangkai.” “Oh aku senang mendengarnya.” Mataku menyipit mengingat betapa menjengkelkannya saat-saat itu.  “Dan aku bisa mengutukmu dengan nasib buruk,” lanjutnya. “Tapi sayangnya itu baru kupelajari, belum layak digunakan karena akan memperburuk nasib. Dan aku tergoda untuk menggunakannya sekarang juga. Dan menjauhlah dariku sebelum aku lepas kendali.” Aku menarik lehernya hingga dahinya beradu dengan dahiku, “Lakukan! Aku ingin tahu bagaimana cara kerjanya. Dan seberapa tega kau padaku. Lakukan Jenni, berikan aku yang paling buruk!”  Kami terdiam untuk beberapa saat, nafasnya menyapu wajahku dan rasanya seperti sedang mabuk. Aku melanjutkan, “Dan jika kau tak kunjung mengutukku, aku tahu artinya itu. Kau … peduli padaku. Kau … tak ingin menjalani nasib baik bersamaku. Katakan jika aku benar!” Aku memiringkan kepalaku dan itu hampir saja, jika tidak tangannya dengan cepat mendorong rahangku dan ia berguling menjauh dariku dan hampir menggilas bara api. Aku menyisir rambutku dengan jemariku, mengusap wajahku seakan-akan itu bisa mengembalikan kewarasanku.  Jenna seperti sesuatu yang dengan cepat menghilangkan akal sehatku setiap ada di dekatnya. Terkadang aku jengkel dengan sesuatu ini tapi juga menikmatinya. Oh ya ampun, inilah yang disebut mabuk wanita.  “Ada satu hal lagi,” ucap Jenna.  “Lanjutkan!”  “Aku bukan w************n, berhentilah merayuku. Kau mungkin tidak pernah mengalami kesulitan dalam mendapatkan wanita, dan itu membuatmu terlalu percaya diri. Kau memang tampan dan memiliki segalanya. Tapi sayangnya aku bukan tipe yang menyukai apapun yang ada padamu. Kau sudah terlalu jauh dari istanamu dan mulai melupakan tentang sopan santun. Kusarankan kau segera pulang!”  “Kau tahu, Jenna. Kata-katamu entah mengapa rasanya lebih menyakitkan daripada pedangku. Pengakuanmu seperti pedang sihir tak kasat mata yang menusukku di sini.” Aku menepuk dadaku yang terasa nyeri. “Tapi kau mengakui ketampananku, itu cukup menghibur hatiku. Aku hanya bisa berharap pada waktu, agar ia bisa mengubah rasa bencimu menjadi sesuatu yang sedang kurasakan sekarang.” “Tidak akan pernah, sudah kukatakan tadi. Jika hanya tersisa dua pria di dunia ini, kau dan pak tua itu. Aku lebih memilih pria tua yang sudah keriput itu.” Aku lupa jika di gua ini bukan hanya kami berdua. Pria tua itu terkekeh mendengar ucapan Jenna. Ini kali pertama aku melihatnya se-geli itu. “Sial, aku dibandingkan dengan pria yang sudah bungkuk. Jika bukan karena kau masih berguna untukku. Sudah pasti aku akan mengirimmu ke neraka lebih cepat.”  “Aku dulu juga pernah muda sepertimu dan tidak ada yang abadi hingga waktu membuat punggungku membungkuk. Aku sudah hidup sangat lama, anak muda. Aku takut untuk memberi tahumu tentang apa yang kuingat tentang wanita. Jika ada keindahan yang paling berbahaya, itu adalah wanita. Sudah berapa banyak pria yang jatuh dari puncak karena wanita. Jika ada yang bisa menimbulkan sensasi rasa sakit hingga merasuk ke setiap aliran daramu, itu siapa? Berhati-hatilah anak muda.” Wajahnya kembali serius dan menunduk.  Aku menahan nafasku yang terasa sesak, mencari-cari sesuatu dalam diriku dan mencoba memahami apa yang kurasakan. Dan aku menyadari rasa itu, nyata dan bukan hanya sekedar keinginan sesaat seorang pria.  “Kau bukan wanita pertama yang kutemui dengan kecantikan yang mampu menyihir. Kau juga jangan terlalu tinggi hati Jenna. Dia baik, lembut dan penuh kasih. Dan kau seperti monster Jenna.” Dia berbalik menatapku, terlihat jelas dia sedang menahan nafas. Ia memerlukan waktu sejenak untuk mempertimbangkan kata-katanya. Dan kemudian matanya menyipit, “Baguslah. Kau tahu ….” Dia berhenti seperti ragu-ragu dengan kata-katanya sendiri.  “Tahu apa?” ejekku. “Tahu … tidak. Tidak ada. Lupakan! Kau tidak perlu memberitahuku tentang dia. Simpan untuk dirimu sendiri,. Kau tahu … aku tidak peduli.” Dia terlihat tidak nyaman.  Aku mengingat kembali masa-masa invasi ke penjuru Barat Daya. Kesulitan dan kebrutalan lawan kami di sepanjang perjalanan misi itu, serta keindahan bentang alamnya. Seorang ratu yang menjalani ritual untuk keabadian kecantikannya. Entah sudah berapa banyak pria yang terjebak dengan permainan cintanya.  Ritual mengerikan yang memakan banyak korban gadis-gadis desa yang masih suci. Ratu itu menghisap sari pati mereka, menjadikannya kering seperti mumi ribuan tahun. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Saudara laki-lakiku Benedict sudah lebih dulu terlena, dan aku hampir saja.  Tak hanya kecantikan, ritual itu memberinya kekuatan besar hingga bisa menguasai saudarau untuk balik menyerang kami, Al Maghrib. Itulah saat-saat yang selalu menjadi mimpi burukku. Bagaimana kami harus berperang melawan orang yang kami kasihi. Ditangan ayahku sendiri kehancuran Benedict.  Itulah saat-saat paling muram di kerajaan kami. Ayah dan ibuku menjadi lebih sering bertengkar. Entah apa yang ada dipikiran ayahku, dia tidak punya hati. Ibuku menjadi sakit-sakitan dan meninggal. Aku diposisikan sebagai pengganti Benedict dengan beban tanggung jawab besar di usiaku yang masih sangat muda.  Saat itu aku hampir tidak percaya diri, saudara laki-lakiku yang lebih unggul dariku bisa menjadi seperti itu. Ada ketakutan tersendiri menyangkut apapun yang berhubungan dengan seorang wanita yang mampu menciptakan bencana besar dalam keluargaku.  Kata-kata pria tua itu seakan-akan mengingatkanku kembali pada masa yang selalu ingin kulupakan. Seolah-olah dia tahu betul tentang kami. Aku mulai bertanya-tanya, siapa dia? Dia terlihat seperti pria tua pada umumnya, lemah dan menunggu kematian menjemput.  Di sinilah sekarang aku berada, menjalankan misi yang seharusnya menjadi tanggung jawab Benedict. Bedanya, kemanapun dia berada, dia akan terlihat sangat menakutkan seperti kawanan singa liar, bersama seluruh pasukan terlatihnya, ia berperang dengan sangat jantan. Aku lebih sering menyusup dan mempelajari kelemahan lawan dan baru setelah itu menghancurkannya hingga tak tersisa. Meskipun kemenangan hingga kemenangan di berbagai penjuru telah kuraih tapi ayahku belum juga puas. Yang terakhir dari misiku, penjuru Timur, Al Masyriq.  Jauh dalam lubuk hatiku, aku telah letih dengan semua ini. Ruang kosong yang terisi kerinduan kasih sayang ibu dan saudara-saudaraku menganga lebar. Malam itu Jenna masuk ke kamarku untuk mencuri tapi sayangnya bukan hanya Pedang Ekor Naga, tapi juga hatiku. Ada sebuah ketakutan lama yang muncul kembali. Apakah mungkin aku akan menjadi seperti Benedict. Apakah ayahku akan membiarkanku bersama Jenna jika aku berhasil memenuhi ambisinya. Rasanya aku sedang ada di persimpangan jalan, dan hilang arah. Aku tahu betul alasan Jenna mengapa begitu membenciku, tapi apakah mungkin dia memiliki cinta lain? Pertanyaan itu seperti sebuah sengatan yang berhasil melukaiku. Aku tidak bisa membayangkan jika itu benar adanya, mungkin rasa sakitnya akan beribu kali lipat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN