"Saya tahu. Tindakanku tidak benar, tapi apakah perlu kita saling bertarung Tuan, hanya demi kotak itu. Kurasa nyawa kita harganya lebih mahal ketimbang isi kotak itu yang masih bisa dicari lagi. Bagaimana jika kita berdamai saja?" Djong tersenyum. Kata-kata itu memantik amarah si tabib, "Kau bilang apa? Kau menyamakan derajatku dengan pencuri rendahan sepertimu dengan kata 'kita' hah? Betul jika nyawaku mahal karena banyak nyawa tergantung padaku, tapi siapa kau, mulutmu lancang!" Tangan kirinya masih belum melepas cengkraman kuat di pergelangan Djong. "Desss …!" Siku kanan si tabib menghantam rahan Djong. Lalu tangan itu ganti bergerak cepat menuju pundak. Saat ia akan menusukkan jari telunjuk dan jari tengah di pundak dekat leher, Djong dengan cepat menggeser kaki kirinya dan menund

