"Pangeran Benyamin," kata Mercy. Nada suaranya terdengar getir.
Dia tidak punya sopan santun, tapi tidak ada salahnya mendengarkannya, aku ingin tahu segalanya. Dia memberitahuku tentang ramuan untuk mengobati luka bakar yang ditimbulkan ludah neneknya.
Meskipun ia sudah menunjukkan kesungguhannya tunduk di bawah Al Maghrib namun aku tetap berhati-hati dengan motif Mercy, bisa saja penawar itu justru merupakan racun yang mematikan dengan sekali oles.
Aku mendengar banyak cerita tentang para penyihir yang kebanyakan suka berkhianat. Bilah pedangku menempel di pangkal lehernya, siap menebasnya jika hal yang buruk terjadi.
Mercy menarik lengan bajunya dan memperlihatkan tato ular putih yang terpahat indah. Eh, bukan ular, ini lebih mirip seperti belut. Aku belum pernah melihatnya di dunia nyata. Perlahan warnanya semakin terang dan tato itu hidup.
Ia tampak terhanyut dengan mantranya, matanya seperti menerawang jauh. Aku bahkan bernafas dengan sangat perlahan agar tidak mengganggu momen itu.
Kemudian matanya berkedip dengan cepat, kembali menatapku dan tersenyum. Namun itu jelas merupakan topeng penyihir, pamer akan kemampuan penyembuhannya.
Jenna masih tergeletak di atas meja, kepalanya miring untuk bisa melihat apa yang terjadi. Jemari Mercy mengusap dengan sangat perlahan rahangku yang mulai ditumbuhi bulu, lalu mendekati luka bakar di pipiku dan mengoleskan cairan yang hampir berbau mirip minyak zaitun.
Belut putih itu berjalan dari lengannya menuju pipiku dan menghisap luka itu hingga tidak terasa lagi sensasi terbakarnya. Tato itu Kemudian kembali menempel di lengannya.
Tangan Mercy masih menempel di rahangku, perlahan menarik wajahku mendekati wajahnya. “Kurasa kau sudah selesai, singkirkan tanganmu dari wajahku.”
Tawa kecil Jenna membuat meja tua itu bergetar. “Pangeran, bahkan kau belum mengucapkan terima kasih karena luka itu sudah tidak tersisa,” ucap Mercy bersungut-sungut.
“Kau tidak tahu diri. Jangan lupa, nenekmu yang telah melukaiku.”
Tawa Jenna semakin menjadi, Mercy menendang kaki meja dan membuatnya patah. Suara gemeretak dan berdebum diikuti debu tipis beterbangan membuat Jenna terbatuk. Mercy tampak sedih sekaligus terhina, matanya menerawang jauh dan aku tidak berani merusak momen itu. Jenna bersusah payah bangkit untuk duduk.
“Baiklah,” kata Mercy. Ia berkedip, kembali menatapku dan tersenyum. Namun jelas itu merupakan topeng, aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan. “Pangeran, kurasa kita harus mengunjungi seseorang yang sangat tua dan sangat penting.”
“Seorang penyihir juga?” tanyaku. “Bagaimana dia bisa membawa keberuntungan padaku?”
“Ya, tapi dia berbeda dengan kami. Dia diberkati dengan penglihatan akan sesuatu yang tersembunyi. Pedang Ekor Naga ... dia memberitahu kami di hari kau kembali ke istanamu dan apa yang kau bawa.”
“Dia tahu itu? Tapi dia bukan bagian dari kastil b****k ini, bagaimana kau bisa meminta bantuannya dengan suka rela?”
“Dulu dia yang datang kepada nenek dengan sebuah timbal balik, ia menginginkan sebidang tanah yang masih termasuk dalam wilayah kastil untuk ditukar dengan informasinya. Dengan pesona alamiku sebagai penyihir, hanya masalah waktu sebelum aku bisa membujuknya bergabung denganku. Dulunya ia selalu bersitegang dengan nenekku dan akhirnya pergi mengasingkan diri.”
Aku ingat hari itu, di mana kedua pedang itu baru saja berpindah ke tanganku tanpa siapa pun yang tahu kecuali ayahku sendiri dan tiba-tiba Jenna sudah ada di kamarku untuk mencuri. Kemampuan orang itu cukup menjanjikan untuk bisa membantuku menemukan Raja Zuchri.
“Keanehan lain apa yang dia miliki?” tanyaku.
