Jenggotnya yang panjang hingga ke d**a berayun-ayun tertiup angin. “Percepat langkah kaki kalian,” perintahnya. Kami mengikutinya tanpa bertanya apapun. Teriakan kebencian dan kemarahan berputar-butar bersama angin. Aku berbalik untuk melihat gerombolan prajurit menerobos badai dan berlari dengan liar.
Anak panah berterbangan, aku menarik pria tua itu dalam gendonganku, ia terkesiap namun tidak menolak punggungku. Jenna tersenyum lega lalu buru-buru mengikutiku yang berlari mendengarkan instruksi pria di gendonganku.
Ia memintaku berlari mengikuti arah angin. Itu adalah arah yang akan kami tuju. Semakin cepat kami melarikan diri dari dua pasukan yang bertikai ini, semakin baik. “Menunduk!” teriak Jenna. Aku dengan sigap mengikuti instruksinya dan tombak menancap di pohon. Gagangnya bergetar dengan menembus mata tombak yang menembus batang.
Sambil menahan beban di punggung, aku berbalik untuk melihat apa yang cukup mengejutkanku. Di belakang kami konflik telah menyebar dan keributan pedang yang saling menebas dalam pertempuran yang belum juga berhenti.
Suara teriakan biadab, jeritan, dan dentingan pedang memudar, dan pertempuran tidak nampak lagi di belakang kami. Ketakutanku akan keselamatan rombonganku juga mulai menghilang, digantikan oleh fokusku pada arah angin. Kami berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dengan keadaan.
Setelah beberapa waktu berlari, sampailah kami di bukit batu dan kami beruntung sebuah gua tanpa penghuni bisa kami jadikan tempat istirahat. Jenna meneriakkan sesuatu dari tempatnya beringsut di dinding batu. “Kau gila, untuk apa semua ini?”
Dia berlutut, rambut basah menutupi wajahnya dengan nafas terengah. Aku menurunkan pria tua yang tampak letih. Aku mengatupkan gigi menahan otot-otot tanganku yang mati rasa. Jenna tampak semakin kesal karena aku tak kunjung menjawab.
Pikiranku kembali ke tempat di mana aku berasal, Al Maghrib tempat yang menurutku paling aman dan menyenangkan. Apapun yang terjadi aku tidak akan berhenti berusaha mencari Raja Zuchri, menaklukkan daratan dan menang atas kelihaiannya bersembunyi dari musuh. Aku tidak akan menyerah pada kemungkinan yang akan terjadi.
Aku sudah sangat jauh dari tempat kelahiranku. Jenna membuatku lupa akan tempat itu, ia sudah menjadi rumah yang nyaman bagiku. Kemanapun aku pergi, aku ingin segera kembali padanya. Aku sudah gila. Tawa yang lemah keluar dari mulutku, lalu semakin keras. Aku menertawai diriku sendiri.
“Kau benar-benar sudah gila!” gumam Jenna. Ia sendiri ikut menertawaiku. Oh sial, sesuatu yang menguasai hatiku sepertinya menjadikanku sebuah lelucon. “Kita telah lolos dari mereka!” kataku. Benteng sialan dan para prajuritnya. Sialan mereka semua!”
“Kau terlalu memikirkan dirimu sendiri!” Ia mendengus.
Aku tertawa mendengarnya, “Kau benar. Tapi kau yang terlalu banyak menyita pikiranku. Dalam hati dan jiwaku.”
Sesuatu yang bergerak dengan tiba-tiba di belakang kami, mengalihkan pandanganku dari kecantikan Jenna. Aku hampir saja mengungkapkan isi hatiku dan aku berterimakasih telah mengalihkan perhatianku. Itu hanya seekor kalelawar yang terusik dengan tawa kami.
Sepanjang hidup, aku belum pernah ada seorang wanita yang mampu membuatku sesak nafas saat melihatnya. Dia membuatku terpesona dan dengan suka rela melakukan apapun untuknya. Meskipun marabahaya mengancam setiap saat dengan ancaman terbunuh terus menerus, tapi aku bahagia dengan petualangan yang sedang kami jalani.
Rasa sesak itu kembali melanda saat aku melirik Jenna. Aku menggiring pikiranku pada pemberontakan yang telah menjadi peperangan. Pemberontakan adalah seperti sebuah cerita tiada akhir. Sekuat apapun pondasi sebuah kepemimpinan, akan ada hati-hati yang busuk ingin merebutnya. Jika sudah menyangkut kekuasaan manusia lebih rendah daripada binatang.
Siapa yang akan menang dari pertempuran berdarah itu? Siapa yang berani memberontak keagungan Al Masyriq? Aku menatap Jenna lagi dan keindahan matanya mampu menghentikan pertanyaan-pertanyaan di kepalaku.
Saat ini aku memutuskan tidak ingin tahu menau tentang siapa mereka. Aku menyalakan sebuah bekas perapian yang terlihat telah lama ditinggalkan. Beberapa tumpuk ranting kering masih teronggok di atas bebatuan. Bersama kesulitan yang kami hadapi, masih ada kemudahan yang patut disyukuri.
Di saat yang sama, badai mulai berhenti. Udara menjadi lebih tenang, hujan berkurang dan api yang kubuat melahap ranting-ranting yang kulemparkan. Dari perbekalan kami yang tersisa kami menyeduh teh dari bunga-bunga kering yang dibawa pria tua itu, aromanya yang lembut dan manis mampu mengurangi ketegangan di tubuh dan pikiran.
“Di sana,” katanya lembut. Ia menunjuk sebuah bayangan gunung di kejauhan. “Seharusnya perjalanan selanjutnya lebih mudah, tapi entahlah terkadang manusia lebih sulit dibaca daripada cuaca. Teruslah mengikuti arah angin dan angin akan mengantarkan kita ke gunung itu.”
Aku keluar dari gua, menatap pantulan samar gunung itu yang mulai terlihat seiring badai yang mereda dan melihat sekeliling. Tapi badai masih mengamuk di belakang kami, tepat di langit di atas pertempuran itu. Sedangkan di atas kami, langit mulai cerah.
Ada yang aneh dengan badai itu. “Apakah badai ini dibuat?” tanyaku pada pria tua itu.
Aku tertawa takjub, “ Tapi bagaimana caranya? Sihir?”
“Aku tidak yakin,” pria itu mengangkat bahu. “Tapi terkadang alam cukup membantu. Mereka yang memiliki kemampuan itu memanggil badai untuk membutakan penglihatan musuh. Cara-cara lama untuk mempertahankan wilayah.”
“Apakah kau salah satu dari mereka?”
“Aku bukan siapa-siapa.” Suara pria tua itu melemah, ia tampak kelelahan.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Sudah sejak lama terakhir kali orang yang mengenalku memanggil namaku. Orang-orang yang menjumpaiku hanya memanggilku dengan sebutan-sebutan itu. Aku mungkin butuh beberapa waktu untuk mengingat namaku lagi. Maafkan aku anak muda.”
Pak tua itu meringkuk dan nafasnya dengan cepat terlihat teratur, ia sudah tidur. Meskipun aku ingin menanyainya lebih tapi dari kata-katanya kurasa ia seseorang yang cukup tertutup dengan orang asing.
Kami semua tertidur, aku terbangun setelah beberapa saat merenggangkan kekakuan dari tubuhku. Jenna terlihat masih tertidur, aku melingkarkan lenganku di badannya. Sikunya menyodok perutku. “Teruslah bersikap kurang ajar, aku bersumpah akan mematahkan tanganmu,” desis Jenna.
“Ah kau sudah bangun, kau galak sekali. Kau tidak bisa menyalahkan orang yang sedang tidur. Tubuh bergerak-gerak sendiri.” Aku menarik tanganku, tapi mulutku begitu dekat dengan telinganya.
“Kalau begitu bahkan dalam keadaan tidur pun, tubuhnya sama kurang ajarnya dengan jiwanya yang melayang ke alam mimpi.” Jenna menggerutu.
“Aku sedang memimpikanmu. Dan kau sangat menyenangkan, tidak menjengkelkan seperti ini.”
Ia memutar kepalanya hingga wajah kami sejajar. “Aku melarangmu memimpikanku.”
“Tidak peduli sebanyak apa kau melarangku, aku akan terus membawamu ke alam mimpi di mana aku bisa berbuat apapun sesuka hatiku padamu.” Aku terkekeh.
“Di mimpimu aku sedang apa? Kuharap aku juga menghajarmu di sana.”
Aku semakin mendekatkan wajahku dan dia mundur, “Kau yakin ingin aku menceritakan apa yang kau lakukan di mimpiku?”