Aku masih menahan lidahku saat ini, menunggu selanjutnya.
Mercy menarik lengan Jenna, "Ayo Jenna sayang," geramnya. "Kecantikanmu ini tidak akan lagi dikagumi semua orang." Belati Mercy hampir menggores wajah Jenna.
"Lepaskan dia." Bentakanku, membuatnya berjingkat dan belati itu terlempar berdenting jatuh ke lantai.
"Kau akan kehilangan kesempatan bersekutu denganku jika berani melukainya. Dia sudah menjadi bagian dari Pedang Al Maghribi."
Mercy bergegas untuk menurut, terlihat jelas bahwa dia benar-benar ingin berada di bawah naungan Al Maghrib. Dan Jenna terlihat benci bertemu denganku lagi.
"Lanjutkan Mercy, kau akan menyesal membiarkanku hidup. Aku akan menyebabkan malapetaka." Jenna mengangguk muram.
"Dia tidak akan melakukan perintahmu. Dan aku cenderung tidak akan membunuh mereka yang masih berguna," sahutku.
Aku bisa melihat kecerdasan yang gelap dan rakus dari balik mata Mercy. Ia tersenyum dan mendekatiku.
"Bagaimana Anda bisa merendahkan diri dengan menyamar menjadi pencari kerja, Pangeran? Sepertinya kita memang berjodoh." Matanya memandangku penuh dengan rayuan murahan dan sopan santun dasar khas wanita bangsawan.
Jenna mengumpat, "Kalian akan sangat cocok jika bersama, yang satu iblis jantan dan yang satunya lagi iblis betina."
Aku melewati kekacauan yang ditimbulkan karena perkelahian Mercy dan Rose, berlutut di hadapan Jenna, "Apa kabarmu pembuat onar? Aku benar-benar merindukanmu." Ia memalingkan wajahnya enggan memandangku.
Kedua tanganku menangkup pipinya agar tetap menghadapku, "Ayo lanjutkan sumpah serapahmu, Jenna! Aku akan dengan senang hati menggigit lidahmu yang tidak tahu diri itu."
"Pangeran Ben, sepertinya kita perlu membicarakan tentang persekutuan." Kata-kata Mercy sedikit menyadarkanku dari pesona Jenna.
"Pergilah, kumpulkan orang-orangmu yang mau tunduk di bawah pemimpin baru, Ratu Mercy." Aku berbicara dengan memandang Jenna yang terus meronta.
Suara langkah kaki Mercy belum juga terdengar. "Apa kau tuli?" Aku menengok kebelakang dan mendapati wajahnya yang menatap Jenna penuh kebencian.
Akhirnya ia menghentakkan kakinya dan pergi. Jenna sangat menjengkelkan dengan sikapnya yang terus mengacuhkanku.
Dalam keadaan terpojok seperti ini aku bisa melakukan apapun padanya. Terlintas perbuatan paling rendah sebagai lelaki yang menginginkan wanita tapi aku tidak mungkin melakukannya.
Ada banyak wanita yang berharap kusentuh, kenapa harus memaksanya yang jual mahal? Aku sangat kesal dan mendorongnya hingga terjungkal.
Jenna mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai batu, itu mengganggu kosentrasiku mengamati penjara bawah tanah milik kastil penyihir.
Tempat ini sepertinya sudah lama tidak digunakan, aromanya sangat lembab dengan lumut yang tebal. Aku memutuskan untuk mencari tempat yang lebih nyaman.
Sulit menyeimbangkan kakiku di tangga yang sempit dan berlumut dengan Jenna yang terus meronta di pundakku.
Setelah mencapai puncak tangga dan membuka pintu kayu yang berat dan macet, akhirnya sebuah koridor yang tadi kulewati dengan beberapa pintu yang memiliki bentuk berbeda-beda.
Sebuah pintu yang terlihat paling bagus, tidak keropos seperti yang lain menjadi pilihanku. Saat melewati ambang pintu, aku menyadari bahwa aku keliru. Ini bukan sebuah kamar tidur, tapi semacam ruang penyimpanan ramuan sihir dan racun.
Di dindingnya ada rak yang memajang berbagai botol dengan berbagai macam warna. Aku mendudukkan Jenna di atas meja besar yang tua dan lapuk.
Lembut dan cantik, wajah Jenna tertutupi beberapa helai rambut hitam keperakannya. Ia mengerjap-ngerjap dan menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan rambut di wajahnya.
