25

1011 Kata
Aku berbalik, seorang prajurit dengan keringat bercucuran menetes dari dagunya menegurku. “Aku … aku sedang berjaga.” Dia menampar helmku hingga telingaku berdengung. “Kau ini d***u atau bagaimana? Kami sedang beradu nyawa dan kau … pengecut, bersembunyi di sini?” Ingin sekali kupisahkan kepalanya dari lehernya. Urung kulakukan karena dia berlari menuju pos di tengah untuk melapor. Raja Zuchri, sudah pasti ini dia. Aku harus bergerak cepat dan menemukan di mana terowongan itu berujung.  Jika dia berpindah tempat lagi, entah harus berapa lama lagi aku menghabiskan tahun-tahun dalam ketidakpastian akan keberadaannya. Terkadang aku ragu apakah dia benar-benar masih hidup.  Lama-lama dia hanya terdengar seperti sebuah legenda yang diceritakan keagungannya dari mulut ke mulut. Mungkin saja para pengikut setianya membuat seolah-olah dia masih hidup dan berjaya untuk mencegah pemberontakan atau semacamnya.  Dan p*********n malam ini kurasa hanya sebuah pancingan atau mungkin hanya untuk mengalihkan perhatian. Aku sekarang mulai gelisah berdiri di ujung kegelapan benteng, sedangkan p*********n masih berkecamuk.  Bagaimana dengan Jennaku yang memesona? Godaan yang memikat. Aku mengenyahkan teror Jenna dalam pikiranku. Semua prajurit yang berjaga di pos dekat pintu rahasia itu telah pergi menyusul teman-teman mereka yang berjuang mempertahankan benteng.  Kukira ini akan mudah, tapi nyatanya tidak. Butuh tenaga ekstra untuk menggeser pot itu dan membuka pintunya yang berat. Oh sial, sebuah gembok tertutup lapisan rumput. Aku harus menahan kakiku untuk tidak menendang gemboknya dan menimbulkan suara gaduh. Di antara pintu dan kusen, mataku mencoba melihat apa yang ada di bawah sana. Aku tidak melihat apapun, gelap gulita. Membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk membuka gemboknya yang dibuat khusus agar tidak mudah dirusak. Dalam praktiknya, keahlian yang sudah kupelajari sejak lama benar harus diperbaharui mengikuti perkembangan.  Dibutuhkan ketenangan dan kemantapan, setiap upayaku mengalami kegagalan dan itu membuatku semakin gelisah. Sekali lagi aku bernafas teratur dan menggunakan besi khusus untuk merusak gembok yang tersembunyi dalam ikat pinggangku.  Sulit sekali untuk tenang dengan mataku yang terus-terusan waspada. Panah-panah api masih terus berterbangan yang sesekali jatuh di dekatku. Sebagian besar benteng sudah terbakar. Sekali lagi, aku menggoyangkan gembok,memutar besi dan gembok itu terbuka.  Tanganku memegangi pintu itu dan perlahan menuruni anak tangganya yang curam. Aku menahan pintu itu hingga tertutup dengan sempurna. Untuk sesaat aku berdiam dalam kegelapan yang pekat, hening. Kukeluarkan belatiku yang bersinar dalam kegelapan dari sarungnya.  Telingaku mencoba melacak keberadaan penunggang kuda itu dengan menempelkannya di tanah. Tak ada suara dentuman tapal kuda, kurasa ini bukan sebuah terowongan panjang. Hanya sebuah pintu keluar rahasia dari dalam benteng yang sudah dikepung musuh.  Aku berlari dalam terowongan yang engap, rasanya seperti hampir kehabisan nafas. Terowongan ini cukup panjang dan semakin lama semakin menanjak. Kuharap ini bukan terowongan tak berujung, kakiku sudah mulai terseok. Beberapa saat yang menggetarkan hati berlalu saat udara sejuk mulai menerpa dengan suara desir air.  Terowongan itu sekarang mulai menurun dan air sebatas mata kaki dengan dasar berbatu. Gerombolan ikan berlompatan menjauhi sepatu botku dan kegelapan mulai memudar. Aku berhenti dan bersandar di dinding untuk merasakan jika ada orang yang mendekat.  