Memacu kuda dengan tergesa-gesa, Djong bergerak melalui hutan, arahnya ke selatan. Tubuhnya tidak seperti biasanya. Sementara dia terbiasa bangun di malam hari, kini kurang tidur mengganggunya. Belum lagi, jantungnya berdegup kencang saat memikirkan cangkir yang telah dibuatkan oleh pejabat itu untuk dia minum. Meskipun pagi itu dingin, dia bisa merasakan butiran keringat terbentuk di alisnya. Jalanan menjadi penuh sesak dengan para buruh yang keluar dari daerah pedalaman di luar area pelabuhan, dari Selatan untuk bekerja sebagai buruh harian di dermaga. Djong kurang fokus berkuda, mengundang teriakan dari pejalan kaki yang marah di sepanjang jalan. Arus orang berkurang begitu ia meninggalkan jalan-jalan utama. Dengan terhuyung-huyung, Djong menuju ke bagian yang lebih miskin dari desa