“Dia bersama hantu.” Matanya berkedip dengan secercah rasa takut melintas di wajahnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam. “Mereka seperti berteman karib. Makhluk itu yang membantunya dengan penglihatan itu.”
“Baiklah, waktunya kembali memburu Raja Zuchri.”
Mercy mengangguk dan menyingkir dari pintu. Kemudian langkah kakinya yang lembut dan percaya diri menjauh untuk menyiapkan perbekalan karena ia tak menemukan seorang pun di kastil untuk menjadi pesuruhnya.
Para penyihir selalu identik dengan kisah kemustahilan yang luar biasa. Dan kecerdasan Mercy patut diperhitungkan. Ia menjanjikan masa depan yang menimbulkan ketegangan dalam diriku, musuh yang tak nampak dan bahkan aku tak tahu kelemahan raja tua itu.
Namun kekhawatiranku yang paling mendesak adalah tentang seberapa cepat aku akan melihatnya lagi dan apakah akan ada kesempatan bagiku untuk tidak bernasib sama dengan saudara laki-lakiku yang terbunuh saat melawannya.
Ayah akan meragukanku, dia mengawasiku dengan antisipasi. Ketamakannya telah membuat beberapa delapan saudara laki-lakiku terbunuh. Aku harus menggunakan kebebasanku yang terbatas untuk menemukan lebih banyak rahasia tentang Raja Zuchri yang misterius.
“Kalian berdua tidak memiliki hati nurani dengan membiarkanku terikat seperti ini.” Jenna menatapku, tatapannya penuh kebencian sehingga aku harus mengalihkan pandanganku. Dibenci oleh wanita yang kau inginkan sungguh situasi yang menjengkelkan sekaligus rumit.
Aku tidak tahu apa yang memicu kebenciannya yang meledak-ledak, bukannya dia yang telah memberiku banyak masalah. “Kau bilang aku tidak punya hati nurani? Baiklah, aku ingin mendiskusikan ikatan itu.”
Kakiku berjongkok sangat dekat dengannya, berharap menghirup aroma wanginya yang sudah sangat kukenal namun yang ada hanya bau kayu lapuk dan rayap dari meja yang hancur.
Wajahku menunduk untuk mensejajarkan dengan miliknya, hembusan pelan dari nafasnya yang sedikit tertahan menyegarkan wajahku. Kebencian di matanya membuatku hampir membenci diriku sendiri.
Dia bisa saja meludahi wajahku atau membenturkan kepalanya ke hidungku sebagai upaya balas dendam tapi Jenna diam menunggu kalimatku.
"Dan aku minta maaf untuk itu. Aku telah melihat apa yang bisa dilakukan kedua tanganmu jika terbebas. Kecuali jika kau mau berjanji Jenna."
Dia memundurkan kepalanya, "Seperti ini kah caramu berdiskusi dengan seorang wanita, istanamu mengajarkan sopan santun bukan? Beri aku sedikit ruang! Aku muak melihat wajahmu sedekat ini."
"Benarkah?" tanyaku dalam suara yang eksotis dan serak.
Rasa jengkel bergumul di dadaku, belum pernah ada yang berani berkata seperti itu. Tak ada yang meragukan ketampananku, tapi Jenna berhasil membuatku tidak percaya diri.
"Jenna …."
Untuk sesaat keadaan menjadi membeku dan sunyi. Aku bingung menentukan kemana arah pembicaraan akan berakhir.
"Jenna …." Untuk kedua kalinya aku menyebut namanya, "Kenapa kau membenciku? Bukankah seharusnya aku yang membencimu karena telah menumbuhkan ratusan bisul dan mencuri pedangku."
"Bagaimana tidak, kalian … pendahulumu, darah mereka yang mengalir dalam darahmu telah mengirim orangtuaku ke alam baka." Suaranya sendu dan datar seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri.
Tapi gaya bahasanya seperti nenek-nenek; berbelit-belit dan penuh penekanan. Aku mundur sejengkal untuk melihat wajahnya seutuhnya.
Untuk sesaat terlintas dalam pikiranku bahwa mungkin saja dia seorang penyihir nenek-nenek yang merapal mantra untuk mengaburkan pandanganku sehingga melihatnya sebagai seorang yang cantik jelita.
Matanya berat dan sedih dengan pantulan bayanganku yang terlihat seperti pria sempurna yang sedang patah hati.
"Kau tidak akan melepaskanku?" Dia mendengus. Aromanya seperti udara segar yang menerpa wajahku.