Gua yang ditutup dengan derasnya air terjun itu hanya berisikan bebatuan dan kuda yang terkesiap dengan kehadiran orang asing di dekatnya. Aku berputar mengelilingi tempat itu dan tidak menemukan apapun. Hari masih gelap dan angin berhembus cukup kuat membuat rambutku berlarian ke mataku.  Sulit memperkirakan seberapa ganasnya sungai di bawah air terjun ini dalam keadaan gelap. Hanya sedikit cahaya bintang yang menembus awan. Tapi ini adalah sebuah jalur yang dibuat dan sudah pasti tingkat keselamatannya tentu sudah diperhitungkan dengan cermat. Aku mencoba untuk menghilangkan pikiran tentang Jenna yang mungkin akan mengambil kesempatan lari dariku. Dan berusaha yakin akan kesetiaan Mercy yang kuserahi tanggung jawab memastikan Jenna tidak kabur.  Sejauh apapun ia lari, mantra itu akan membuatnya kembali pada Al Maghribi, kecuali jika dia dikurung di kastil sihir seperti waktu itu. Ingatan tentang Hutan Terlarang berkelibat, Jenna meminta mereka mencariku.  Jika dia tidak menginginkanku, untuk apa dia melakukan itu. Aku merasakan kebahagiaan liar yang tumbuh tak terkendali yang menguji kesungguhanku dalam menjalankan misi kerajaan. Tapi aku tidak cukup bodoh untuk menyerah pada cinta dan keadaan. Aku meluncur di mulut goa yang licin, menarik nafas dalam untuk menahan dinginnya air sungai yang mulai memasuki musim dingin. Sensasi bekunya naik sampai ke ubun-ubun. Air terjun itu menghempaskan ku ke dalam pusaran air.  Nafasku tertahan di paru-paru. Akar pohon besar yang berhadapan di sisi kanan-kiri tepi sungai seperti disengaja dibuat untuk menyelamatkan apapun yang keluar dari mulut goa. Aku berpegangan sejenak untuk menentukan arah.  Rerumputan di sisi kanan terlihat lebih basah dari hanya sekedar embun malam dan tampak rusak terinjak. Tanganku yang hampir mati rasa karena dinginnya air sungai mencoba meraih tepian sungai.  Tubuhku merangkak dan berguling di atas rerumputan, mengatur nafas. Sejenak memberikan kesempatan untuk otot-ototku yang membeku melemas dengan memikirkan betapa aku menginginkan Jenna Jiwa dan raganya.  Pikiran itu menciptakan efek menenangkan dan mampu melemaskan kekakuan. Aku bangkit menyusuri jejak yang ditinggalkan pria itu yang semakin lama semakin memasuki hutan. Jejak itu menuntunku ke sebuah rumah sederhana tanpa penjagaan.  Cerobong asapnya mengepul, aku bergegas menuju dinding bata di bawah cerobong untuk mencari kehangatan. Kutempelkan punggung dan dua telapak tanganku, jantungku yang membeku rasanya mulai mencair.  Cahaya menyusup dari celah-celah yang ada di jendela, samar-samar suara percakapan lirih terdengar. Aku mengintip dari celah itu, hanya seorang wanita tua duduk di kursi goyang, jauh dari harapanku bahwa yang mungkin tinggal di sini adalah Raja Zuchri yang bersembunyi.  Pria yang kuikuti jejaknya terbungkus selimut tebal duduk di depan perapian menyeruput minuman yang masih mengepulkan asap. Di bagian sisi kanan wajah wanita itu terlihat luka bakar dari tulang pipi hingga ke dagu.  "Ini adalah tugas saya, dan saya senang bisa melayani," ucap pria itu dengan membungkuk di kursinya.  "Aku tidak akan meragukanmu," sahut wanita tua itu. "Aku tidak akan menahanmu lebih lama. Aku yakin kau harus mempersiapkan semuanya."  "Sudah," kata pria itu. "Mereka mengatakan bahwa hal-hal buruk akan terjadi di tanah airmu Yang Mulia, maafkan aku." Ia meremas-remas tangannya. "Yah, setidaknya aku tidak akan tinggal lebih lama lagi." Wanita itu tersenyum dengan mata tertutup.  "Saya berharap Anda tidak harus pergi." "Setidaknya aku akan melihat tempat baru," ucap wanita itu masih dengan mata tertutup. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN