Kakiku menginjak rating, sial. Derak suara ranting patah membuat wanita itu berpaling dan menatap jendela tempatku mengintip. Aku bergegas berbalik menembus kabut. Entah siapa wanita itu, kurasa aku sudah membuang-buang waktu sejauh ini.
“Siapapun itu!” teriak pria yang kubuntuti. “Keluar dan hadapi aku! Aku menantangmu. Untuk Al Masyriq, sampai mati.”
Aku bersembunyi di balik pohon yang mengarah kembali ke sungai saat hujan mulai turun lebih deras. Angin bertiup kencang. Melalui badai yang semakin besar, aku hampir tidak bisa melihat pohon-pohon, tapi bahkan dengan angin yang bertiup aku masih bisa mendengar pria itu meneriakkan agar aku muncul.
Entah siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Al Masyriq, tapi yang pasti dia adalah orang penting dari cara pria itu berbicara dengannya. “Tunjukkan dirimu atau kau memang pengecut!”
Arogansiku hampir tidak bisa mengabaikan kata-katanya yang menyebutku pengecut. “Kau b******n bodoh! Kau ….” umpatannya terputus di kedalaman kabut. Aku tidak bisa melihat pria yang menjadi pengikut setia musuh bebuyutanku, tapi aku mendengar bunyi seseorang meraung.
Aku melesat ke air terjun, meluncur menuruninya dengan berpegangan pada bebatuan dan kuda itu masih di sana. Dalam kegelapan dengan angin badai yang mendorong air masuk ke gua itu aku memaksa kuda itu untuk berbelok menuju terowongan.
Aku membuka pintu hingga terbuka lebar dan menarik kuda itu naik ke atas menaiki tangganya yang semakin licin karena hujan badai. Dalam keadaan seperti ini p*********n itu belum juga berakhir. Api yang berkobar di beberapa bagian benteng telah padam.
Kurasa akan lebih banyak rahasia yang akan terungkap tentang Al Masyriq, tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan siapa wanita itu. Aku mendengar kertakan semakin keras dan mayat-mayat prajurit berhamburan dari atas benteng. Aroma darah sangat menyengat, banjir dengan genangan air sewarna darah.
Beban ketakutan atas apa yang mungkin terjadi pada kemah yang kami dirikan tak jauh dari sini mengusik dalam hatiku, Jenna. Aku belum pernah seperti ini sebelumnya, fokusku terganggu. Kusingkirkan pikiran itu dan tidak akan membiarkan perempuan menjadi sebab kehancuranku.
Pria yang mati di medan perang akan menjadi sangat terhormat tapi jika wanita yang menjadi penyebabnya, itu akan sangat memalukan. Aku melesat melewati kekacauan tanpa menghiraukan apa yang mungkin menantiku di sana.
Aku membeku di ambang gerbang yang terbuka sebagian, jantungku berdebar kencang. Badai masih mengaburkan pandangan dan aku bersyukur dentingan pedang beradu juga masih terus terdengar. Itu artinya aku hanya membutuhkan kecepatan untuk keluar dari kekacauan ini.
Aku kembali ke tempat terakhir kali aku meninggalkan rombonganku. Sebuah ceruk di tebing batu yang cukup untuk tempat kami berempat meringkuk. Langit masih redup dengan badai yang belum juga berhenti, kurasa ini sudah pagi. Perapian yang kubuat tepat di mulut ceruk itu telah padam karena angin yang mendorong air masuk ke dalam.
Dan perapian baru dibuat tepat di tengah. Mereka bertiga beringsut di dinding terdalam. “Jenn.” Aku menariknya dalam pelukanku yang seolah-olah ingin meremukkannya. Wajahku tenggelam di rambutnya, menghirup aroma manisnya dan merasakan tekanan dari penolakannya.
Jenna mendorongku ke belakang, mengamatiku dengan rasa tidak percaya. “Aku tidak mengerti,” kata Jenna dengan cemberut. Aku tidak pernah merasa lega seperti ini dan alih-alih menjawab pertanyaannya aku tersenyum kurang ajar.
“Kau sudah gila!” Ia berjongkok di depan perapian, sebagian pakaiannya basah karena pelukanku. Aku terkekeh, Mercy terlihat muak dengan kelakuanku dan pria tua itu tidak memperlihatkan ekspresi apapun. “Tidak diragukan lagi.” Jenna menggerutu.
Mungkin aku memang mencintai Jenna. Kenyataan memaksaku menghadapi perasaan seperti ini, menjadikanku tak berdaya. Semua usaha untuk menghapus kelemahan hati manusia tampaknya mustahil.
“Kita punya lebih banyak masalah sekarang,” kataku, duduk di antar Jenna dan pria tua itu. Aku mengibaskan rambutku yang basah dan Jenna mendesis.
“Apa itu?” tanya pria tua itu, kepalanya yang menunduk terangkat, namun tudungnya yang tak pernah lepas dari kepalanya tetap menyembunyikan sebagian wajahnya.
“Pemberontakan, kurasa.”
Pak tua itu tidak mengatakan apa-apa, hanya mencengkeram gagang tongkatnya lebih kuat hingga buku-buku jarinya yang keriput, mengencang. Ceruk tempat kami berlindung terasa bergetar dengan badai yang semakin besar.
“Kau tahu sesuatu yang tidak kuketahui? Apakah kita harus pergi sekarang?” tanyaku pada pria itu.
“Badai akan datang semakin memburuk,” jawabnya.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku sudah hidup terlalu lama, telah melewati berbagai macam badai dan mempelajarinya. Jadi aku mengerti bagaimana cuaca mengamuk.”
“Sial,” umpatku. “Berapa lama?”
“Tidak cukup panjang,” jawabnya.
Pemberontakan yang berlangsung di benteng merupakan satu-satunya harapan kami lolos dari penjagaan perbatasan. Tapi badai ini membuat masalah semakin berlapis. Kami menunggu, dan membuktikan apa yang diramalkan pria itu benar terjadi. Setelah memakan perbekalan, kami mengemasi barang-barang kami dan bersiap melanjutkan perjalanan sebelum badai yang lain datang.
Tetapi hiruk pikuk pertempuran belum mereda. Raungan berubah menjadi jeritan kesakitan. Kami mengikuti pria tua itu. Entah bagaimana dinding benteng itu telah roboh sebagian. Aku bisa melihat bentuk-bentuk manusia yang saling bertarung dengan pedang mereka.
Kami berjalan mengendap, menempel di dinding batu yang menyatu dengan warna jubah kami. Peperangan sudah tidak semencekam sebelumnya, namun suara-suara sisa-sisa prajurit yang bertarung masih beberapa kali terdengar. Aku memperhatikan Jenna, tak ada ketakutan dalam dirinya. Sebagian rambutnya lolos dari tudungnya, mengibas-ngibas di wajahnya.
Kami berhasil melewati tembok perbatasan yang roboh. Mayat-mayat bergelimpangan dengan pemandangan darah yang merubah warna air hujan. Pria tua itu masih memimpin di depan dengan Mercy di belakangnya. Aku terus mengimbangi langkah kaki Jenna. “Satu masalah terlewati,” ucapku saat kami telah berjalan jauh melewati sisa-sisa peperangan.
“Kau sadar? Kita dalam masalah besar jika badai ini berlangsung lebih lama lagi?” Jenna memandangku kesal.
“Kau akan baik-baik saja,” kataku. “Aku dengan senang hati akan menghangatkanmu.” Daguku menempel di bahunya.
Dia mendorong dadaku. Aku semakin mendekat dan meraih tangannya. Jenna menarik tangannya yang membeku dan melotot. Langit bergemuruh dengan dentuman trebuchet milik pemberontak yang masih terus meluluh lantakkan benteng.
Aku menarik Jenna dalam pelukanku lagi, Mercy dan pria tua itu menengok ke arah suara itu berasal. “Lepaskan aku kau Pangeran gila!” desis Jenna. Aku sempat melihat pria tua itu mendongak ke arahku namun dengan cepat menunduk kembali. Aku merasakan dia memiliki rahasia yang sangat dalam dan mungkin sesuatu yang gelap.
“Oh maaf, aku sedang terkejut,” aku terkekeh. “Aku hanya berusaha membuatmu aman. Aku bersumpah.” Aku tertawa dengan kegembiraan yang aneh memancar dari diriku dan merasa lebih hidup dengan Jenna ada di dekatku.
Aku menengok ke belakang dan memperkirakan peperangan itu akan segera berakhir dan kami harus bergerak lebih cepat. Pria itu tiba-tiba berhenti dan terdiam.