Tangannya masih terikat ke belakang. Ia melirikku dan matanya bercahaya dengan sinar kebencian. Wajahnya sangat masam dengan kepedihan menghiasinya, membuat hatiku serasa ikut hancur.
Dia memberiku cemoohan dan komentar berduri saat aku dengan sangat perlahan menyibak rambut yang mengganggu wajahnya.
Aku nyaris tisak bisa menahan diri dan menghindari tatapannya untuk membetulkan ikatan rambutnya yang mengendur.
Sementara itu pikiran tidak bisa berhenti memiliki wanita cantik di hadapanku dan memikirkan apa yang bisa membuatnya peduli padaku, tapi rasanya mustahil.
Sangat dekat dengannya seperti ini membuatku kepanasan di kastil yang beku. Aku mencoba menghibur diri dengan memperhatikan setiap inci dari Jenna, bagaimana bulu mata lebat dan lentikya berkedip setiap beberapa detik.
Tapi aku tidak bisa menikmati keindahan cahaya di matanya dengan kesedihan yang terpancar sampai ke dasarnya. Buang-buang waktu, tidak biasanya aku seperti ini.
Para pria yang sedang menjalankan misi kerajaan biasa menganggap wanita sebagai pembawa sial. Sekarang aku tahu mengapa mereka beranggapan seperti itu.
Para wanita yang terlihat lemah bahkan bisa menyesatkan jalan pikiran pria sehebat apapun itu. Jika aku tidak pernah melihatnya lagi, bagaimana aku bisa kembali ke jalanku yang biasa kutempuh sebelum bertemu dengannya?
Aku tidak mendengar siapapun mendekat di sepanjang koridor, kurasa Mercy belum akan kembali dalam waktu cepat. Berlama-lama satu ruangan dengan Jenna membuat pikiranku kacau lagi dan menyadari ini adalah sebuah kesempatan untuk menaklukkannya.
"Beri aku ramuan yang tepat, dan aku akan melepaskan ikatanmu," bisikku sangat pelan di telinganya. Nafasku yang memburu membuat rambut yang menutupi telinganya tersibak.
Ia bergidik pelan, kulitnya yang pucat dan halus terlihat kasar dengan bulu roma yang berdiri. Kepalanya condong ke kiri untuk memberi jarak antara bibirku dan telinganya.
Akhirnya ia berkata dengan susah payah lehernya menelan ludah, "Ramuan apa yang kau maksud?"
Kedua tanganku bertumpu pada tepi meja, mencoba menahan diriku untuk tidak menyentuhnya, namun seperti magnet tubuhku terus condong mengikutinya yang terus menghindariku.
Aku tersenyum liar, dan dia semakin pucat. "Sesuatu yang bisa membuatku tenang." Ada tawa kecil dalam suaraku yang mengejekku bahwa aku bisa di titik selemah ini.
"Tenang seperti apa? Seperti candu maksudmu?" Pinggangnya menegang, berhenti melengkung ke belakang saat ia hampir hilang keseimbangan.
Lututnya saling berjauhan menghindari tekanan dari perutku yang ikut menegang. Hidungku sudah hampir menempel di rahangnya, "Yang lebih baik dari itu."
Lehernya menegang, terlihat jenjang dan sangat indah dihiasi helaian rambutnya yang sangat lembut. Aroma manis di kulitnya menguar karena nafasku yang hangat di lehernya.
"Kau seorang penyihir wanita licik," gumamku. "Apakah kau merapalkan mantra pemikatmu padaku? Jenna, sekali bertemu denganmu, wajahmu sulit dilupakan. Menghantui ingatanku."
"Itu tidak benar." Punggungnya akhirnya ambruk ke atas meja, meringis kesakitan dengan tanggannya tertindih terikat di bawah pinggangnya.
"Aku bahkan tidak bisa mengingat semua rasa sakit yang kau timbulkan dengan mantramu itu, bisul-bisul yang melepuh. Seharusnya aku menghukummu, tapi itu sulit karena kau sudah menjadi sesuatu yang berharga."
Kedua tanganku melawan daya tahanku berpindah dari tepi meja ke sisi kanan-kiri kepalanya yang miring ke kanan terus menghindari tatapanku.
"Itu tidak masuk akal," jawabnya. Titik air keringat muncul di dahinya dan panas dari tubuhku yang menghimpitnya mulai membuatnya kesulitan bernafas.
Jenna melirik ke atas bahuku, dari matanya yang jernih aku bisa melihat pagian pintu paling atas terbuka. Telingaku menjadi tuli, terkuras oleh setiap hembusan nafasnya yang seperti nyanyian.